Jadi Lokomotif Digitalisasi, BI Targetkan 12 Juta Pelaku UMKM Terapkan QRIS

06 September 2021 22:08 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Rizky C. Septania

Pemilik showroom dan bengkel Gitar “music666”, Ridwan mendemonstrasikan gitar yang akan dijual secara daring di Ciledug, Tangerang, Banten, Rabu 22 Juli 2020. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi terus mendorong 10 juta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) terhubung dengan platform digital atau “go online” hingga akhir tahun ini. Perubahan tren dan perilaku konsumen dengan membatasi interaksi fisik dan mengurangi aktivitas di luar rumah terbukti dapat memberi peluang lebih besar kepada UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital untuk bertahan atau bahkan melaju di tengah pandemi COVID-19. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat sebanyak 9,4 juta merchant Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) telah mengimplementasikan penggunaan Quick Response Indonesia Standard (QRIS). Realisasi ini setara 78,3% dari target implementasi QRIS tahun ini yang sebesar 12 juta merchant.

Asisten Gubernur Sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta mengatakan QRIS sistem pembayaran ini menjadi lokomotif digitalisasi pelaku UMKM. Dengan intervensi digital yang masih, dirinya optimistis pelaku UMKM bisa lebih banyak menjangkau konsumen karena tersedianya beragam opsi pembayaran.

“Kita semua sadari pandemi COVID-19 telah mempercepat proses digitalisasi. Proses ini ternyata menghasilkan customer experience to customer behaviour yang baru dan ini rupanya ini terjadi pada sistem pembayaran juga. Masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan baru ini,” ucap Filianingsih dalam diskusi virtual Empowering UMKM Indonesia, Senin, 6 September 2021.

Implementasi QRIS mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pada periode Juni-Agustus 2021, merchant baru yang menggunakan QRIS mampu bertambah hingga 700.000 unit usaha. Sementara pada posisi semester I-2021, implementasi QRIS baru mencapai 8,7 juta merchant.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy), nilai transaksi QRIS sudah melesat 366% menjadi Rp5,6 triliun.

QRIS dinilai Filianingsih memiliki biaya komisi (fee based) lebih kompetitif dibandingkan sejumlah metode pembayaran lain seperti ATM hingga kartu kredit. Sadar memiliki potensi tinggi, Filianingsih mengungkapkan tengah bersiap untuk menambah implementasi QRIS di luar negeri melalui QRIS Crossborder.

"Kenapa bisa lebih murah? karena menggunakan local currency settlement, sehingga kurs lebih bagus,” ungkap Filianingsih.

Otoritas moneter ini juga tengah bersiap mengimplementasikan QRIS Crossborder ke negara-negara lain di Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Arab Saudi.

Pertumbuhan QRIS yang signifikan ini beriringan dengan semakin menggeliatnya ekonomi digital di Indonesia. Otoritas moneter merekam per Juli 2021, Nilai transaksi uang elektronik (UE) meningkat 57,71% yoy mencapai Rp25,4 triliun. Nilai transaksi digital banking juga tumbuh 53,08% yoy menjadi Rp3.410,7 triliun.

Sementara itu, volume transaksi juga meningkat sebesar 56,07% yoy menjadi 649,8 juta transaksi. Di tengah momentum ini, Chief Operating Officer (COO) LinkAja Widjayanto Djanudin menyebut inklusi transaksi digital, termasuk melalui QRIS, terus merembes ke kota-kota tier 2-3.

Hal ini menjadi penanda digitalisasi sistem pembayaran tidak hanya dirasakan pelaku ekonomi di kota-kota pusat ekonomi saja. Menurut catatan LinkAja, sebanyak 13,7 juta pelaku UMKM tercatat telah mengakses platform digital.

“Kini tantangan selanjutnya tidak sebatas akses informasi saja, namun juga dukungan permodalan yang bisa diperoleh pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya,” jelas  Widjayanto dalam kesempatan yang sama.

Berita Terkait