Inggris Ancam Pulangkan Kapal-Kapal Migran Kembali ke Prancis

10 September 2021 18:30 WIB

Penulis: Fadel Surur

Editor: Amirudin Zuhri

LONDON - Inggris telah menyetujui rencana untuk menolak kapal-kapal yang membawa migran secara ilegal ke pantainya. Langkah ini  memperparah keretakan dengan Prancis mengenai gelombang orang yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk menyeberangi  selat dengan kapal kecil.

Ratusan perahu mencoba perjalanan dari Prancis ke Inggris tahun ini, melewati salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Petugas perbatasan akan dilatih untuk memaksa kapal menjauh dari perairan Inggris, tetapi penerapan taktik baru hanya dilakukan jika mereka menganggapnya aman, kata seorang pejabat pemerintah Inggris yang meminta tidak disebutkan namanya.

Michael Ellis, Penjabat Jaksa Agung Inggris, akan menyusun dasar hukum bagi petugas perbatasan untuk menerapkan strategi baru, kata pejabat itu.

Menteri Dalam Negeri, Priti Patel, mengatakan pada Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, bahwa menghentikan orang-orang yang pergi dari Prancis dengan perahu adalah prioritasnya.

Menurut Darmanin, Inggris harus menghormati hukum maritim dan komitmen pada Prancis, yang mencakup pembayaran keuangan untuk membantu mendanai patroli perbatasan maritim Prancis.

“Prancis tidak akan menerima tindakan apa pun yang melawan hukum maritim, atau pun pemerasan finansial,” cuit Menteri Prancis itu.

Dalam surat yang bocor kepada media Inggris, Darmain mengatakan memaksa kapal-kapal kembali ke pantai Prancis akan berbahaya dan bahwa “menjaga nyawa manusia di laut itu lebih diprioritaskan daripada pertimbangan kenegaraan, status, dan kebijakan mitigasi.”

Home Office Inggris atau Kementerian dalam Negeri Inggris mengatakan,  “Biasanya kami tidak berkomentar perihal kegiatan operasional maritim.”

Menolak Dipulangkan

Badan amal mengatakan rencana itu bisa jadi ilegal. Channel Rescue, kelompok patroli warga lokal yang mencari migran yang datang ke pantai Inggris mengatakan hukum internasional maritim menetapkan bahwa kapal-kapal memiliki tugas jelas untuk membantu mereka yang dalam kesulitan.

Clare Mosely, pendiri amal Care4Calais yang menolong migran, mengatakan rencana itu akan membahayakan para migran. 

“Mereka tidak akan mau dipulangkan. Mereka benar-benar akan mencoba untuk lompat ke laut,” katanya.

Jumlah migran yang melewati Selat dengan kapal kecil meningkat tahun ini setelah pemerintah Inggris dan Prancis menekan bentuk-bentuk masuk ilegal lainnya seperti bersembunyi di belakang truk yang menyeberang dari pelabuhan di Prancis.

Jumlah yang mencoba mencapai Inggris dengan perahu - sejauh ini di 2021 sekitar 12.000 - sangat kecil dibandingkan dengan arus migran ke negara-negara seperti Libanon dan Turki, yang menampung jutaan pengungsi.

Tetapi masalah ini menjadi seruan bagi para politisi di Partai Konservatif Perdana Menteri Boris Johnson. Imigrasi menjadi isu utama dalam keputusan referendum untuk meninggalkan Uni Eropa pada tahun 2016.

Prancis dan Inggris sepakat untuk mengerahkan lebih banyak polisi dan berinvestasi pada teknologi deteksi untuk menghentikan penyeberangan melalui Selat pada bulan Juli. Kepolisian Prancis telah menyita lebih banyak perahu tetapi mereka tidak bisa secara keseluruhan mencegah keberangkatan.

Menteri Kesehatan Junior Inggris, Helen Whately, mengatakan fokus pemerintah masih pada mempengaruhi para imigran untuk tidak melakukan perjalanan, daripada menolak mereka kembali.

Partai oposisi Inggris, Partai Buruh, mengkritik pendekatan baru itu karena membahayakan nyawa dan mengatakan seharusnya yang menjadi prioritas adalah untuk mengatasi geng penyelundup manusia.

Berita Terkait