Inflasi di AS Melejit, Bank Indonesia Bakal Kerek Suku Bunga Acuan?

17 November 2021 12:05 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Gedung Bank Indonesia. / Facebook @BankIndonesiaOfficial

JAKARTA - Dinamika ekonomi di Amerika Serikat (AS) yang semakin menunjukkan perbaikan dapat membawa efek terhadap pasar keuangan Indonesia. Perbaikan ekonomi tersebut tampak dari meningkatnya daya beli masyarakat.

Indeks Harga Konsumen (IHK) di Negeri Paman Sam pada Oktober 2021 mencapai inflasi 6,2% year on year (yoy) atau tertinggi sejak 1990. Tidak hanya itu, penjualan ritel juga melejit dari 0,8% month to month (mom) pada September menjadi 1,7% mom pada Oktober 2021.

Hal ini merupakan buah dari kondisi ketenagakerjaan yang pulih di AS. Kementerian Ketenagakerjaan AS juga melaporkan telah menciptakan 531.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) pada Oktober 2021 atau melebihi September 2021 yang sebesar 312.000 atau konsensus dari Reuters yang mencapai 450.000.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, apakah Bank Indonesia (BI) akan merespons dengan menaikkan BI-7 Days Reverse Repo Rate (DI-7DRR).

Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menilai otoritas moneter di dalam negeri tidak akan meningkatkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat. Menurutnya, BI masih perlu memberlakukan suku bunga rendah 3,5% untuk mengakomodasi pemulihan ekonomi di berbagai sektor. 

Selain itu, tingkat inflasi di dalam negeri yang masih berada di bawah proyeksi 2%-4% membuat BI bakal menahan suku bunga acuan terendah sepanjang sejarah tersebut.

“Dari sisi nilai tukar, rupiah memang cenderung melemah dibandingkan saat RDG (Rapat Dewan Gubernur) terakhir, namun tingkat depresiasinya masih dalam batas moderat. Dengan kondisi demikian, BI diperkirakan belum akan menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat,” ucap Josua kepada TrenAsia.com, Rabu, 17 November 2021.

Di samping itu, Josua menilai kondisi inflasi di AS saat ini masih bersifat temporer lantaran pasar tenaga kerja yang masih rentan. Salah satu pemicunya adalah fenomena 4,4 juta penduduk AS yang mengundurkan diri dari pekerjaannya pada September 2021.

Kondisi ini membuat pemerintah AS mesti bekerja lebih keras untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru. Maka dari itu, Josua bilang The Fed kemungkinan masih akan menahan suku bunga acuannya hingga semester I-2022.

“The Fed belum akan melakukan kenaikan suku bunga lebih cepat, sejalan dengan kondisi pasar tenaga kerja AS yang belum membaik secara konsisten. Dari sinyal pernyataan The Fed tersebut, diperkirakan BI akan menunggu sinyal dari indikator perekonomian AS yang pulih untuk mengantisipasi pengetatan dari The Fed yang lebih cepat dari perkiraan,” ucap Josua.

Seperti diketahui, The Fed telah memastikan proses tapering off dengan mengurangi pembelian obligasi pemerintah AS atau US Treasury Bond senilai US$15 miliar pada akhir November 2021. 

Sentimen dalam Negeri

Lebih lanjut, kondisi ekonomi domestik di dalam negeri justru dapat menjadi sentimen utama yang mendorong BI menaikkan suku bunga. Bila inflasi di Indonesia bertengger di kisaran proyeksi yang ditetapkan, terbuka kemungkinan BI menaikkan suku bunga pada akhir 2022.

"Jika tekanan inflasi 2022 cenderung lebih tinggi dari perkiraan, di mana dipengaruhi oleh pemulihan konsumsi domestik, serta potensi kenaikan inflasi yang disebabkan oleh supply chain disruption, maka BI diperkirakan akan mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunganya pada akhir tahun depan,” tegas Josua.

Senada, Direktur Riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai inflasi di AS tidak akan menjadi komponen utama yang memperngaruhi keputusan penetapan BI Rate. Hal ini diperkuat oleh tren inflasi di dalam negeri yang masih rendah.

“BI akan Lebih mempertimbangkan potensi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sementara dalam waktu pendek ini hingga akhir tahun rupiah diperkirakan cukup stabil,” jelas Piter saat dihubungi TrenAsia.com, Rabu, 17 November 2021.

Dirinya pun memprediksi BI baru akan menaikkan suku bunga acuan pada 2022. Kenaikan tersebut berbarengan dengan akselerasi pemulihan ekonomi di mana pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) diramal BI tembus 4,6%-5,4% yoy.

“Oleh karena itu, saya meyakini BI belum akan menaikkan suku bunga acuan. BI7DRRmasih akan dipertahankan di level 3.5%. dan saya perkirakan baru akan melakukan kenaikan suku bunga acuan di tahun depan,” papar Piter.

Berita Terkait