Jaga Stok Batu Bara Pascakrisis, PLN Kini Pantau Supply Chain Lewat Aplikasi

13 Januari 2022 09:03 WIB

Penulis: Muhammad Farhan Syah

Editor: Sukirno

Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di perairan Banten. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Perusahaan listrik pelat merah PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN kini melakukan pemantauan ketersediaan stok batu bara melalui aplikasi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga ketahanan batu bara agar krisis primer pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tidak terulang kembali.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menjelaskan sistem monitoring digital tersebut mampu memberikan peringatan dini terkait ketersediaan batu bara yang sudah mendekati level tertentu. Mulai dari level antrean loading batu bara hingga pemantauan data pemasok dalam mengirimkan batu bara sesuai komitmen kontraktualnya secara real time.

Semua sistem administrasi pun kini telah dibuat digital yang terverifikasi secara legal dan sah untuk digunakan. Sistem monitoring tersebut juga terintegrasi dengan sistem di Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Sistem ini memberikan alarm ke pusat apabila stok batu bara sudah menipis. Sistem ini juga mendeteksi dengan jangka waktu H-10 dari deadline kebutuhan," ujar Darmawan dalam keterangan resmi dikutip pada Rabu, 12 Januari 2022.

Sistem monitoring juga akan memastikan ketersediaan unit kapal pengangkut secara real time. Bahkan proses pemantauan untuk melihat sampai di mana kapal bergerak hingga melihat waktu bongkar muatnya di PLTU kini dapat akses secara daring melalui aplikasi tersebut.

Selain meningkatkan sistem monitoring, Darmawan juga merombak kontrak beli pada batu bara. Dirinya memastikan PLN akan melakukan kontrak jangka panjang dengan para penambang yang memiliki kredibilitas untuk memasok sesuai dengan kualitas dan spesifikasi serta volume yang sesuai dengan kebutuhan pada PLTU.

PLN juga melakukan evaluasi kontraktual, di mana berbagai fleksibilitas yang menghadirkan ketidakpastian dalam pemenuhan pasokan batu bara akan diminimalisir. PLN juga akan melakukan pembelian batu bara dari yang sebelumnya sebagian melalui penjual, kini dioptimalkan untuk seluruhnya secara langsung ke penambang.

Skema pembelian juga turut diubah dari yang sebelumnya Free On Board (FOB) menjadi Cost, Insurance and Freight (CIF) atau beli batu bara dengan harga sampai di tempat tujuan sehingga memastikan seluruhnya berjalan dengan baik.

Berbagai upaya yang dilakukan PLN tersebut adalah dalam rangka untuk menghindari kembali krisis ketersediaan batu bara yang sebelumnya terjadi di awal tahun 2022 yang berakibat pada adanya pelarangan ekspor batu bara kepada para perusahaan pertambangan.

PLN juga akan memastikan secara detil seluruh eksekusi pasokan baru bara sehingga dapat berjalan dengan lancar di lapangan. Upaya tersebut tidak hanya terbatas pada komitmen belaka, namun juga pada bagaimana komoditas emas hitam tersebut dapat sampai hingga unit-unit pembangkit listrik dengan timeline yang akurat.

Berita Terkait