Jejak Karir Bankir Anggoro Cahyo, Miliki Saham BBNI Terbesar di Antara Direksi BNI

JAKARTA – Anggoro Eko Cahyo, bankir yang kabarnya tidak dapat restu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi Wakil Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI, punya catatan menarik. Terutama dalam hal perjalanan karirnya di bank dengan logo angka 46 itu dan kepemilikan saham dengan kode BBNI.

Anggoro memang ‘putera asli’ BNI. Ia sudah bergabung dalam jajaran direksi BNI sejak 17 Maret 2015 bersamaan dengan paket Ahmad Baiquni sebagai direktur utama.

Sebelum menjabat sebagai direksi, Pria lulusan Teknik dan Manajemen Industri dari Institut Teknologi Indonesia dan gelar Sarjana (S2) Jurusan Agribisnis dari Institut Pertanian Bogor, pernah mengisi posisi beberapa posisi strategis di BNI.

Mulai dari Pemimpin Kantor Wilayah Jakarta Kota BNI (2010-2011), Pemimpin Wilayah Jakarta BSD BNI (Mei-Agustus 2011), Pemimpin Divisi Jaringan dan Layanan BNI (2011–2012), hingga Pemimpin Divisi Human Capital BNI (2012–2015).

Adapun Anggoro sebagai direksi BNI sempat membawahi dua divisi, yakni bisnis konsumer dan keuangan.

Sebagai Direktur Konsumer BNI, Anggoro memimpin hingga 2017, sebelum akhirnya bergeser menjadi Direktur Keuangan melalui rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) BNI pada 20 Maret 2018.

Bisnis Konsumer BNI

Sepanjang dipimpin Anggoro, performa bisnis konsumer BNI bisa dikatakan tidak begitu cemerlang. Terutama jika melihat dari bisnis penyaluran kredit.

Pada tahun pertamanya, pertumbuhan bisnis kredit konsumer hanya naik 9,5% dan langsung menggerus kontribusinya terhadap total kredit BNI dari periode 2014 sebesar 18,7% menjadi 17,6%.

Berlanjut pada tahun ke dua, bisnis kredit konsumer pimpinan Anggoro memang tumbuh lebih tinggi atau naik 13,1%. Namun, porsinya terhadap total kredit melanjutkan penurunan menjadi 16,5% dan berlanjut ke tahun berikutnya menjadi 16,2%.

Bahkan, pada RUPST BNI 2018, nomenklatur bisnis konsumer pun berubah menjadi retail banking. Bersamaan dengan itu, Anggoro bergeser fungsi jabatan menjadi Direktur Keuangan BNI.

Sampai akhirnya, pada RUPST BNI 24 Februari 2020, Anggoro ditunjuk menjadi Wadirut BNI menggantikan Herry Sidharta yang naik jabatan menjadi Dirut BNI.

Kepemilikan Saham BBNI

Terlepas dari karirnya di BNI, Trenasia.com menemukan fakta dan data bahwa Anggoro memiliki 272.305 saham BBNI, mengacu laporan tahunan BNI 2019. Jumlah ini menjadi yang terbesar di antara komisaris dan direksi BNI.

Dengan harga saham BBNI per 12 Juni 2020 yang sebesar Rp4.470, maka nilai kepemilikan saham BBNI Anggoro mencapai Rp1,22 miliar.

Bandingkan saja dengan Achmad Baiquni, Dirut BNI hingga akhir 2019. Kepemilikannya di saham BBNI hanya 131.976 atau setara Rp589,93 juta.

Begitu juga dengan Herry Sidharta sebagai Dirut BNI terbaru. Kepemilikannya di saham BBNI hanya 124.020 atau Rp554,37 juta.

Kepemilikan saham BBNI Anggoro bertambah 153.526 dari sebelumnya 118.779 seiring pelaksanaan Peraturan OJK No. 45/ POJK.03/2015 tentang Penerapan Tata Kelola dalam Pemberian Remunerasi bagi Bank Umum.

Selain Anggoro, direksi BNI yang punya banyak saham BBNI adalah Putrama Wahyu Setyawan yang pada 2019 menjabat sebagai Direktur Bisnis Korporasi. Kepemilikan saham BBNI Putrama mencapai 257.221 atau Rp1,15 miliar. (SKO)

Tags:
Anggoro Eko CahyoBank BNIBBNIBNIBUMNHeadlineojkprofilPT Bank Negara Indonesia (Persero) TbkSahamWadirut BNI
Issa Almawadi

Issa Almawadi

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: