Induk Goodyear Indonesia Beli Cooper Rp39,5 Triliun, Perkuat Pasar di AS dan China

February 23, 2021, 11:48 AM UTC

Penulis: GND

Produsen ban Goodyear Tire & Rubber. Dok: www.corporate.goodyear.com

JAKARTA – Goodyear Tire & Rubber Co., induk usaha PT Goodyear Indonesia Tbk. (GDYR), setuju membeli Cooper Tire & Rubber Co. dengan nilai sekitar US$2,8 miliar, setara dengan Rp39,48 triliun.

Dengan akuisisi itu, Goodyear meneguhkan posisinya sebagai pemain ban nomor satu di pasar Amerika Serikat, sekaligus memperkuat posisinya di China. Di Indonesia, per Januari 2021, Goodyear Tire & Rubber memegang 85% saham GDYR, sedangkan PT Kalibesar Asri menggenggam 7,07%.

Pemegang saham Cooper akan menerima US$41,75 per saham dalam bentuk tunai dan 0,907 saham Goodyear. Totalnya sekitar US$54,36 per saham. Harga saham itu terbilang premium karena 24% di atas harga penutupan Cooper per 19 Februari 2021.

Pemegang saham Goodyear akan memiliki sekitar 84% perusahaan gabungan itu. Penghematan diprediksi sekitar US$165 juta selama dua tahun merger.

“Saat kami mengembangkan rencana bisnis, kami akan mulai melihat peluang, termasuk pertumbuhan pendapatan dan bagaimana memanfaatkan lebih baik jejak produksi gabungan yang mungkin bisa kami peroleh,” kata Chairman dan Chief Executive Officer Goodyear, Richard J. Kramer, dikutip Bloomberg, Senin (22/2/2021).

Kesepakatan itu diperkirakan selesai pada paruh kedua 2021. Kesepakatan harus memenuhi persyaratan peraturan tertentu dan harus disetujui oleh pemegang saham Cooper.

Lazard Ltd. dan JPMorgan Chase & Co. menjadi penasehat Goodyear, sementara Goldman Sachs Group Inc. menjadi penasehat Cooper.

Bersama Cooper yang berdiri sejak 1914, Goodyear memperoleh pendapatan sebagai produsen ban terbesar kelima di Amerika Utara, dengan sekitar 10.000 karyawan di dunia.

Di China, Goodyear akan mendapatkan akses yang lebih baik ke pabrikan lokal dan menciptakan distribusi yang lebih luas untuk ban pengganti Cooper.

Industri ban sedang pulih dari keterpurukan pandemi. Pekan lalu, produsen ban Prancis, Michelin, memperkirakan bisnis akan kembali ke tingkat pra-pandemi pada paruh kedua 2022.