Jadi Penopang Pendapatan, Berikut Kenaikan Recurring Income Terbesar Perusahaan Properti

28 Oktober 2021 20:30 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Rizky C. Septania

Lippo Village. / Dok. Lippo Karawaci

JAKARTA – Di tengah pandemi yang masih berlangsung, ekonomi kian menunjukkan pemulihan. Di sektor properti, misalnya, sejumlah perusahaan pengembang terus menggenjot pendapatan agar kinerjanya tetap tumbuh.

Hal ini dilakukan salah satunya melalui pendapatan berulang atau recurring income. Pendapatan berulang merupakan hasil penjualan atau pendapatan yang dapat diprediksi, stabil, serta diperoleh secara berkala.

Oleh karena itu, pos dari pendapatan ini dinilai lebih bisa diandalkan karena tingkat kepastiannya relatif tinggi.

Sejumlah perusahaan properti besar pun berhasil meningkatkan pendapatan pada semester I-2021. Ini dibuktikan melalui laporan keuangan dari lima perusahaan properti dengan aset jumbo seperti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Tercatat, pendapatan berulang dari lima perusahaan tersebut kompak naik pada periode ini. Berikut urutan perusahaan yang membukukan pendapatan berulang mulai dari yang terbesar.

Lippo Karawaci 

Perusahaan properti milik konglomerat Mochtar Riady ini mencatat pendapatan per  semester I -2021 mencapai Rp7,22 triliun. Persentase kenaikan dibandingkan semester I -2020 sebesar 35,4% year-on-year (yoy) dari Rp5,33 triliun.

Sementara itu, bagian pendapatan berulang yang dibukukan oleh Lippo Karawaci menempati porsi hingga 74,4% dari jumlah pendapatan tersebut. Nilainya mencapai Rp5,37 triliun, lebih tinggi dari Rp4,22 triliun pada semester I -2020.

Pos pendapatan yang paling besar berasal dari healthcare, yakni mencapai Rp3,8 triliun. Seperti diketahui, lini bisnis rumah sakit di bidang kesehatan akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat.

Terlepas dari adanya pandemi, layanan kesehatan akan tetap dikunjungi oleh semua kalangan dengan berbagai kepentingan.

Adapun jaringan rumah sakit yang dikelola oleh Lippo Karawaci adalah Rumah Sakit Siloam atau Siloam Hospitals Group. Rumah sakit ini terkenal dengan prestise yang tinggi dan termasuk mewah.

Pendapatan berulang dari lini bisnis healthcare yang paling tinggi ditopang oleh obat dan perlengkapan medis, serta rawat jalan yang mencapai Rp2,54 triliun.

Kemudian, pendapatan dari pusat belanja juga menyumbang hingga Rp848 miliar pada periode ini. Untuk hotel dan restoran, serta memorial park menyumbang masing-masing Rp104,9 miliar dan Rp147,8 miliar.

Pendapatan dari memorial park atau tempat pemakaman sendiri tercatat naik, dari sebelumnya yang hanya Rp75,1 miliar.

Pakuwon Jati

Perusahaan yang didirikan oleh konglomerat Alexander Tedja ini mencatat pertumbuhan pendapatan berulang sebesar Rp1,37 triliun atau naik 21,2% yoy per semester I-2021.

Jumlah ini setara dengan 55,9% dari total pendapatan Pakuwon Jati yang sebesar Rp2,45 triliun pada periode ini.

Adapun kontribusi terbesar berasal dari sewa ruangan dan servis apartemen sebesar Rp576 miliar. Tak jauh berbeda, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang meliputi jasa pemeliharaan, pendapatan usaha lainnya, penagihan listrik, biaya parkir, dan lain-lain juga di kisaran Rp576,8 miliar.

Untuk pendapatan hotel, Pakuwon Jati meraih Rp175 miliar, naik dibandingkan semester I-2020 yang sebesar Rp117 miliar.

Sebagai informasi, sejumlah aset atau mal terkemuka yang dimiliki Pakuwon Jati antara lain, Gandaria City Mall Jakarta, Kota Kasablanka Mall, Jakarta, Blok M Plaza Jakarta, Tunjungan City Mall 1-6 Surabaya, Pakuwon Mall Surabaya, Pakuwon City Mall Surabaya, dan Royal Plaza Surabaya.

Belum lama ini, Pakuwon Jati juga menambah aset melalui pembelian Hartono Mall Yogyakarta dan Hartono Solo Baru dari Duniatex Group.

Ciputra Development 

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang termasuk deretan emiten properti kelas kakap milik mendiang konglomerat Ciputra atau Tjie Tjin Hoan ini membukukan pendapatan berulang sebesar Rp828 miliar per semester I-2021.

Jumlah ini naik 23,3% yoy dibandingkan dengan Rp672 miliar per semester I-2020. Adapun kontribusi terhadap pendapatan total, kurang lebih 20,5% dari Rp4,02 triliun yang diperoleh Ciputra Development selama paruh tahun 2021.

Pendapatan paling besar diperoleh dari rumah sakit, yakni naik dari Rp149 miliar menjadi Rp368 miliar. Disusul oleh pusat niaga sebesar Rp212 miliar, pendapatan hotel Rp116 miliar, dan sewa kantor Rp108,4 miliar.

Diketahui, selama pandemi Ciputra Development berhasil mencatat tingkat okupansi rata-rata mal mencapai 95%. Dari lima mal yang dimiliki perseroan, tingkat okupansi Ciputra Worl Jakarta 1 tercatat paling tinggi, yakni mencapai 100% atau penuh.

Posisi ini diikuti oleh Ciputra Mall Semarang dengan tingkat okupansi 96%, Ciputra World Surabaya 92%, Ciputra Mall Jakarta 90%, dan Ciputra Mall CitraRaya Tangerang 90%.

Summarecon Agung

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) milik konglomerat Soetjipto Nagaria mencatat pendapatan berulang per semester I-2021 sebesar Rp718,8 miliar. Jumlah ini naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Adapun kontribusi pendapatan berulang terhadap seluruh pendapatan sebesar 29,2% dari Rp2,45 triliun pada periode ini.

Dari total pendapatan, memang mayoritas berasal dari penjualan properti yang meliputi rumah, apartemen, bangunan komersial, dan lainnya sebesar Rp1,74 triliun.

Untuk pendapatan berulang sendiri, Summarecon membukukan dari mal, retail, sewa kantor dan komersial lainnya sebesar Rp467,2 miliar. Dari jumlah tersebut, paling tinggi adalah mal dan retail yang sebesar Rp13 miliar, meningkat dari perolehan semester I-2020 yang sebesar Rp8 miliar.

Kemudian pengelolaan properti, hotel, dan rekreasi menyumbang Rp242,6 miliar dari pendapatan berulang Summarecon Agung.

Diketahui, perseroan saat ini tengah membangun Summarecon Villagio Jakarta Luxury Outlet di Karawang. Targetnya, pusat perbelanjaan itu bisa beroperasi pada tahun depan.

Bumi Serpong Damai

Perusahaan properti bagian dari Grup Sinar Mas milik keluarga konglomerat Eka Tjipta Widjaja ini mencatat pendapatan berulang sebesar Rp681,1 miliar pada semester I-2021.

Jumlah ini meningkat 15,4% yoy dibandingkan dengan Rp589,8 miliar per semester I-2020. Kemudian jika dihitung kontribusi pada pendapatan keseluruhan, kontribusi dari pendapatan berulang emiten bersandi BSDE setara 20,9% dari Rp3,25 triliun yang diraih BSDE.

Naiknya pendapatan berulang kali ini dipengaruhi oleh perolehan dari lini bisnis konstruksi, yakni sebesar Rp151 miliar. Sementara itu, pada periode yang sama tahun lalu tidak terdapat pemasukan sama sekali di pos ini.

Namun sayangnya, di lini bisnis lain pendapatan yang diperoleh BSDE justru mengalami penurunan. Sewa hotel, misalnya, nilainya menciut dari Rp12 miliar menjadi Rp4,6 miliar pada periode ini.

Kemudian arena rekreasi juga turun menjadi Rp2,7 miliar dari semula Rp6,1 miliar per semester I-2020.

Hanya pendapatan dari building management yang mengikuti jejak dari bisnis konstruksi, yakni berhasil naik meski tipis. Pendapatan dari pos ini tercatat Rp145,2 miliar atau lebih tinggi dibandingkan Rp142,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

 

Berita Terkait