Investasi Logistik dan Real Estat di Asia Pasifik Diprediksi Meningkat Hingga Rp864 Triliun pada 2023-2025

25 Agustus 2021 16:26 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Suasana bangunan apartemen di kawasan Jakarta Pusat, Jum’at, 17 Juli 2020. Konsultan properti JLL memproyeksikan permintaan properti khususnya apartemen akan mulai menguat kembali pada kuartal II/2020, salah satu faktor pendorongnya adalah pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA –  Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia memperkirakan volume investasi logistik dan real estat industri di Asia Pasifik akan meningkat menjadi US$50-60 miliar pada 2023-2025. Nilai ini setara kurang lebih Rp720-864 triliun (kurs Rp14.400 per dolar Amerika Serikat).

“Dalam beberapa tahun terakhir, seiring berkembangnya layanan e-commerce dan logistik pihak ketiga (3PL), komposisi keterlibatan investor dan pengguna berubah secara signifikan,” mengutip Head of Logistics and Industrial JLL Tom Woolhouse dalam keterangan resmi, Rabu, 25 Agustus 2021. 

Dengan adanya perubahan struktural terhadap alokasi aset dan jaringan supply chain di seluruh wilayah Asia Pasifik, dinilai bisa meningkatkan permintaan investor di sektor logistik.

Di samping itu, meningkatnya investasi real estat di sektor logistik dan industri juga mencerminkan perubahan strategi untuk kualitas yang lebih tinggi.

Pasalnya, populasi perkotaan di Asia Pasifik diperkirakan akan meningkat 41 juta per tahun antara 2020 - 2025. Pada periode yang sama, akan ada 760 juta orang kelas menengah baru sehingga pendapatan akan tumbuh 4% per tahun.

“Hal ini memperlihatkan potensi pertumbuhan yang signifikan untuk sektor logistik,” tambahnya.

Oleh karena itu, investor diimbau untuk melirik aset logistik 40-50% dalam waktu dekat, seiring keinginan untuk mengalokasikan dana ke sejumlah aset produktif.

Adapun peningkatan volume investasi diperkirakan terjadi di Korea Selatan, Australia, dan China. Aliran dana masuk dan permintaan yang kuat dari industri e-commerce yang akan mengimbangi penurunan imbal hasil.

“Dinamika permintaan-penawaran yang kuat akan menopang penurunan hasil, mungkin hingga 50-100 bps,” katanya.

Namun, perlu diimbangi dengan pemahaman tentang prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dan desain yang human-centric untuk sektor logistik. Diharapkan, hal ini bisa mengubah variasi pengguna secara signifikan dan mendukung investasi di sektor real estate logistik.

Berita Terkait