Inilah Faktor Penting Penentu Kebahagiaan Karyawan Perusahaan Teknologi

19 Juli 2021 18:30 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Inilah faktor pernting penentu kebahagiaan karyawan perusahaan teknologi (Freepik.com/RawPixel)

JAKARTA - Salah satu faktor penentu kualitas dari kinerja karyawan adalah kebahagiaan. Jika karyawan merasa bahagia bekerja di kantor, maka kemungkinan kinerja dan produktivitasnya meningkat akan semakin besar.

Berdasarkan analisa kualitatif dari Revou, secara umum ditemukan 5 faktor yang berkontribusi terhadap kebahagiaan karyawan perusahaan teknologi yakni: gaji, fasilitas/benefit, work-lifebalance, working environment, dan jenjang karir/personal growth.

1. Gaji

Faktor pertama yang memengaruhi kebahagiaan karyawan adalah gaji.

Banyak karyawan yang menuliskan review positif ketika kompensasi mereka sesuai atau bahkan di atas rata-rata angka pasar. Di kala pandemi ini, sesederhana perusahaan berhasil memberikan kepastian gaji, dapat turut menjadi faktor yang membuat karyawan merasa lebih tenang.

“Perusahaan ini sangat stabil, bahkan di masa pandemi. Kami tidak perlu khawatir tentang pemotongan gaji / pemutusan hubungan kerja (PHK)” - Innovation Manager di tiket.com (Maret 2021)

Secara keseluruhan, perusahaan tiket.com mampu mempertahankan tingkat kebahagiaan karyawannya dengan rating 4.55 dari 74 review, meskipun berkecimpung di industri travel sangat terdampak akibat pandemi COVID-19.

Di sisi lain, ditemukan juga review dari karyawan yang tidak mendapatkan kompensasi sesuai peraturan yang berlaku ketika pandemi COVID-19 terjadi. Hal ini memberikan dampak negatif terhadap tingkat kebahagiaan karyawan tersebut.

2.  Fasilitas / Benefit

Selain dari gaji, berbagai perusahaan tech juga berlomba-lomba untuk memberikan fasilitas yang menarik bagi karyawannya. Dengan jumlah review terbanyak yakni sejumlah 505, Tokopedia berhasil mendapatkan rating 4.55. 
 

Dari review yang diberikan oleh karyawan di divisi Sales & Marketing Tokopedia (Feb 2021), kita bisa mengetahui berbagai fasilitas yang dia dapatkan yaitu:
● asuransi kesehatan (termasuk covid)
● dokter online gratis 24/7,
● online yoga/zumba
● program online untuk mental illness
● akses perpustakaan online (internal & eksternal) gratis
● bisa mengusulkan pelatihan eksternal yang dibayar oleh perusahaan
● untuk muslim, ada program day-off khusus untuk Umroh dan Haji

Selain itu, ditemukan juga bahwa beberapa perusahaan tekonologi ini memberikan promo khusus yang bisa dinikmati hanya oleh karyawan yang bertransaksi di platformnya. Perusahaan yang menawarkan ini ada Tokopedia, Tiket.com, dan HappyFresh.

3. “Work-Life Balance”

Berdasarkan Undang-Undang No.13 tahun 2003 pasal 77- 85, karyawan penuh waktu Indonesia mengikuti aturan kerja 40 jam per minggu. Jika lebih dari itu, maka dihitung sebagai lembur.

Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak perusahaan yang menuntut karyawannya untuk bekerja lebih dari waktu yang ditentukan. Meskipun tetap sesuai dengan ketentuan lembur, rupanya hal ini tetap berdampak pada kebahagiaan dan kesejahteraan karyawan.

Misalkan pada karyawan ini, pandemi justru membuat batas antara jam kerja dan jam pribadinya menjadi kabur, dan ini menjadi salah satu faktor yang mengurangi kebahagiaannya di tempat kerja. Komentar seperti ini cukup banyak ditemukan di kolom review karyawan.

Namun jika diterapkan dengan sesuai, fleksibilitas yang dimiliki dari sistem work from home (WFH) berdampak positif bahkan menjadi salah satu pertimbangan bagi karyawan dalam memilih tempat kerja.

Salah satu yang merasakan manfaat dari sistem WFH ini adalah para ibu. Mereka bisa kembali aktif di dunia kerja seraya tetap mengurus keluarganya.

“Flexible working hour, it is a good thing for a working mom to be a person with work & life balance. This is the good company for making you build more skills and personality” -  Senior Account Manager at Mekari (Jan 2020)

Arti dari “Work-life balance” sendiri adalah adanya keseimbangan antara tuntutan pekerjaan profesional dengan kehidupan personal sehari-hari.  

Menurut Forbes, istilah ini semakin sering ditemui seiring meningkatnya generasi milenial yang masuk ke dunia kerja dan kaum ini diproyeksi akan mendominasi 75% tenaga kerja di tahun 2025.

Ketika karyawan bekerja overtime atau melebihi waktu yang ditentukan, maka aspek work-life balance terdisrupsi sehingga mempengaruhi kebahagiaan karyawan.

4. Working Environment

Working environment atau lingkungan kerja adalah faktor berikutnya.

Apa yang dihadapi karyawan hari ke hari; baik anggota tim, atasan, serta aktivitas selain kerja yang ada di perusahaan berpengaruh pada tingkat kebahagiaan karyawan.

“Engineering and product team were so great! Everyday we learned new things there. Team environment was really supportive” - Senior Quality Assurance di DANA (Maret 2020)

“Very good environment to work and grow. Wonderful and supportive colleagues. Working culture applied in dailywork-life, not only on paper” -  UI & User Experience Designer di Happy Fresh (Juni 2021)

Dapat dilihat bahwa kata “support” atau dukungan kerap disebutkan dan kata ini menjadi salah satu indikasi bahwa memiliki rekan kerja yang mendukung perkembangan membuat mereka senang.

Sebaliknya, ketika karyawan berhadapan dengan tim maupun atasan yang tidak menghargai mereka, maka ini berdampak negatif terhadap kebahagiaannya.

Poin lain yang ditemukan adalah terkait kecepatan kerja. Perusahaan teknologi memang terkenal dengan sistem kerja yang sangat cepat dan dinamis.

Bagi sebagian karyawan, ini merupakan hal yang diinginkan: 

“Fast paced, many top talents here that can motivate you and give you good self development” - Strategy Manager di Grab (Mar 2021)
Namun di sisi lain, ada karyawan yang kurang cocok dengan gaya bekerja yang serba cepat ini sehingga dinilai sebagai sesuatu yang negatif.

Tingkat kebahagiaan terkait lingkungan atau gaya kerja ini akan kembali lagi ke preferensi dari setiap karyawan, apakah mereka berada di tahap belajar dan eksplorasi dengan laju yang cepat atau lebih cocok di perusahaan yang sudah lebih stabil?

5. Jenjang Karir dan Personal Growth

Di zaman ini, karyawan tidak hanya bekerja atas dasar uang namun juga perkembangan diri.

Berdasarkan polling yang pernah dibuat RevoU di LinkedIn, 37% dari 387 responden merasa bahwa ‘memaksimalkan potensi diri’ menjadi faktor yang paling memotivasi mereka saat ingin berganti karir.

Berikut beberapa komentar terkait jenjang dan pertumbuhan karir:
“Wanna have an adventure and a high opportunity to learn and explore your career? Join Ruangguru. As a junior staff, I'm regularly exposed to meetings with VP and C levels, that makes me learn about articulating my own decisions / work deliverables, so it increases my sense of ownership and responsibility.” - Wordsmith Role di Ruangguru (November 2020)

“Lingkungan bekerja yang nyaman dan pegawai yang selalu bisa bekerja sama. Keleluasaan mengungkapkan ide,kendala, dan saran yang sangat bisa dirasakan dalam bekerja di perusahaan ini. Banyak program pengembangan diri yang bisa didapatkan secara gratis oleh pegawai.” - Marketplace Campaign&PromotionManagement di Bukalapak (Aug 2020)

Ruangguru, edutech yang mendapat rating 4.3 dari 110 review, memberikan ruang untuk karyawan dapat berinteraksi dengan C level melalui pertemuan-pertemuan internal. Kesempatan ini menjadi berharga untuk pengembangan diri karyawan dan berdampak positif pada tingkat kebahagiaannya.

Di review ini bisa menunjukkan bahwa bagi beberapa karyawan, bekerja bukan saja perihal gaji yang didapatkan dari perusahaan namun juga kebanggaan pribadi atas kontribusi yang bisa diberikan kepada perusahaan.

Namun, bukan berarti kepastian jenjang karir menjadi aspek yang tidak diperhitungkan. Karyawan tetap ingin mendapatkan timbal balik yang sesuai atas kontribusi yang diberikannya, salah satunya berupa promosi karir.

Ketika kejelasan karir tidak ditemukan, maka ini dapat berdampak negatif bagi kebahagiaan karyawan tersebut. 

Berita Terkait