Investasi Istri Pendiri Northstar Group Patrick Walujo di Bali United (BOLA) Melambung

31 Agustus 2021 11:40 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Rizky C. Septania

Gubernur Koster mengapresiasi atas prestasi yang diraih oleh Fadil Sausu dkk. Menurut Gubernur Koster, prestasi ini semakin menguatkan rencana pengembangan sport tourism di Bali.

JAKARTA – Saham emiten klub sepak bola Bali United, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) telah melesat tajam sejak penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) 17 Juni 2019 silam. Hal ini tentu memberikan keuntungan besar bagi para pemegang sahamnya.

Salah satu pemegang saham BOLA adalah istri dari Patrick Waluyo, Co-founder Northstar Group yakni Ayu Patricia Rachmat yang juga putri dari taipan pendiri Triputra Group, yaitu Theodore Permadi (TP) Rachmat alias Teddy Rachmat.

Saat ini, Ayu diketahui menggenggam 314.842.000 saham BOLA atau sekitar 5,25% porsi kepemilikan saham. Hal ini membuatnya tercatat sebagai pemegang saham utama perorangan Bali United, selain Pieter Tanuri yang merupakan pengendali perseroan.

Merujuk harga saham BOLA per Selasa, 31 Agustus 2021, pukul 10.35 WIB sebesar Rp850 per lembar, maka nilai saham Ayu atas Bali United mencapai Rp267,62 miliar. Angka itu melonjak sekitar 385,71% sejak IPO BOLA dengan harga pelaksanaan Rp175 per lembar. 

Padahal, total nilai saham BOLA yang dimiliki Ayu pada saat IPO hanya sebesar Rp55,10 miliar. Dengan kata lain, ia telah meraup keuntungan sebanyak Rp212,52 miliar setelah berinvestasi di Bali United selama kurang lebih dua tahun.

Sebagai informasi, perseroan mencatat kinerja yang memuaskan pada semester I-2021. Meskipun pendapatan turun di tengah pandemi yang masih berlanjut, Bali United sukses berbalik untung pada paruh pertama tahun ini.

Melansir laporan keuangan interim yang dirilis Senin, 30 Agustus 2021, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp35,43 miliar sepanjang semester I-2021. Angka ini merosot 22,73% year-on-year (yoy) dari pendapatan semester pertama 2020, sebesar Rp45,85 miliar.

Meskipun pendapatan utama turun, perseroan memperoleh pendapatan bunga mencapai Rp111,51 miliar. Di mana, jumlah tersebut meroket 567,32% yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp16,71 miliar.

Selain itu, perseroan juga berhasil menekan beban operasi secara tahunan dari Rp80,54 miliar, menjadi Rp67,04 miliar per akhir Juni 2021. Hal ini membuat BOLA mencetak laba tahun berjalan sebanyak Rp70,04 miliar berbanding rugi Rp14 miliar pada enam bulan pertama 2020.

Dengan catatan tersebut, yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada semester pertama tahun ini sejumlah Rp72,10 miliar yang berbanding terbalik dari laba periode yang sama tahun lalu, di mana perseroan rugi bersih Rp12,51 miliar.

Berita Terkait