Inilah Alasan Rupiah Menembus Rp15.000 per USD Meskipun Suku Bunga Sudah Naik

23 September 2022 16:02 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Fakhri Rezy

Ilustrasi mata uang rupiah (Pixabay)

JAKARTA - Nilai kurs rupiah masih bergerak di kisaran Rp15.000 perdolar Amerika Serikat (AS) meskipun Bank Indonesia (BI) baru saja menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin di Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis, 22 September 2022.

Menurut data perdagangan Bloomberg, Jumat, 23 September 2022 pukul 12.30 WIB, nilai kurs rupiah berada di posisi Rp15.031 perdolar AS setelah sebelumnya dibuka di level Rp15.012,5 perdolar AS.

Kemudian, pada perdagangan sebelumnya, Kamis, 22 September 2022, nilai kurs rupiah ditutup di posisi Rp15.023 perdolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, salah satu alasan yang mendorong pihaknya untuk menaikkan suku bunga adalah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Namun, pada faktanya saat ini nilai kurs rupiah justru menembus level Rp15.000 perdolar AS setelah BI menaikkan suku bunga.

Menurut Ibrahim, ada faktor eksternal yang mendorong pelemahan nilai kurs rupiah walaupun suku bunga BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sudah didongkrak.

Dolar AS saat ini tengah melonjak ke level tertinggi dalam 20 tahun terakhir setelah bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) mengerek suku bunga sebesar 75 basis poin.

Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan pihaknya akan terus mengerek suku bunga secara agresif meskipun harus mempertaruhkan tekanan pada pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja demi meredam inflasi.

"Komentar hawkish memperkuat ekspetasi bahwa suku bunga AS akan mengakhiri tahun ini jauh di atas 4%, level tertinggi mereka dalam lebih dari 14 tahun," ujar Ibrahim dalam riset harian, Jumat, 23 September 2022.

The Fed memperkirakan inflasi akan tetap jauh di atas target 2% setidaknya untuk dua tahun ke depan. Artinya, The Fed bisa saja terus menaikkan suku bunga setelah tahun 2022 berlalu.

Sementara itu, peningkatan permintaan dolar AS sebagai instrumen safe haven pun terjadi setelah muncul tanda-tanda potensi eskalasi konflik Rusia-Ukraina karena Presiden Vladimir Putin menandatangani dekrit yang menyuarakan mobilisasi militer dan mengeluarkan ancaman penggunaan kekuatan nuklir. 

Berita Terkait