Jelang Halving, Harga Bitcoin Bakal Terus Melambung

JAKARTA—Harga aset mata uang kripto Bitcoin pada akhir pekan pertama Mei 2020 tercatat mencapai Rp150 juta per koin (kurs Rp15.000). Angka ini disebut merupakan level tertinggi sejak Agustus 2019 silam.

CEO perusahaan berbasis teknologi yang mempertemukan penjual dan pembeli aset digital terbesar di Indonesia Indodax, Oscar Darmawan, mengungkapkan, hal ini menandakan bahwa tren kenaikan harga atau bullish pada aset tersebut sudah dimulai, seperti yang diramalkan sebelumnya.

“Dalam beberapa bulan ke depan, bitcoin berpotensi mengalami kenaikan harga secara terus menerus atau tren bullish. Saya sependapat dengan para analisis dari Amerika Serikat, seperti yang dikutip dari Bloomberg dan media lainnya bahwa bitcoin akan mengalami tren bullish pada tahun ini,” kata Oscar di Jakarta, Sabtu 9 Mei 2020.

Menurut Oscar faktor yang meningkatkan harga bitcoin di antaranya adalah peralihan investor atau trader dari ekuitas atau saham. Para pemain saham dan ekuitas di seluruh dunia kompak dan secara masif beralih ke Bitcoin. Hal ini karena pasar ekuitas di seluruh dunia masih belum menunjukkan pemulihan karena wabah COVID-19.

“Kenaikan harga belakangan dimanfaatkan oleh mereka yang selama ini berinvestasi di saham atau bahkan produk lain untuk ikut bertransaksi di perdagangan kripto. Karena bitcoin terbukti tidak mempan diterjang resesi ekonomi corona karena statusnya sebagai safe haven aset class teruji kembali,” katanya.

Disebutkan, dua bulan lalu, harga bitcoin sempat menyentuh Rp 70 jutaan. Sebelum menanjak ke Rp 150 juta, harga bitcoin sudah menunjukkan tren kenaikan harga dan sempat lama bertahan di sekitar Rp 100- 110 juta pada April 2020.

“Bitcoin mengalami tren kenaikan harga di saat produk investasi lain masih belum menunjukkan pemulihan, bahkan hingga saat ini,” lanjutnya.

Selain itu, melambungnya harga Bitcoin disebabkan dengan adanya rencana halving yang akan terjadi pada 12 Mei 2020. Bahkan ada ramalan harga bitcoin bisa menyentuh USD 15.000-USD 20.000 per 1 Bitcoin di akhir 2020.

Halving merupakan proses di mana pendapatan berupa Bitcoin yang diperoleh penambang dari proses mengurai algoritma matematika guna melakukan verifikasi transaksi pada Bitcoin blockchain berkurang setengahnya. Saat ini penambang mendapatkan imbalan 12,5 BTC per blok, sedangkan setelah halving akan turun menjadi 6,25 BTC per blok.

Proses halving terjadi setiap 210,000 blok atau kurang lebih setiap empat tahun sekali dan sudah dituliskan dalam kode pemrograman yang mendasari Bitcoin dengan tujuan untuk menjaga laju inflasi. Proses ini akan mengurangi pasokan Bitcoin yang masuk ke pasar sehingga harga cenderung akan terdongkrak.

“Ini merupakan halving yang ketiga sejak Bitcoin dibuat lebih dari satu dekade yang lalu. Jika melihat tren, proses halving kemungkinan besar akan mendongkrak harga Bitcoin karena proses penambahan suplai di pasar dari penambang akan berkurang setengahnya,” ungkap CEO Pintu Jeth Soetoyo dalam keterangan resminya Sabtu lalu.

Sementara itu, CEO Triv Gabriel Rey menyarankan, para pemilik Bitcoin alias holder terus melakukan akumulasi dan menjualnya ketika mencapai all time high (ATH).

“Banyak opini publik yang mengatakan, bahwa setelah Bitcoin halving, harga Bitcoin  akan dump. Ketika itu terjadi, semua pun bersiap melakukan dump. Namun biasanya market melakukan sebaliknya,” kata dia.

CEO perusahaan jual beli berbagai e-money dan aset digital ke 61 bank ini menambahkan, ketika hendak menjual Bitcoin, holder sebaiknya menjual ketika mencapai ATH batu.

Tags:
BitcoinHalvingIndodaxPintuTriv
%d blogger menyukai ini: