Jangan Lupa Pentingnya Kesehatan Mental Saat Pandemi

JAKARTA – Tidak bisa dimungkiri bahwa dengan kondisi pandemi saat ini isu kesehatan jiwa terasa semakin dekat dan menjadi bagian dari kita.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi bahwa masalah kesehatan jiwa akan menjadi beban kesehatan global tertinggi pada 2030. Survei yang dilakukan WHO membuktikan pandemi COVID-19 mengganggu atau menghentikan layanan kesehatan mental di 93% negara di dunia.

Di sisi lain, pandemi meningkatkan risiko kesehatan mental yang disebabkan oleh kabar duka, isolasi, kehilangan pendapatan, dan ketakutan. Hal tersebut memicu kondisi kesehatan mental atau memperburuk kondisi yang sudah ada.

Sebenarnya, ada atau tidaknya COVID-19, masalah kesehatan jiwa sudah ada dan banyak ditemui di masyarakat. Menyadari hal tersebut, ada dua elemen penting yang bisa mendukung ataupun membahayakan kondisi kesehatan jiwa yaitu keluarga dan sekolah.

Rohika Kurniadi Sari dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyatakan bahwa dalam mewujudkan kesehatan mental keluarga dapat dimulai dengan menerapkan pola pengasuhan yang positif di rumah.

“Situasi di rumah dapat menjadi awal yang baik untuk saling mengomunikasikan masalah dan memperbaiki hubungan di dalam keluarga, sehingga kesehatan mental dalam keluarga dapat dijalin dengan baik” katanya dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia yang jatuh pada 10 Oktober 2020,  Minggu, 18 Oktober 2020.

Seperti yang kita ketahui bahwa keluarga memang memiliki peran besar dalam menciptakan generasi-generasi unggul untuk Indonesia di masa depan. Menurut Frieda M. Mangunsong, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), remaja merupakan masa yang rentan.

Dengan tingkat gangguan jiwa yang muncul di usia remaja meningkat signifikan setiap tahunnya. “Oleh karena itu, penting sekali adanya pendampingan oleh sistem sosial di sekitarnya untuk bisa menjadi tempat aman bagi remaja,” ujar dia.

Kesehatan Mental di Dunia

Di tingkat global, lebih dari 60% negara melaporkan gangguan layanan kesehatan mental, termasuk anak-anak dan remaja (72%), orang dewasa yang lebih tua (70%), dan wanita yang membutuhkan layanan antenatal atau postnatal (61%).

Ada 67% gangguan pada konseling dan psikoterapi, 65% untuk layanan pengurangan bahaya kritis, dan 45% untuk pengobatan pemeliharaan agonis opioid untuk ketergantungan opioid.

Lebih dari sepertiga (35%) melaporkan gangguan pada intervensi darurat, 30% melaporkan gangguan terhadap akses pengobatan untuk gangguan mental, neurologis, dan penggunaan zat. Sekitar tiga perempat melaporkan setidaknya gangguan pada layanan kesehatan mental di sekolah dan tempat kerja masing-masing 78% dan 75%.

Sementara, banyak negara (70%) telah mengadopsi telemedicine atau teleterapi untuk menggantikan pertemuan tatap muka. Namun, keberhasilan adopsi telemedicine di negara berpenghasilan rendah hanya berhasil kurang dari 50%.

Jauh berbeda dengan negara maju yang berhasil hingga lebih dari 80%. Untuk menjawab ini, WHO telah mengeluarkan panduan bagaimana pelayanan kesehatan mental selama COVID-19. Sayangnya, meskipun 89% negara melaporkan adanya risiko gangguan layanan mental, tapi hanya 17% di antaranya yang memiliki cukup dana.

Menurut WHO, pengeluaran 2% dari anggaran kesehatan nasional untuk kesehatan mental tidaklah cukup. Setidaknya diperlukan pendanaan internasional.

Perkiraan pada masa pra-COVID-19 mengungkapkan depresi dan kecemasan bisa menghilabgkan US$1 triliun produktivitas ekonomi. Sebaliknya, setiap US$1 yang dibelanjakan untuk perawatan mental terbukti menghasilkan US$5. (SKO)

Tags:
gangguan jiwaHeadlineKanal Kesehatan Jiwa Halodockelainan jiwakesehatankesehatan mentalPandemi Covid-19sakit jiwaStartup TelemedicineStartup TelemedisTelemedicineWHO
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: