Inflasi September Diproyeksi Masih Rendah 0,01 Persen

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali.

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu keempat September 2020, diperkirakan inflasi akan terjadi sebesar 0,01% month-to-month (mtm).

Dengan demikian, perkiraan inflasi September 2020 secara tahun kalender sebesar 0,95% year-to-date (ytd) dan secara tahunan sebesar 1,48% year-on-year (yoy).

“Penyumbang utama inflasi pada periode ini berasal dari sejumlah komoditas,” ujar Direktur Eksekutif BI Onny Widjanarko dalam keterangan resmi yang dikutip TrenAsia.com, Minggu, 27 September 2020.

Adapun komoditas yang dimaksud, yakni minyak goreng sebesar 0,02% mtm, bawang putih dan cabai merah masing-masing sebesar 0,01% mtm.

Sebaliknya, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode tersebut, berasal dari telur ayam ras sebesar 0,04% (mtm). Kemudian, daging ayam ras sebesar 0,02% mtm. Selanjutnya, bawang merah sebesar 0,02% mtm, jeruk, cabai rawit, dan emas perhiasan masing-masing sebesar 0,01% mtm.

Onny menegaskan, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19. Termasuk di dalamnya dampak terhadap perekonomian Indonesia.

“Bank Indonesia akan mengambil langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh. Untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia,” terangnya.

Suku Bunga Acuan

Untuk menjaga inflasi tetap rendah, diketahui BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga tetap di level 3,25% dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,75%.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo , keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah inflasi yang diperkirakan tetap rendah.

“Suku bunga acuan dipertahankan di level 4 persen, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah inflasi yang rendah,” ungkapnya usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis, 17 September 2020.

Adapun sejumlah kebijakan yang diambil BI yakni memperpanjang periode ketentuan insentif pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah sebesar 50 basis poin (bps) bagi bank yang menyalurkan kredit, dari 31 Desember 2020 menjadi sampai dengan 30 Juni 2021.

Kemudian, BI juga mendorong pengembangan instrumen pasar uang untuk mendukung pembiayaan korporasi dan UMKM. BI juga melanjutkan perluasan akseptasi QRIS melalui perpanjangan kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) sebesar 0% untuk Usaha Mikro (UMI) dari 30 September 2020 sampai dengan 31 Desember 2020. (SKO)

Tags:
Bank IndonesiaBIBI RateDeflasiharga kebutuhan pokokharga komoditasinflasisuku bunga acuan
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: