Inflasi AS Meningkat Lagi, Apa Pengaruhnya bagi Indonesia?

June 11, 2021, 12:30 PM UTC

Penulis: Gloria Natalia Dolorosa

Pasar global yang masih dirundung ketidakpastian kembali mendapat sinyal dari Amerika Serikat (AS) dengan dirilisnya indeks harga konsumen Mei 2021.
Apa saja pengaruh sinyal tersebut bagi pasar Indonesia?

Inflasi di AS

Harga konsumen di Amerika Serikat melonjak pada Mei 2021 dengan laju inflasi meningkat menjadi 5% selama 12 bulan yang berakhir pada Mei 2021.

Laju inflasi Mei 2021 lebih tinggi dari dari bulan sebelumnya yang sebesar 4,2%. Tingkat inflasi Mei ini di atas perkiraan pasar 4,7%. Tingkat inflasi Mei tahun ini merupakan tingkat inflasi tertinggi selama 12 tahun setelah inflasi pada Agustus 2008 yang mencetak rekor 5,4%.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat penaikan inflasi ini telah menjadi tren setiap bulan sejak Januari 2021. Tingkat inflasi 5% didorong kenaikan harga energi dan mobil bekas.

Yield Obligasi AS Menguat

Setelah diumumkannya indeks harga konsumen pada Mei di AS, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun hingga 30 tahun menguat. Obligasi AS bertenor 10 tahun pada 10 Juni 2021 turun 5,5 basis point (bp) dari hari sebelumnya ke posisi 1,437%.

Penurunan yield obligasi 10 tahun yang cukup tajam mulai terjadi sejak 7 Juni ketika pasar memproyeksi inflasi AS pada Mei akan lebih tinggi dari bulan sebelumnya.

Data World Government Bond menunjukkan yield obligasi AS 10 tahun masih terus menguat hingga 11 Juni ke posisi 1,434%. Penguatan yield paling besar terjadi pada obligasi bertenor panjang, yakni 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun.

Ancaman bagi Indonesia

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengatakan proyeksi kenaikan inflasi di AS dapat menciptakan efek rambatan, volatilitas dan ketidakpastian di sektor keuangan, serta dinamika arus modal global seperti saat terjadinya taper tantrum.

Taper tantrum yang terjadi pada 2013 merupakan efek dari ekspektasi normalisasi kebijakan moneter AS yang mendorong pembalikan arus modal dari negara berkembang.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengantisipasi bila bank sentral AS (The Fed) melakukan pengurangan stimulus (tapering off) dengan cara The Fed membeli surat berharga di pasar surat utang.

Pihak Bank Indonesia akan terus memperhitungkan kemungkinan bahwa tahun depan The Fed mulai mengubah kebijakan moneternya lewat pengurangan intervensi likuiditas.

AS mungkin akan melakukan pengetatan dan menaikkan suku bunga. Target Fed Funds Rate saat ini 0,00%-0,25%.

Bagaimana Kondisi Rupiah dan Obligasi?

Rupiah pada 10 Juni 2021 menguat. Data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di level Rp14.248 per dolar AS, sedangkan satu hari sebelumnya di level Rp14.255.

Sementara, kurs JISDOR Bank Indonesia menunjukkan rupiah di level Rp14.240 per dolar AS pada 10 Juni 2021, menguat dari hari sebelumnya di posisi Rp14.262. Sejak 4 Juni 2021 rupiah terus menguat.

Sementara itu, yield obligasi Indonesia bertenor 10 tahun pada 10 Juni 2021 menguat 5,8 bp dari hari sebelumnya ke posisi 6,437%. Dalam rentang 1 bulan, obligasi Indonesia 10 tahun sudah menguat 5,1 bps dengan alur kecenderungan menguat terjadi sejak 21 Mei 2021.

Berdasarkan data World Government Bonds, selama 1 bulan terakhir penguatan yield obligasi Indonesia paling besar terjadi pada tenor pendek, yakni 3 tahun dan 1 tahun.

Konsumen Kian Optimis

Dari Survei Konsumen yang dihelat Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2021 sebesar 104,4, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 101,5.

IKK merupakan cermin dari optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi. Jika indeks di atas 100 berarti optimis, sedangkan di bawah 100 berarti pesimis.

IKK Mei 2021 yang meningkat itu didorong membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) pada Mei 2021 yang meningkat menjadi 86,8 dari bulan sebelumnya 80,3. Meski demikian, perlu dicatat bahwa IKE ini masih berada di area pesimis.

Membaiknya persepsi konsumen atas kondisi ekonomi saat ini didorong perbaikan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.

Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan pada Mei 2021 sebesar 122,1, turun tipis dari bulan sebelumnya 122,6. Ekspektasi ketersediaan lapangan kerja meningkat, sementara ekspektasi terhadap kegiatan usaha dan penghasilan cukup kuat, meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.