Insentif Properti dan Otomotif (Serial 5): Emiten Properti Girang, Otomotif Tumbang, Bank Paling Senang?

12 Maret 2021 07:37 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Awak media mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22 pada akhir sesi Senin (3/8/2020), setelah bergerak di rentang 4.928,47 – 5.157,27. Artinya, indeks sempat anjlok 4 persen dan terlempar dari zona 5.000. Risiko penurunan data perekonomian kawasan Asean termasuk Indonesia menjadi penyebab (IHSG) terkoreksi cukup dalam hari ini. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Baru-baru ini pemerintah menghujani industri properti dan otomotif dalam negeri dengan berbagai insentif. Kebijakan ini pun direspons beragam oleh pelaku pasar modal.

Analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama menilai bahwa kebijakan relaksasi serupa sebenarnya bukan kali pertama dikeluarkan pemerintah.

Bahkan, sebelumnya Bank Indonesia (BI) lebih dulu melakukan pemangkasan suku bunga acuan hingga 3,5%. Level terendah sepanjang sejarah.

Meskipun berbagai insentif ini berisiko pada pergerakkan nilai tukar rupiah, namun ia yakin penurun BI rate bisa mendorong kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah yang lebih optimal. Apalagi ditambah dengan adanya relaksasi khusus bagi dua sektor tersebut.

Menurutnya, dari sekian banyak insentif yang dikeluarkan itu, pemerintah berharap besar pada peningkatan daya konsumsi masyarakat. Dari beragam jenis sektor konsumsi, pemerintah tampaknya fokus meningkatkan daya beli pada sektor properti dan otomotif.

Terkait hal tersebut, Nafan bilang para investor sudah mulai mengamati saham-saham pada sektor properti, otomotif, dan manufaktur sejak awal bulan ini. Ia menilai, sektor-sektor tersebut dapat sekaligus mendorong terjadinya pertumbuhan kredit pada tahun 2021.

“Jadi saya pikir sektor-sektor yang berhubungan dengan konsumsi bakal bergerak positif ya, termasuk juga manufaktur, properti, dan otomotif,” ujarnya kepada TrenAsia.com belum lama ini.

Ia pun cenderung merekomendasikan untuk mencermati pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar pada sektor tersebut, seperti ASII, BSDE, dan CTRA.

Pasalnya, saham-saham big caps merupakan penopang indeks komposit sehingga sejalan dengan target pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Karena pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi yang positif, sehingga saham-saham big caps ini bisa menjadi katalis buat IHSG,” paparnya.

Prospek Emiten Properti
Suasana perumahan cluster di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya mengatakan sejak BI melonggarkan langkah makroprudensial mulai 1 Maret 2021, optimisme pasar mulai meningkat.

Hal itu dibuktikan dengan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,55% pada akhir perdagangan Senin, 1 Maret 2021. Kenaikan IHSG pada hari itu dipimpin oleh sektor keuangan dan properti.

Sepekan lebih berselang, saham-saham properti masih menunjukkan pergerakkan yang memuaskan akibat efek uang muka 0%. Pada akhir sesi perdagangan Rabu, 10 Maret 2021, setidaknya delapan saham emiten populer ditutup di area hijau.

Saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) terbang hingga 12,43% ke level harga Rp995 per lembar, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) melambung 5,88% pada level harga Rp1.260 per lembar.

Di susul PT Ciputra Development Tbk (CTRA) melonjak 5,26% menuju level Rp1.200 per saham, dan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) naik 3,54% ke level harga Rp585 per lembar saham.

Kemudian saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) yang terungkit 3,35% pada level harga Rp494 per lembar, diikuti PT Alam Sutra Realty Tbk (ASRI) naik 2,61% ke level harga Rp236 per lembar.

Lalu ada PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) menguat 2,38% per lembar, dan dibuntuti emiten anak usaha pelat merah PT PP Properti Tbk (PPRO) naik 1,32% pada level harga Rp72 per lembar saham.

Peningkatan harga saham juga diikuti oleh optimisme manajemen emiten properti dalam membidik prapenjualan alias marketing sales. Berdasarkan data yang dihimpun TrenAsia.com, rata-rata perseroan menargetkan peningkatan marketing sales sepanjang tahun 2021 dibandingkan dengan tahun lalu.

SMRA misalnya, target prapenjualan tahun ini mencapai Rp3,5 triliun atau naik sekitar 6% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan realisasi marketing sales tahun sebelumnya yakni Rp2,5 triliun.

Emiten properti Grup Sinarmas BSDE juga yakin dapat meraup prapenjualan sebesar Rp7 triliun pada 2021. Angka ini naik 8% dari hasil prapenjualan tahun 2020 yang sebesar Rp6,5 triliun.

Kemudian PPRO menargetkan marketing sales Rp1,3 triliun pada tahun ini. Angka tersebut juga meningkat jika dibandingkan dengan realisasi per November 2020 sebesar Rp700 miliar.

Bahkan, PT Intiland Development Tbk (DILD) sesumbar dengan menargetkan pendapatan prapenjualan yang melonjak hingga 120% yoy menjadi Rp2,11 triliun, dari Rp937 miliar pada tahun 2020.

Sedangkan, pengembang kawasan perkotaan terpadu modern Kota Deltamas, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) menargetkan pendapatan marketing sales sebesar Rp2 triliun pada 2021. Sebelumnya, Grup Sinarmas ini membukukan prapenjual sebesar Rp2,39 triliun sepanjang tahun 2020.

Perbankan Paling Diuntungkan
Ilustrasi: Nasabah mencari informasi mengenai kredit pemilikan (KPR) di kantor pusat Menara BTN, Gajahmada, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Meskipun kebijakan insentif tersebut ditujukan pada sektor properti dan otomotif, uniknya justru sektor perbankan yang disinyalir paling banyak mendulang berkah.

Kenaikan loan to value (LTV) Kredit Perumahan Rakyat (KPR) hingga 100% untuk seluruh properti residensial diyakini dapat mendorong pertumbuhan KPR yang lebih kuat sepanjang 2021.

“Kebijakan ini memungkinkan pembeli perumahan membayar uang muka hingga nol persen untuk KPR mereka,” ujar Hariyanto melalui riset hariannya.

Ia menyatakan emiten bank yang berfokus pada pinjaman KPR menjadi yang paling diuntungkan dengan adanya kondisi ini, seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Bahkan, ia tak ragu memasukkan BBTN bagian dalam strategi bulanan Mirae Asset Sekuritas.

Tak hanya itu, sejak awal Maret 2021 sampai pekan kedua bulan ini, Hariyanto telah merekomendasikan sejumlah saham bank nasional lainnya yang berpotensi meningkat. Di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).

Namun, pergerakan saham BBTN justru belum menunjukkan hasil yang memuaskan dengan ditutup melemah 0,50% ke level harga Rp1.990 per lembar pada akhir sesi Rabu, 10 Maret 2021. Bahkan, saham BBTN sempat ambruk 6,98% menyentuh auto reject bawah (ARB) pada perdagangan sehari sebelumnya.

Sebaliknya, saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI malah kompak naik pada akhir perdagangan Rabu, 10 Maret 2021. BBCA terkerek 1,51% sebesar 500 poin ke level harga Rp33.525 per lembar saham.

Sementara itu, saham BBRI naik 1,09% ke level harga Rp4.630 per lembar dan diikuti oleh BMRI yang juga meningkat 1,17% pada level Rp6.500 per unit saham. Terakhir, saham BBNI turut terungkit 1,26% menuju harga Rp6.050 per lembar.

Otomotif Mulai Keok
Petugas melintas di antara mobil-mobil yang akan di ekspor di Site PT Indonesia Kendaraan Terminal, Sindang Laut, Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Beda cerita dengan sektor properti, saham-saham otomotif dan komponennya justru mulai tampak lesu pada pertengahan bulan ini.

Memang, sejumlah pengamat menilai bahwa relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0% kurang tepat ditetapkan pada kondisi sekarang.

Saham-saham otomotif beserta komponennya pun mulai kompak berguguran pada penutupan perdagangan Rabu, 10 Maret 2021. Padahal, semenjak kebijakan itu diberlakukan pada 1 Maret 2021, saham-saham otomotif sempat semringah.

Berdasarkan pantauan di lantai bursa, sejumlah analis mulai tidak mencermati pergerakan saham sektor otomotif pada awal pekan kedua Maret 2021.

Saham-saham sektor otomotif kalah pamor dengan saham-saham sektor properti, perbankan, bahkan pertambangan yang selalu masuk dalam jajaran rekomendasi para analis.

Melansir data RTI, saham PT Astra International Tbk (ASII) turun 1,81% ke level harga Rp5.425 per lembar pada akhir sesi perdagangan Rabu 10 Maret 2021. Hal serupa dirasakan oleh emiten afiliasinya PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) yang juga turun 1,72% menuju harga Rp1.145 per saham.

Kemudian, saham emiten produsen ban PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) juga terkoreksi 1,71% ke level harga Rp860 per lembar. PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) anjlok 3,78% menuju harga Rp1.145 per lembar saham.

Selanjutnya, PT Indomobil Multi jasa Tbk (IMJS) turut tergelincir 0,65% pada level harga Rp308 per lembar, dan PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) ambles hingga 6,69% ke level Rp1.115 per saham. Sedangkan, PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) stagnan pada harga Rp1.360 per lembar saham. (SKO)

Artikel ini merupakan serial laporan khusus investigasi yang terakhir dengan rangkaian berjudul “Insentif Properti dan Otomotif.”

  1. Insentif Properti dan Otomotif (Serial 1): Bansos untuk Si Tajir Agar Kredit Bank Tak Makin Terkilir
  2. Insentif Properti dan Otomotif (Serial 2): Napas Buatan untuk Industri Properti yang Megap-Megap Terpukul Pandemi
  3. Insentif Properti dan Otomotif (Serial 3): Jauh Panggang dari Api
  4. Insentif Properti dan Otomotif (Serial 4): Akhirnya, Sri Mulyani Bongkar Alasannya

Berita Terkait