Inilah 4 Hal yang Dituntut Rusia dan Jawaban Amerika

14 Januari 2022 23:09 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Amerika Joe Biden (NPR)

JAKARTA-Diplomat Amerika dan Rusia berhadapan di Jenewa. Kemudian NATO menerima delegasi Rusia di Brussel. Akhirnya, Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa akan mensponsori pembicaraan di Wina Kamis 13 Januari 2022.

Rusia menarik semua perhatian ini dengan mengumpulkan sekitar 100.000 tentara di dekat perbatasannya dengan Ukraina. Langkah yang meningkatkan kekhawatiran akan invasi Rusia.

Sejumlah ahli membaca penumpukan Rusia sebagai upaya untuk menekan Amerika dan sekutu Eropanya untuk memberikan serangkaian "jaminan keamanan" yang dicari oleh Moskow.

Apa sebenarnya yang diinginkan Rusia dan mengapa begitu sulit bagi Amerika untuk bertemu Moskow di tengah jalan? Berikut gambarannya.

1. Rusia ingin jaminan Ukraina tidak pernah bergabung NATO

Tuntutan utama Rusia adalah komitmen dari NATO untuk mengakhiri ekspansi lebih lanjut ke bekas republik Soviet — terutama Ukraina. Rusia ingin NATO untuk membatalkan janji tahun 2008 bahwa Ukraina suatu hari nanti bisa bergabung dengan aliansi pertahanan tersebut. 

Sebagaimana dikutip dari NPR 13 Januari 2022, banyak pengamat sebenarya melihat prospek Ukraina dapat bergabung dengan NATO sangat kecil karena tidak memenuhi persyaratan keanggotaan. Tetapi Moskow tidak melihatnya seperti itu. Wakil Menteri Luar Negeri Sergei Ryabkov setelah pembicaraan bilateral dengan Amerika selesai Senin 10 Januari 2022 mengatakan, mereka membutuhkan jaminan yang kuat, tahan air, tahan peluru, dan mengikat secara hukum. Bukan jaminan biasa.

Apa alasan Rusia atas tunutan tersebut? Presiden Vladimir Putin memandang Ukraina sebagai perpanjangan dari apa yang dia sebut "sejarah Rusia " yang menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet. Ancaman belokan ke barat Ukraina setelah revolusi menggulingkan presiden pro-Rusia negara itu pada tahun 2014 adalah kekuatan pendorong di belakang aneksasi Rusia atas Krimea akhir tahun itu. 

Keinginan Ukraina untuk bergabung dengan aliansi Barat juga menyebabkan Rusia mensponsori separatis di wilayah Donbas timur negara itu — yang pada dasarnya menyabot jalannya menuju keanggotaan dengan memicu perang saudara.

Lalu apa jawaban Amerika? Amerika berpendapat bahwa semua  negara memiliki hak untuk memilih aliansi mereka sendiri dan NATO memiliki "kebijakan pintu terbuka" untuk keanggotaan potensial. 

Wakil Menteri Luar Negeri Wendy Sherman mengatakan NATO tidak pernah berkembang melalui kekuatan atau paksaan atau subversi. Ini adalah pilihan berdaulat negara untuk memilih untuk datang ke NATO dan mengatakan mereka ingin bergabung. Menurut jajak pendapat, tindakan Rusia justru membuat gagasan keanggotaan NATO lebih menarik bagi Ukraina. Namun, kecil kemungkinan Ukraina akan memenuhi persyaratan dalam waktu dekat.

2. Rusia ingin senjata NATO keluar dari Eropa Timur

Rancangan proposal keamanan yang dikirim Rusia ke kekuatan Barat pada bulan Desember akan melarang NATO menyebarkan senjata dan pasukannya di negara-negara di Eropa Tengah dan Timur yang bergabung dengan aliansi setelah 1997. Akibatnya, itu akan menurunkan keanggotaan Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia, Republik Ceko, Slovakia, Hongaria, Rumania, Slovenia, Kroasia, Montenegro, Albania, Makedonia Utara, dan Bulgaria menjadi status simbolis.

Rusia melihat penambahan NATO ke negara-negara bekas komunis di Eropa Timur dan Tengah yang dimulai pada tahun 1997 sebagai pelanggaran janji inti oleh Amerika Serikat ketika Tentara Soviet secara damai menarik diri dari Eropa Timur setelah runtuhnya Tembok Berlin. 

Dalam pandangan Putin, Barat mengambil keuntungan dari kelemahan Rusia dalam memperluas aliansi atas beberapa keberatan Rusia. Sekarang Putin tampaknya bertindak Rusia dalam posisi mendikte persyaratan baru — dan menulis ulang kisah akhir Perang Dingin.

Atas tuntutan tersebut, pejabat Amerika menjelaskan bahwa mereka percaya bahkan Rusia tahu permintaan ini tidak realistis. Menyetujui proposal Rusia berarti menggambar ulang peta Eropa setelah Perang Dingin dan menempatkan tuntutan keamanan Moskow di atas kekhawatiran seluruh dunia.

3. Rusia menginginkan larangan rudal NATO dalam jarak serang

Rusia mengatakan pihaknya menginginkan larangan rudal jarak menengah di Eropa. Ini pada dasarnya, mengembalikan perjanjian era Perang Dingin yang ditinggalkan pada 2019 oleh pemerintahan Donald Trump. Saat itu Trump menuduh Rusia melakukan pelanggaran berulang.  Kremlin kinimenggabungkan kemajuan pengendalian senjata dengan keluhan lainnya terhadap ekspansi NATO. "Apakah kita menempatkan rudal kita di dekat perbatasan Amerika Serikat? Tidak," kata Putin kepada seorang jurnalis Barat selama konferensi pers pada bulan Desember. "Kini Amerika dengan rudalnya roketnya datang ke depan pintu kami."

Meski Ukraina mungkin masih jauh dari keanggotaan NATO, Rusia menyaksikan NATO telah menunjukkan dapat memperdalam keterlibatannya di Ukraina. Salah satunya dengan menyediakan senjata dan pelatihan  meski bekas republik Soviet menjadi anggota NATO. 

Presiden Rusia tidak merahasiakan bahwa dia membayangkan suatu hari dalam waktu yang tidak terlalu lama ketika rudal NATO dapat ditempatkan di tanah Ukraina dalam jarak beberapa menit dari Moskow. "Bagi kami ini adalah tantangan serius - tantangan bagi keamanan kami," kata Putin.

Amerika menyebut masalah ini menjadi area kompromi.  Bahkan beberapa anggota parlemen Demokrat menentang keputusan pemerintahan Trump untuk meninggalkan perjanjian kekuatan nuklir jarak menengah dengan Rusia.

 4. Rusia menginginkan otonomi untuk Ukraina timur

Rusia mengatakan Ukraina harus memenuhi kewajibannya berdasarkan perjanjian 2015 untuk mengakhiri pertempuran antara tentara Ukraina dan separatis pro-Rusia di Ukraina timur. Perang  yang telah menewaskan sekitar 15.000 orang. Kesepakatan damai yang dikenal sebagai perjanjian Minsk itu telah mandek dan korban terus berjatuhan. Selain itu, perjanjian Minsk akan memberikan otonomi tambahan ke wilayah berbahasa Rusia separatis di Donbas.

Amerika mendukung perjanjian Minsk. Tetapi Kiev kurang antusias. Kesepakatan itu seperti memberi pembenaran kepada Rusia karena telah mengobarkan konflik. Campur tangan yang disangkal oleh Rusia. Kiev dan Washington juga berpendapat bahwa Moskow juga gagal memenuhi kewajiban terhadap kesepakatan itu.

Berita Terkait