Jawa-Bali Terapkan PPKM Level 3 Bikin Kurs Rupiah Berpotensi Perkasa ke Level Rp14.350

24 Agustus 2021 09:15 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Karyawan menunjukkan uang Dolar Amerika Serikat (AS) di salah satu Bank BUMN di Jakarta, Selasa 2 Juni 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

undefined

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi lanjutkan tren penguatan ke level Rp14.430-Rp14.14.350 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini berpotensi tercipta usai Presiden Joko Widodo (Jokowi) menurunkan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menjadi level 3 di Jabodetabek.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan pelonggaran PPKM menjadi sentimen yang bisa mendorong aktivitas usaha pulih kembali. Apalagi, pelonggaran ini terjadi di kota-kota pusat bisnis seperti Jabodetabek hingga Surabaya.

“Penguatan rupiah juga akan didukung oleh PPKM yang sudah diturunkan di beberapa daerah pusat ekonomi seperti Jabodetabek, Surabaya dan kabupaten/kota lainnya di Jawa dan Bali. Pelonggaran PPKM meningkatkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat,” jelas Ariston kepada Trenasia.com, Selasa, 24 Agustus 2021.

Seperti diketahui, Jokowi mengatakan sejak mengalami titik puncak pada 15 Juli, saat ini kasus COVID-19 sudah terus menurun hingga ke level 78%.  Angka kesembuhan juga tinggi dibandingkan dengan kasus positif.

Hal ini berkontribusi signifikan terhadap penurunan tingkat keterisian tempat tidur perawatan (bed occupancy rate/BOR) menjadi 33%.

Jokowi menjelaskan, di Jawa-Bali, wilayah yang turun menjadi level tiga yakni aglomerasi Jabodetabek, Bandung Raya, Surabaya Raya, dan beberapa kota lain.

Adapun kota/kabupaten yang berada di level 4 turun dari 67 menjadi 51. Kemudian yang di level 3 dari 59 menjadi 67. Sementara, level 2 dari 2 menjadi 10 kota/kabupaten.

Penguatan rupiah juga ditopang oleh hasil survei sektor manufaktur dan jasa di AS pada Juli 2021 yang berada di bawah ekspektasi pasar. Kondisi itu kemudian semakin menguatkan indikasi tapering off  belum akan dilakukan Federal Reserve (The Fed) .

“Semalam data survei aktivitas sektor manufaktur dan jasa AS bulan Juli dirilis di bawah ekspektasi pasar. Data turun menunjukkan kondisi ekonomi AS belum stabil akibat meningkatnya kasus COVID-19,” ucap Ariston.

Berita Terkait