Indika Energy Milik Konglomerat Sudwikatmono Tambah Utang Global Rp3,29 Triliun

JAKARTA – Emiten batu bara milik konglomerat Sudwikatmono, PT Indika Energy Tbk (INDY) telah selesai melakukan roadshow dan penetapan harga untuk penerbitan surat utang global (global bond) baru. Nilai surat utang ini mencapai US$225 juta atau RP3,29 triliun (kurs Jisdor Rp14.609 per dolar AS). Jatuh tempo ditetapkan pada 2025 dengan kupon 8,25% per tahun.

Surat utang ini merupakan seri lanjutan dari global bond awal yang ditawarkan anak usaha Indika Energy, yakni Indika Energy Capital IV Pte Ltd. Jumlah surat utang yang diterbitkan itu sebesar Rp450 juta atau Rp6,57 triliun dengan kupon dan tenor yang sama.

“Sehingga total penerbitan surat utang awal dan surat utang tambahan akan berjumlah sebesar US$675 juta,” terang Sekretaris Perusahaan Indika Energy Adi Pramono dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), disitir Selasa, 3 November 2020.

Dalam surat itu diterangkan pula bahwa global bond ini nantinnya bakal dijamin oleh empat anak usaha Indika Energy. Keempat anak usaha ini adalah PT Indika Inti Corporindo, PT Tripatra Engineers and Constructors, PT Tripatra Multi Energi, dan Indika Energy Capital Pte Ltd.

Adapun tujuan dari penerbitan global bond ini adalah untuk melunasi surat utang senior perusahaan yang bakal jatuh tempo pada 2023. Nilainya sebesar US$500 juta dengan bunga 6,375%.

“Dana hasil bersih penerbitan surat utang tambahan akan digunakan untuk pembayaran kembali utang perseroan atau anak perusahaannya,” tukas Adi.

Tidak Sesuai Target

Sejatinya, penerbitan surat utang tambahan ini masih jauh di bawah target perseroan sebelumnya, yakni US$750 juta. Rencananya, tenor obligasi ini bakal ditetapkan paling lama 7 tahun dengan kupon bunga maksimum 9,75% per tahun.

Waktu itu, Manajemen Indika Energy menjelaskan bahwa hasil emisi ini akan digunakan untuk mempercepat pelunasan obligasi global anak usaha yang jatuh tempo pada 2022 dan 2023.

Total surat utang jatuh tempo pada 2022 senilai US$265 juta dengan bunga tetap 6,875% per tahun. Sedangkan surat utang jatuh tempo pada 2023 sebesar US$500 juta dengan bunga 6,375% per tahun.

Namun sebelum menerbitkan obligasi tersebut, perseroan berniat meminta persetujuan pemegang saham mengingat transaksi ini bersifat material atau 77,5% dari ekuitas perseroan yang senilai US$946,62 juta.

Rencananya, Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) bakal diselenggarakan pada 26 Oktober 2020. Sementara hasilnya bakal disampaikan melalui surat kabar pada 28 oktober 2020.

“Dengan pertimbangan bahwa, adanya ketidakpastian atas perkembangan harga batu bara di masa yang akan datang, perseroan berharap agar penerbitan surat utang dapat menjaga likuiditas dan posisi kas perseroan,” tulis surat itu, Jumat, 23 Oktober 2020.

Sebagai tambahan informasi, mayoritas saham Indika Energy sendiri masih dikuasai oleh trah konglomerat Sudikatmono. Berdasarkan laporan keuangan perseroan terbaru, pemegang saham mayoritas INDY masih dipegang oleh PT Indika Investindo dengan kepemilikan 37,79%. Disusul oleh PT Teladan Resources dengan kepemilikan 30,65%. Lalu investor publik dengan total kepemilikan 31,56%.

Agus Lasmono Sudwikatmono memiliki saham mayoritas di Indika Inti Investindo. Pada 2019, Agus sempat diganjar sebagai salah satu anak muda terkaya versi Forbes dengan kekayaan mencapai Rp7,78 triliun rupiah.

Tags:
emiten batu baraHeadlinekonglomerat sudwikatmonoPT Indika Energy TbkSudwikatmono
Fajar Yusuf Rasdianto

Fajar Yusuf Rasdianto

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: