Ini Penyebab Utang Jangka Panjang dan Kas Awal Tahun Tower Bersama (TBIG) Meroket

09 Juni 2021 01:07 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

JAKARTA – PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mencatat lonjakan liabilitas jangka panjang yang signifikan selama kuartal I-2021. Pada kesempatan yang sama, kas dan setara kas perseroan ikut meroket tajam.

Berdasarkan laporan keuangannya, liabilitas jangka panjang perseroan melejit 84,46% menjadi Rp24,79 triliun pada kuartal pertama tahun ini, dari Rp13,44 triliun di kuartal I-2020.

Kas dan setara kas meroket hingga 439,36% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari hanya Rp947,34 miliar, menjadi Rp5,11 triliun pada akhir Maret 2021.

Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso mengatakan hal ini terjadi akibat adanya pembelian 3.000 aset menara milik PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) pada periode kuartal I-2021.

Total pinjaman kotor dan total pinjaman senior perseroan pada tiga bulan pertama tahun ini meningkat karena penarikan pinjaman bank untuk mendanai transaksi tersebut.

Di sisi lain, dana pinjaman itu ditempatkan sebagai saldo kas perseroan, sambil menunggu penyelesaian transaksi pada awal kuartal kedua tahun 2021.

“Pada awal April 2021, kami telah menyelesaikan jual beli dan pengalihan 3.000 menara dari IBST. Kami mendanai harga pembelian aset senilai Rp3,98 miliar atau setara US$280 juta dengan menggunakan dana internal dan menggunakan fasilitas bank yang ada pada akhir Maret 2021,” ujarnya saat dikonfirmasi TrenAsia.com, Selasa 8 Juni 2021.

Dengan saldo kas yang mencapai Rp5,11 triliun, maka total pinjaman bersih menjadi Rp21.72 triliun dan total pinjaman senior bersih perseroan menjadi Rp6,47 triliun.

Sementara itu, pendapatan serta pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tambahan dari akuisisi ini, akan dimasukkan ke dalam keuangan TBIG pada kuartal II-2021.

Ia menambahkan, pada kuartal I-2021, pihaknya juga berhasil memperpanjang rata-rata jangka waktu dan profil jatuh tempo utang perseroan. TBIG berhasil menerbitkan obligasi global dengan peringkat layak investasi dan beberapa obligasi lainnya, serta menyelesaikan pembiayaan kembali pinjaman luar negeri.

Helmy menjelaskan perseroan telah melihat pengurangan biaya pembiayaan menyeluruh dan pihaknya terus melakukan lindung nilai atas seluruh pinjaman perseroan dengan instrumen lindung nilai yang sesuai dengan jatuh tempo.

“Selain itu, rasio leverage bersih kami turun menjadi 4,4x pada kuartal pertama tahun 2021, dibandingkan dengan 4,8x pada tahun lalu,” tuntasnya. (LRD)

Berita Terkait