Indonesia Ingin Kapal Perang Besar, China Lantik Destroyer Terbesar

JAKARTA- Maraknya kapal asing, terutama dari China yang masuk ke wilayah Indonesia di Natuna membuat banyak orang sadar bahwa kekuatan TNI Angkatan Laut masih sangat minim untuk melakukan penjagaan. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kemudian mengatakan ingin membeli kapal perang besar untuk menutup celah tersebut.

Tidak salah jika Prabowo menyatakan keinginan tersebut karena selama ini armada angkatan laut Indonesia memang belum memiliki platform tersebut. Hampir semua kapal perang permukaan yang ada adalah kelas frigat yang relatif kecil dengan bobot sekitar 3.000 ton.

Jangan sepelekan ukuran kapal perang, karena semakin besar kapal maka banyak hal yang bisa dilakukan. Kapal besar berarti bisa membawa bahan bakar dan logistik yang lebih banyak hingga mampu beroperasi lebih lama di tengah lautan tanpa harus kembali ke pangkalan untuk pengisian ulang.

Kapal besar juga berarti bisa mengemas senjata yang lebih besar. Selain itu juga bisa membawa teknologi yang lebih canggih semacam radar dan sonar. Hal inilah yang menjadikan kapal besar bisa menjalankan berbagai misi dibandingkan kapal kecil.

Di dunia kapal perang permukaan memang dikenal sejumlah kelas. Di atas frigat ada kapal destroyer yang biasanya memiliki bobot perpindahan lebih dari 4.000 ton. Kapal perusak peluru kendali, menggusur bobot dari 4.500 ke hampir 8.000 ton.

Ukuran yang lebih besar disebut sebagai penjelajah atau cruiser. Dengan bobot di atas 8.000 ton kapal ini menjadi andalan untuk menggempur target darat karena bisa mengemas senjata besar dan berbagai macam.

Frigat, seperti yang dimiliki Indonesia lebih cocok untuk pertempuran pesisir atau dekat dengan rumah dengan misi biasanya tunggal. Ada kapal dengan misi antikapal selam atau  antipermukaan. Kapal kelas ini juga bisa melakukan serangan ke darat meski dengan senjata terbatas..

Sedangkan kapal yang lebih besar seperti kelas destroyer atau bahkan penjelajah akan memiliki banyak peran yang bisa dilakukan. Selain bisa melakukan serangan ke darat, kapal kelas ini bisa memiliki misi antikapal selam, antikapal permukaan hingga pertahanan udara.

China lantik destroyer terbesar

Ironisnya, ketika Indonesia baru ingin memiliki kapal yang lebih besar, China telah melompat beberapa langkah di depan. Angkatan Laut Pembebasan Rakyat China pada 12 Januari 2020 secara resmi menerima kapal destroyer Type 055 pertama yang dibangun di dalam negeri. Ini bukan kapal perang sembarangan.

Type 055 adalah destroyer terbesar di Asia dan nomor dua di dunia setelah Kelas Zumwalt milik Angkatan Laut Amerika. Type 055 bahkan lebih mirip dengan penjelajah atau cruiser, kapal combatan permukaan terbesar setelah kapal induk.

Commissioning kapal yang dinamai dengan Nachang ini dilakukan di pangkalan angkatan laut Xiaokouzi selatan Qingdao. Mendapat nomor lambung 101, destroyer itu dibangun di galangan kapal Changxingdao dekat Shanghai.

Type 055 memiliki bobot perpindahan 12.000 ton saat muatan penuh, panjang 180 m dan lebar 20 m. Ukuran ini membuatnya sedikit lebih besar dari kapal penjelajah kelas Ticonderoga milik Angkatan Laut Amerika yang berbobot 10.000 ton, panjangnya 173 m dan lebar 17 m.

Kapal ini dan membawa 112 sel sistem peluncuran vertikal (VLS), di samping senjata 130 milimeter dan beragam sensor dan senjata defensif.

Tidak jelas akan berapa kapal Type 055 yang akan dibangu China. Tetapi perkiraan bisa mencapai 24 unit dan paling sedikit enam unit.

Meskipun secara resmi Angkatan Laut China menyebutnya sebagai destroyer, ukuran dan kapabilitas kapal melebihi standar tradisional untuk jenis kapal perang yang biasanya memainkan peran defensif melawan kapal selam dan pesawat.

Dalam laporan kekuatan militer Departemen Pertahanan Amerika tahun 2018, Type 055 disebut “cruiser”, yang menurut definisi Amerika, adalah kapal perang permukaan terbesar dan terkuat setelah kapal induk.

Fitur destroyer termasuk radar X band canggih dalam empat susunan yang memindai secara elektronik dan sistem elektronik terintegrasi yang mirip dengan sistem tempur Aegis pada kapal Angkatan Laut Amerika.

Mengingat ukurannya, Type 055 juga bisa berfungsi sebagai platform untuk mengembangkan senjata generasi berikutnya seperti senjata laser energi tinggi atau senjata lain. Secara teori, Type 055 adalah perusak paling kuat kedua di dunia setelah Kelas Zumwalt milik Amerika.

Type 055 juga bisa mengimbangi atau bahkan lebih unggul dibandingkan perang lainnya yang dikerahkan di wilayah tersebut, terutama kelas Sejong the Great Korea Selatan (DDG-991) dan kelas Atago serta Maya milik Jepang.

Baik destroyer kelas Sejong dan Atago memiliki perpindahan total sekitar 10.000 ton dan sistem tempur Aegis, dengan kelas Sejong Agung membanggakan 128-sel VLS.

Namun para analis mengatakan mereka yakin Type 055 melampaui kapal-kapal Korea dan Jepang dalam ukuran, kinerja sistem radar, kapasitas rudal dan multifungsi.

Tags:
Kapalnatunateknologi militer
%d blogger menyukai ini: