Ini Biang Kerok IHSG Anjlok 2,02 Persen ke 5.238,49

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore, 31 Agustus 2020, ditutup melemah 2,02% dipicu aksi jual investor asing.

IHSG ditutup melemah 108,17 poin atau 2,02% ke posisi 5.238,49. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak turun 23,56 poin atau 2,78% menjadi 824,19.

Dibuka menguat, tak sampai sejam IHSG melemah dan terus berada di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan data BEI, penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing atau net foreign sell sebesar Rp1,92 triliun. Total net sell asing sejak awal tahun makin tebal menjadi Rp28 triliun.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat mencatatkan jual bersih asing tertinggi mencapai Rp446,6 miliar, diikuti saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Rp299,1 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Rp291,9 miliar.

Selanjutnya, saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) tercatat jual bersih Rp243,1 miliar diikuti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp145,3 miliar.

Secara sektoral, sembilan sektor terkoreksi dengan sektor aneka industri turun paling dalam yaitu minus 3,11%, diikuti sektor keuangan dan sektor infrastruktur masing-masing minus 2,91% dan minus 2,15%. Sedangkan satu sektor naik yaitu sektor pertanian sebesar 0,16%.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 922.097 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 14,13 miliar lembar saham senilai Rp11,35 triliun. Sebanyak 124 saham naik, 313 saham menurun, dan 143 saham tidak bergerak nilainya.

Sementara itu, bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei Jepang menguat 257,11 poin atau 1,12% ke 22.139,76. Kemudian, Indeks Hang Seng Hong Kong turun 245,01 poin atau 0,96% ke 25.177,05, dan Indeks Straits Times Singapura melemah 13,59 atau 0,54% ke 2.526,04.

Ilustrasi. Foto: Ismail Pohan/TreAsia

Rupiah Justru Perkasa

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore ditutup menguat seiring sinyal pelonggaran moneter oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed.

Rupiah ditutup menguat 69 poin atau 0,47% menjadi Rp14.563 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.632 per dolar AS.

Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, pidato Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell pada pekan lalu masih berdampak positif bagi mata uang Garuda.

“Hari ini rupiah kelihatannya masih merespons positif pernyataan dovish Jerome Powell yang mengindikasikan mempertahankan pelonggaran moneter lebih kama dan mungkin lebih agresif untuk mengangkat inflasi AS melebihi target dua persen,” ujar Ariston dilansir Antara, Senin, 31 Agustus 2020.

Selain itu, lanjut Ariston, kepercayaan asing juga terlihat meningkat dengan menurunnya Credit Default Swap (CDS) Indonesia.

CDS adalah kontrak swap yang mengikat pembeli untuk melakukan pembayaran berkala kepada penjual dan sebagai imbalannya, mendapatkan ganti rugi apabila underlying asset dalam kontrak CDS mengalami credit events.

Sebagaimana umumnya instrumen derivatif lain, kontrak CDS tidak mewajibkan pembeli atau penjual memiliki aset atau kredit yang dirujuk oleh kontrak.

Rupiah pada pagi hari dibuka menguat di posisi Rp14.505 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.505 per dolar AS hingga Rp14.568 per dolar AS.

Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia pada Senin menunjukkan rupiah menguat menjadi Rp14.554 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp14.702 per dolar AS. (SKO)

Tags:
Amerika SerikatBank IndonesiaBCABNIBRIBursa Efek IndonesiaHeadlineihsgkurs rupiahNilai Tukar RupiahPasar modalRupiahSahamTelkom IndonesiaThe Federeal Reverse
%d blogger menyukai ini: