Jadi e-Commerce Pertama yang IPO, Bukalapak Ternyata Masih Rugi pada Semester I-2021

01 September 2021 14:29 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Warga megakses logo Bukalapak melalui website di Jakarta, Kamis, 24 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencetak sejarah sebagai start up e-commerce pertama yang melantai di bursa saham Indonesia. 

Pada penawaran umum saham perdana (initial public offering/ IPO) belum lama ini, Bukalapak berhasil menyita banyak atensi investor ritel Tanah Air. Akan tetapi, jika melihat kinerja keuangannya, Bukapalak ternyata masih mencatatkan rugi pada semester I-2021.

Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu 1 September 2021, BUKA membukukan rugi bersih sepanjang enam bulan pertama 2021 sebesar Rp767,03 miliar. Kabar baiknya, kerugian itu menyusut dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni senilai Rp1,02 triliun.

Bukalapak juga mampu menekan kerugian operasionalnya sebesar 24,9% menjadi Rp776 miliar pada semester I-2021 dari Rp1,03 triliun pada periode yang sama 2020.

Perseroan mencatat, pendapatan pada kuartal II-2021 tumbuh 37% dari tahun sebelumnya menjadi Rp440 miliar. Sedangkan pendapatan semester I-2021 tumbuh 35% menjadi Rp864 miliar. 

Dibandingkan periode yang sama 2020, pendapatan Mitra Bukalapak pada kuartal I-2021 tumbuh sebesar 292% menjadi Rp145 miliar. Sementara pendapatan Mitra Bukalapak pada semester I-2021 naik 350% menjadi Rp 290 miliar. 

Alhasil, kontribusi Mitra Bukalapak terhadap pendapatan perseroan meningkat dari 12% pada kuartal II-2020 menjadi 33% pada kuartal II-2021.

Selain peningkatan pendapatan, menipisnya kerugian juga disumbang oleh biaya operasional pada kuartal II-2021 yang turun 9% secara tahunan (yoy). Biaya operasional pada semester I-2021 juga turun 5% yoy.

Adapun, kas perseroan berjumlah Rp2,7 triliun pada akhir Juni 2021, naik dari posisi akhir tahun Rp1,48 triliun. Aset BUKA juga melejit jadi Rp4,04 triliun pada semester I-2021 dari semula Rp2,59 triliun pada akhir Desember 2020.

Berita Terkait