Indonesia Pertajam Kerja Sama dengan Inggris, Ini 3 Poin Pembahasannya

12 November 2021 13:07 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan bilateral dengan PM Inggris Boris Johnson di sela-sela KTT PBB ke-26 Glasgow. (Twitter/@jokowi.)

JAKARTA - Indonesia mempertajam pembahasan kerja sama dengan Inggris setelah pertemuan bilateral kedua negara di sela-sela KTT Perubahan Iklim PBB ke-26 (COP26) Glasgow baru-baru ini.

Pertemuan lanjutan kedua pemimpin negara kembali digelar pada Kamis, 11 November 2021, di Istana Merdeka, Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Joko Widodo membahas kemajuan kerja sama kedua negara dengan Menteri Luar Negeri Inggris Elizabeth Truss, sebagai tindak lanjut pembicaraan dengan Perdana Menteri Boris Johnson di Glasgow sebelumnya.

Jokowi mengatakan Indonesia senang dapat mendukung Inggris menjadi mitra diskusi di kawasan ASEAN.

Bagi Indonesia, Inggris adalah mitra dagang yang strategis mengingat posisi tawar (bargaining) negara itu yang kuat di Eropa.

"Saya harap kemitraan ASEAN-Inggris akan memperkuat kerja sama kita, berdasarkan rasa saling menghormati dan saling menguntungkan," katanya dalam keterangan resmi dikutip Jumat, 12 November 2021.

Tiga Poin Pembahasan

Jokowi menyebutkan ada tiga poin pembahasan kerja sama kedua negara dalam pertemuan tersebut.

Pertama, kerja sama antara London Stock Exchange (LSE) dengan Indonesia Stock Exchange (IDX) atau Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam pembentukan pertukaran pasar karbon (carbon market exchange).

Sebagai gambaran, Indonesia sebenarnya telah mulai terlibat aktif dalam kegiatan perdagangan karbon sejak tahun 2005 ketika dibentuk Komisi Nasional Mekanisme
Pembangunan Bersih.

Pasar karbon bekerja untuk menghambat laju penumpukan gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi yang dapat menyebabkan pemanasan global.

Sejak Paris Agreement 2015, Indonesia bertekad menurunkan emisi GRK nasional di tahun 2030 lebih rendah 29% dari tingkat emisi tanpa upaya mitigasi. Dengan bantuan internasional, kontribusi tersebut dapat ditingkatkan sampai dengan 41%.

Namun, tantangannya adalah pengembangan model pembiayaan untuk implementasi penurunan emisi ini belum kuat. Salah satu dari model pembiayaan yang sekarang lazim yaitu melalui perdagangan hak atas emisi GRK dalam pasar karbon.

Baru-baru ini, ketika berbicara di hadapa pemimpin dunia di COP26, Jokowi meminta dukungan pendanaan internasional hingga Rp1.400 triliun dalam upaya meningkatkan efisiensi penurunan emisi karbon hingga 2060.

Dalam pertemuan dengan Jokowi di Glasgow, Inggris meminta agar Indonesia segera membatasi pengembangan batu bara sebagai sumber energi nasional. Menurut catata Kementerian ESDM, ketergantungan Indonesia pada energi batu bara mencapai 80%.

Pembahasan kedua yang dilakukan Jokowi dan Menlu Truss adalah mengenai investasi bersama Indonesia–Inggris dalam hal pengembangan produksi katoda di Inggris untuk memenuhi kebutuhan baterai litium di Inggris dan Eropa.

"Indonesia akan menyediakan prekursor yang diperlukan dari pabrik di Indonesia yang dibangun atas investasi bersama kita," terang Jokowi.

Pokok diskusi terakhir yang dilakukan kedua pemimpin adalah penguatan kerja sama vaksin dan bioteknologi.

Sejauh ini, Indonesia telah berkomunikasi dengan Oxford University untuk mengirimkan lebih banyak pelajar dan peneliti.

Jokowi memandang pandemi telah memberikan pelajaran pentingnya membangun lebih banyak pusat untuk vaksin, obat-obatan, dan peralatan medis.

Jokowi pun meminta Menlu Elizabeth Truss untuk menyampaikan pokok-pokok pembahasan kerja sama kepada PM Johnson.

"Indonesia akan mengirimkan tim ke Inggris untuk segera menindaklanjuti hal ini, dan tentunya dukungan Inggris terhadap Presidensi G20 Indonesia akan sangat kami hargai," imbuh Jokowi.

Potensi Kenaikan PDB Indonesia

Menlu Truss mengatakan Indonesia merupakan mitra utama untuk Global Britain, sebagai negara terbesar keempat di dunia berdasarkan populasi.

Indonesia juga diperkirakan akan meningkatkan PDB-nya lebih dari lima kali lipat sebesar 532% antara tahun 2020 dan 2050, menurut perkiraan The Economist Intelligence Unit berbasis Inggris.

"Ikatan yang lebih dalam dengan Indonesia —sebagai negara terbesar keempat di dunia dalam hal populasi dan kekuatan ekonomi saat ini dan masa depan— akan membantu mengamankan masa depan yang sukses bagi Inggris dan memberi hasil bagi rakyat kita," ujar Truss dalam keterangan resminya.

Dalam pertemuan dengan Jokowi di Glasgow, investor Inggris telah menyatakan ketertarikan mereka untuk melakukan investasi di Indonesia. Mereka menyebut akan menginvestasikan dana hingga US$9,29 miliar setara Rp130,06 triliun.

"Indonesia telah menjadi destinasi yang sangat atraktif bagi Foreign Direct Investment. Kita percaya Indonesia akan terus menarik investasi dari seluruh dunia," ucap salah satu dari CEO, Senin, 1 November 2021.

Berita Terkait