Indofarma Dapat Suntikan Rp199,86 Miliar dari Bio Farma untuk Produksi Alkes dan Obat COVID-19

03 September 2021 14:02 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

BUMN farmasi PT Indofarma Tbk. (INAF). (INAF.)

JAKARTA - PT Indofarma Tbk (INAF) mendapatkan suntikan dana dari induk usahanya, PT Bio Farma (Persero), senilai Rp199,86 miliar. Dana tersebut digunakan untuk mengembangkan kemandirian alat kesehatan dan obat herbal guna membantu pemerintah menangani pandemi COVID-19.

"Perseroan pada tanggal 31 Agustus 2021 menandatangani perjanjian pemberian pinjaman pemegang saham dengan Bio Farma dengan nilai total Rp199,86 miliar," ujar Direktur Utama INAF Arief Pramuhanto dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat, 3 September 2021.

Arief menjelaskan ada tiga manfaat utama dari dana pinjaman dengan perusahaan produsen atau pengembang vaksin COVID-19 Sinovac tersebut.

Pertama, memberikan nilai tambah strategis terhadap perseroan dan diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan pandemi COVID-19 di tanah air.

Kedua, memberikan manfaat yang signifikan bagi pelanggan dan seluruh pemangku kepentingan serta menegaskan komitmen perseroan untuk berkontribusi dalam membangun ketahanan sektor kesehatan nasional.

"(Ketiga) Meningkatkan brand image perseroan kepada pihak eksternal karena telah mendukung program pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19," katanya.

Arief mengatakan jumlah pinjaman tersebut sekitar 46,44% dari ekuitas perseroan menurut laporan keuangan yang tercatat sebesar Rp430,32 miliar pada 2020.

Pinjaman tersebut berlaku selama 10 tahun sudah termasuk masa grace period pada tahun pertama hingga tahun kesembilan. Dengan demikian, INAF tidak perlu membayar bunga selama jangka waktu itu.

"Nol persen per tahun untuk tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-9 dan 7,99% per tahun untuk tahun ke-10 jika posisi cashflow perseroang sudah membaik. Pembayaran bunga dilakukan setiap triwulan di tahun ke-10," terang Arief.

Kinerja Semester I-2021

Selama penanganan pandemi, perseroan konsisten dan terus berupaya untuk menangkap peluang demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Pada semester pertama tahun 2021, perseroan berhasil mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp849,32 miliar. Angka ini meningkat 90% atau Rp402,02 miliardari periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp447,29 miliar.

Peningkatan penjulan tersebut terutama ditopang dari penjualan segmen Alat Kesehatan dan Obat-obatan sesuai dengan strategi Turn Around Management (TAM).

Secara operasional, perseroan telah berhasil meningkatkan kinerja sehingga mampu mendapatkan EBITDA pada semester pertama tahun 2021 sebesar Rp187 miliar. Jumlah tersebut tumbuh 685% dari sebesar Rp24 miliar pada periode tahun lalu.

Sementara itu, liabilitas INAF meningkat sebesar 9% dari semula Rp1,38 triliun menjadi Rp1,51 triliun pada semester pertama tahun 2021.

Kemudian, aset perseroan turut mengalami peningkatan 7% dari semula Rp1,82 triliun menjadi Rp1,95 triliun pada semester pertama tahun 2021.

Dengan adanya penerapan kebijakan akuntansi PSAK 71 di tahun 2021, perseroan mencadangkan penurunan nilai piutang sebesar Rp110,54 miliar.

Namun, kas dan setara kas perseroan tercatat menurun menjadi sebesar Rp117,96 miliar dari periode tahun lalu sebesar Rp158,17 miliar.

Demikian halnya dengan laba yang diatribusikan ke entitas induk hanya mencapai Rp977,78 juta dari periode tahun lalu sebesar Rp4,66 miliar.

Berita Terkait