Jadi Bos Pertamina, Ini Alasan Nicke Widyawati Selalu Dapat Penghargaan 'Perempuan Paling Berpengaruh Dunia'

12 Oktober 2021 18:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Rizky C. Septania

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati. (Pertamina/)

JAKARTA -- Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati baru saja terpilih sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia atau Most Powerful Women International, versi Majalah Fortune.

Nicke menempati posisi ke-17 di antara sejumlah CEO global paling sukses, antara lain Emma Walmsley, CEO Glaxo Smith Kline (1), Jessica Tan, CEO Ping An Group (2),  Ana Botin, CEO Banco Santander (3) dan Shemara R Wikramanayake, CEO Macquarie Group Ltd (4).

Fortune adalah sebuah majalah bisnis global yang diterbitkan oleh Fortune Money Group milik Time Inc.. Majalah ini didirikan oleh Henry Luce pada tahun 1930 dan berbasis New York, AS.

Dalam paparannya, Majalah Fortune mengakui keberhasilan Nicke Widyawati dalam memimpin perusahaan pelat merah Indonesia ini bertahan di tengah gempuran krisis global saat ini.

Salah satu tantangan yang paling dialami saat ini adalah triple shock yaitu jatuhnya harga minyak, penurunan permintaan bahan bakar dan tekanan nilai tukar Rupiah yang dialami Pertamina selama pandemi tahun lalu.

Majalah Fortune memandang bahwa ketiga faktor tersebut telah menurunkan pendapatan dan laba Pertamina tahun lalu.

Namun pada tahun ini, Nicke berhasil memimpin BUMN dengan aset  Rp1.026 triliun melewati tantangan dan mencetak keuntungan besar setelah tingkat produksi dan penjualan perusahaan meningkat tajam.

Menurut laporan keuangan per semester I-2021, Pertamina membukukan laba sebesar US$183 juta atau setara dengan Rp2,6 triliun.

Dibandingkan periode yang sama tahun 2020 dimana perusahaan sempat mengalami kerugian sebesar US$768 juta, maka Pertamina berhasil meningkatkan laba sebesar US$951 juta atau setara dengan Rp13,6 triliun.

Kinerja positif pada paruh pertama tahun 2021 ini didorong dari pertumbuhan di sisi penjualan yang  mencapai US$ 25 miliar dan EBITDA US$ 3,3 miliar, dimana keduanya naik lebih dari 22% dibandingkan tahun lalu.

Pencapaian ini salah satunya karena terjadi ledakan harga Indonesia Crude Price (ICP) yang meningkat hampir 2 kali lipat dari US$36,5 per Juni 2020 menjadi US$70,06 per Juni 2021.

Di sisi lain, produksi Hulu migas Pertamina mencapai target sebesar 850 ribu BOEPD. Dengan kenaikan ICP serta efisiensi pada biaya pengembangan dan biaya produksi, sektor Hulu mencatat pendapatan dan laba di atas target.

Dari sisi penjualan di hilir,  permintaan BBM berangsur pulih walaupun masih lebih rendah dari kondisi normal sebelum pandemi COVID-19.

Sampai dengan Juni 2021, permintaan BBM rata-rata tercatat 126 ribu KL per hari, atau meningkat sekitar 8% dari Juni 2020 yang sekitar 116 ribu KL per hari. Namun angka tersebut masih lebih rendah sekitar 6% dari permintaan normal sebelum pandemi di tahun 2019.

Peningkatan produksi dan lifting serta peningkatan monetisasi gas di seluruh Wilayah Kerja (WK) sektor Hulu Migas termasuk akselerasi rencana kerja yang agresif dan masif di WK Rokan yang telah dikelola oleh Pertamina.

Optimasi produksi di kilang dengan produk bernilai tinggi dan meningkatkan penjualan produk kilang dan petrokimia baik di dalam negeri maupun ekspor ke pasar luar negeri.

Majalah Fortune juga menilai bahwa Nicke dianggap cukup berpengaruh dalam memimpin Indonesia melakukan transisi energi Indonesia dengan membangun portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk memberikan energi bersih atau energi hijau di masa depan.

Selalu Dapat Penghargaan

Penghargaan CEO perempuan paling berpengaruh internasional ini bukan baru pertama kali diterima wanita kelahiran Tasikmalaya, 25 Desember 1967 ini. Dia selalu mendapatkan penghargaan dari dunia internasional.

Oktober tahun lalu, Nicke juga terpilih menjadi salah satu di antara 50 perempuan paling berpengaruh di dunia versi Majalah Fortune. Saat itu, Nicke berada di peringkat ke-16 sebagai CEO terbaik.

Tidak hanya dari Majalah Fortune, Nicke juga pernah mendapatkan penghargaan internasional dari beberapa lembaga.

Tahunlalu, Majalah Forbes juga mendapuk Nicke sebagai Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia atau The World’s Most Powerful Women bersama dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Selain itu, Nicke juga mendapat anugerah dari The Aramco Trading sebagai Top CEO 2020 dengan predikat CEO terbaik untuk kategori energy refining awal tahun ini.

Di dalam negeri, berbagai penghargaan tinggi terus berdatangan untuk perempuan kedua yang menjadi bos Pertamina ini.

Sebelum Nicke, Karen Agustiawan yang memimpin Pertamina periode 2009-2014 juga pernah masuk dalam daftar Majalah Fortune.

Nama Karen berada di urutan ke-6 dalam daftar CEO paling berpengaruh di dunia pada 2013.

Satu tahun sebelum itu, Dirut yang dipecat Menteri BUMN Rini Soemarno pada 2014 ini berada di peringkat ke-19 dalam daftar 50 Most Powerful Women in Business.

Melihat data yang ada, jabatan Dirut perempuan Pertamina selalu mendapatkan penghargaan internasional dari Majalah Fortune.

Artinya bahwa siapapun yang menjabat sebagai Dirut Pertamina dari kalangan perempuan punya peluang untuk menerima anugerah ini.

Memimpin perusahaan dengan aset besar dan menjadi pemain terdepan energi nasional menjadikan jabatan Dirut Pertamina strategis dan selalu dilirik dunia internasional.

Kekayaan Nicke Widyawati

Nicke Widyawati diangkat sebagai Dirut Pertamina sejak tahun 2018 oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menggantikan Elia Massa Manik.

Hingga tahun 2020, kekayaan Nicke dilaporkan sebesar Rp64,87 miliar per Desember 2020. Hal itu disampaikan langsung oleh situs Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).

Kekayaan Nicke terdiri dari harta tanah dan bangunan senilai Rp32,84 miliar;alat transportasi dan mesin senilai Rp1,9 miliar; harga bergerak lainnya Rp87 juta; serta kas dan setara kas Rp30 juta. Nicke tercatat tidak memiliki utang.

Khusus untuk alat transportasi, Nicke diketahui memiliki tiga koleksi mobil, yakni Toyota Alphard, Mercedes-Benz GLE400 dan Honda HR-V.

LHKPN melaporkan bahwa harga Toyota Alphard yang dimiliki Nicke mencapai Rp 850 juta. Sedangkan Honda HR-V menjadi koleksi mobil termurahnya, yakni hanya sebesar Rp300 juta. Sementara Mercedez Benz senilai Rp775 juta.

Di Pertamina, besaran gaji yang diterima Nicke sebagai Dirut masih belum pasti angkanya. 

Namun dari laporan keuangan Pertamina 2018, gaji yang diberikan kepada jajaran direksi dan komisaris Pertaminan disebut mencapai US$ 47,23 juta atau setara Rp670,76 miliar.

Kompensasi tersebut dibagikan kepada direksi dan komisaris yang terdiri dari 17 orang. Besaran gaji per orang diperkirakan sekitar Rp38 miliar setahun atau Rp3,16 miliar per bulan.

Nicke adalah lulusan Hukum Bisnis di Universitas Padjadjaran (S2) tahun 2009 dan Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung (S1) tahun 1991.

Sebelum menjabat sebagai Dirut Pertamina, Nicke menjabat sebagai Direktur SDM sekaligus merangkap Plt. Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur Pertamina pada 2017.

Sebelum menjabat sebagai Direktur SDM Pertamina, jebolan Master Hukum Bisnis Universitas Padjajaran ini pernah berkarir sebagai Direktur Pengadaan Strategis 1 PT Perusahaan Listrik Negara atau PLN (Persero).

Nicke juga pernah menjabat Direktur Utama PT Mega Eltra yang merupakan kontraktor listrik di lingkungan holding PT Pupuk Sriwijaya.

Dia juga pernah menjadi Direktur Bisnis di PT Rekayasa Industri (Rekind) dan Vice President Corporate Strategy Unit (CSU) di perusahaan yang sama. Dari laman resmi Pertamina menyebutkan, Nicke sudah menjadi eksekutif di berbagai tempat sejak tahun 2009.*

Berita Terkait