IPO Mitratel Tetapkan Harga Tengah, Porsi Penerbitan Saham Dikurangi

15 November 2021 17:45 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

IPO Mitratel Tetapkan Harga Tengah, Porsi Penerbitan Saham Dikurangi

JAKARTA – Emiten menara telekomunikasi pelat merah, PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel telah menetapkan harga penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) senilai Rp800 per lembar. 

Ini merupakan nilai tengah dari harga penawaran awal (book building) pada rentang Rp775 – Rp975 per saham. Selain itu, perseroan juga mengurangi porsi penerbitan saham yang akan dilepas ke publik.

Berdasarkan prospektus terbarunya yang dirilis Senin, 15 November 2021, perseroan bakal melepas sebanyak-banyaknya 22.920.512.000 lembar atau setara dengan 27,63% saham baru melalui aksi korporasi tersebut.

Jumlah saham yang akan dilepas itu lebih sedikit dibandingkan dengan target perseroan pada prospektur awal, yakni mencapai maksimal 25.540.000.000 lembar saham atau setara 29,85% dari keseluruhan modal disetor dan ditempatkan penuh pasca-IPO.

Selain itu, Mitratel juga telah menyiapkan maksimum 2.619.487.000 lembar saham tambahan atau sekira 3,06% dari jumlah modal disetor dan ditempatkan penuh setelah IPO. Hal ini jika terjadi adanya kelebihan permintaan (oversubscribed) pada penjatahan terpusat atawa pooling allotment.

Dengan begitu, jumlah keseluruhan penawaran umum perdana saham Mitratel sebanyak-banyaknya 25,54 miliar saham. Sehingga, nilai keseluruhan penawaran umum perdana saham Mitratel sebanyak-banyaknya Rp20,43 triliun.

Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengungkapkan perusahaan pengelola dana abadi (sovereign wealth fund/SWF) dari dalam dan luar negeri juga akan terlibat dalam penawaran umum perdana saham Mitratel.

Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo menyebut Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yakni Indonesia Investment Authority (INA) akan ‘ikut andil’ dalam gelaran IPO anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tersebut. 

“[SWF] akan ikut sebagai anchor investor, tapi semuanya tergantung hasil bookbuilding,” ujarnya kepada TrenAsia.com, Senin, 18 Oktober 2021.

Berita Terkait