Indonesia Gagal Dapat Pasokan 86 Juta Dosis Vaksin Tahun ini

16 April 2021 22:35 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Nampak sejumlah petugas kesehatan tengah melaksanakan kegiatan vaksin di Pos Pelayanan Vaksinasi Drive Thru yang berlokasi di West One City Cengkareng Jakarta Barat,Rabu 10 Maret 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) batal mendapatkan 86 juta pasokan vaksin COVID-19 pada tahun ini. Vaksin yang telah dipesan Indonesia itu diperkirakan baru akan tiba pada 2022.

Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi merinci vaksin tersebut terdiri atas 22 juta dosis vaksin Novavax dan 24 juta vaksin dari The Global Alliance for Vaccines and Immunisation (GAVI). Adapun 23,8 juta vaksin berasal dari AstraZeneca dan 16,4 juta dosis vaksin lainnya dari Pfizer.

“Kementerian Kesehatan saat ini sedang negosiasi tambahan vaksin ke Sinovac untuk memenuhi kebutuhan nasional,” kata Siti Nadia dalam konferensi pers, Jumat 16 April 2021.

Tambahan vaksin Sinovac itu diproyeksikan datang pada kuartal III-2021. Untuk mengisi pasokan vaksin pada April hingga Mei 2021, pemerintah mengandalkan produksi vaksin Coronavac buatan PT Bio Farma (Persero).

Kemenkes sebelumnya dikabarkan berpotensi kehilangan 100 juta dosis vaksin COVID-19. Sebanyak 50 juta vaksin di antaranya buatan AstraZeneca yang seharusnya datang mulai kuartal II-2021.

Stok vaksin COVID-19 Indonesia terganggu usai terjadi lonjakan kasus positif COVID-19 di India, produsen vaksin terbesar dunia. Dari 11,7 juta dosis vaksin AstraZeneca yang dipesan Indonesia, baru terkirim sebanyak 1,7 juta dosis saja. 

Dalam memaksimalkan pasokan yang ada, pemerintah bakal memfokuskan pemberian vaksin COVID-19 kepada kalangan lanjut usia (lansia). Padahal, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut Indonesia merupakan negara kedelapan dengan vaksinasi COVID-19 terbanyak di dunia.

Kecepatan vaksinasi COVID-19 di Indonesia, kata Budi, sudah bisa menembus 500.000 per dosis bila pasokan terpenuhi. Kendati demikian, Budi mengatakan bakal tetap mengoptimalkan kecepatan penyuntikan untuk memenuhi tenggat waktu vaksinasi Presiden Joko Widodo, yakni akhir tahun ini.

“April ini sulit karena jumlah vaksinnya sedikit. Tapi Mei rencana kita produksi yang Bio Farma, sehingga vaksinasi bisa meningkat kembali,” ujar Budi dalam diskusi virtual beberapa waktu lalu. (LRD)

Berita Terkait