Jadi Pengekspor Nikel Terbesar Dunia, Indonesia Sudah Investasi Rp233,3 Triliun

28 Desember 2021 10:30 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Vega Aulia

Presiden RI Joko Widodo meresmikan pembangunan Pabrik Ferronickel dan Stainless Steel serta Peresmian PT Gunbuster Nickel Industry di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin, 27 Desember 2021. (Kemenko Perekonomian)

JAKARTA – Indonesia memiliki cadangan nikel nomor satu di dunia di mana mencapai 21 juta ton atau 24% dari total cadangan dunia. Produksi nikel Indonesia pada 2020 mencapai 781.000 ton atau 31,8% dari produksi nikel dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan berdasarkan data World Top Export, ekspor produk berbasis nikel (stainless steel slab, stainless billet dan stainless steel coil) Indonesia menempati peringkat 1 dunia dengan total ekspor senilai US$1,63 miliar setara Rp23,18 triliun pada 2020 dan berada di peringkat ke-4 dalam produksi dunia.

Ekspor produk ferronickel juga meningkat sangat pesat dari tahun ke tahun, di mana pada 2020 mencapai US$4,7 miliar setara Rp66,86 triliun, dan pada periode Januari hingga Oktober 2021 tercatat mencapai US$5,6 miliar setara Rp79,66 triliun.

"Saat ini, smelter nikel yang beroperasi telah mencapai investasi sebesar US$15,7 miliar (setara Rp233,3 triliun), dengan kapasitas ferronickel yang dihasilkan mencapai 969.000 ton/tahun," katanya dalam keterangan pers, Senin, 27 Desember 2021.

Airlangga memproyeksi produksi nikel RI diperkirakan akan terus meningkat, baik untuk produksi nickel pig iron maupun pemrosesan highpressure-acid-leach dari bijih berkadar rendah. Hal itu karena semakin banyaknya pabrik smelter nikel yang dibangun.

Salah satunya adalah pabrik smelter nikel milik PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara yang baru saja diresmikan pada Senin kemarin.

Smelter ini diproyeksi menghasilkan feronikel dengan kadar 10%-12% dengan kapasitas produksi 1.000.800 ton per tahun yang membutuhkan suplai/konsumsi bijih nikel sebesar 21.600.000 WMT per tahun.

Total nilai investasinya sekitar Rp42,9 triliun. GNI secara keseluruhan akan mengoperasikan 24-line smelter dengan mengadopsi teknologi Rotary Kiln Electric Furnace.

GNI adalah perusahaan industri nikel yang berlokasi di Bungini, Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, Morowali Utara. Induk perusahaan GNI berlokasi di Jiangsu, China. 

GNI merupakan perusahaan nikel tahap ketiga setelah PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS) yang berlokasi di Kecamatan Morosi, Konawe.

PT OSS merupakan smelter penghasil ferronickel dengan kapasitas produksi 2,2 juta ton/tahun dan billet stainless steel dengan kapasitas produksi 3 juta ton/tahun. Sementara, PT VDNI merupakan smelter penghasil ferronickel dengan kapasitas produksi 1 juta ton/tahun.

Baik PT OSS, PT VDNI, dan PT GNI, secara total telah berinvestasi sebesar US$8 miliar setara Rp113,8 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih kurang 27.000 orang.

"Ketiga perusahaan smelter tersebut akan menjadi  bagian rencana pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri dalam peningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri," pungkas Airlangga.

Dia menyatakan bahwa dengan adanya pabrik pengolahan nikel maka akan terjadi peningkatan nilai tambah dari bijih nikel menjadi produk ferronickel sebesar 14 kali, dan jika menjadi billet stainless steel akan mencapai 19 kali lipat.

Pemerintah terus mendorong program hilirisasi industri dengan mengurangi ekspor bahan mentah atau raw material, guna meningkatkan nilai tambah di sektor industri dan daya saing perekonomian nasional. 

Melalui program hilirisasi, pemanfaatan alih teknologi menjadi penting dalam memanfaatkan hasil sumber daya alam serta menjaga lingkungan.

Presiden Joko Widodo ketika memberikan sambutan menyatakan bahwa potensi nilai tambah (value added) dari hilirisasi produk nikel sangat besar karena bisa menghasilkan banyak produk turunan yang memperbesar devisa negara dan neraca pembayaran.

"Saya sangat menghargai pembangunan smelter oleh PT Gunbuster Nickel Industry. Dan ini akan memberikan nilai tambah yang tidak sedikit," katanya.

Jokowi pun kembali menegaskan akan menghentikan ekspor produk mentah mineral Indonesia. Setelah nikel, tahun depan dia akan menghentikan ekspor bauksit dan selanjutnya produk minerba lain seperti tembaga.

"Saya perlu mengingatkan kepada kita semuanya, kepada investor, bahwa yang namanya ekspor raw material, sesudah nikel ini akan masuk lagi ke yang namanya bauksit. Jadi, yang ingin membangun industri, membangun untuk hilirisasi bauksit, silakan, karena kesempatannya hanya ada satu tahun. Setelah itu akan setop, enggak boleh lagi," tandasnya.

Guna mendukung iklim investasi yang aman dan kondusif, Jokowi meminta gubernur dan para kepala daerah serta aparat keamanan serius melakukan pengawalan dan menjamin ketertiban dan keamanan investasi.

Menurut dia, investasi yang luas bisa mengerek penciptaan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Kita harapkan rakyat yang berada di sekitar industri ini merasakan manfaatnya, baik yang berkaitan dengan lapangan pekerjaan dan juga peluang-peluang usaha baru bagi usaha kecil, usaha menengah, dan yang lain-lainnya, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi di provinsi maupun di kabupaten di mana industri ini berada," ungkapnya. 

Berita Terkait