Indika Energy Gandeng Perusahaan India Garap Bisnis PLTS Senilai Rp7 Triliun

March 05, 2021, 07:04 PM UTC

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Emiten pertambangan batu bara milik konglomerat Sudwikatmono PT Indika Energy Tbk (INDY) saat RUPST 2018 / Foto: Dok. Indika Energy

JAKARTA – PT Indika Energy Tbk (INDY) bersama dengan Fourth Partner Energy Ltd (4PEL) asal India mendirikan perusahaan penyedia solusi tenaga surya terintegrasi di Indonesia bernama PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS).

Nilai investasi mencapai US$500 juta atau setara Rp7 triliun (asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS) sepanjang tahun 2021 hingga 2025.

Direktur Utama Indika Energy Arsjad Rasjid mengatakan EMITS akan menghadirkan berbagai solusi pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk sektor komersial maupun industri di Tanah Air.

“Kerja sama ini juga merupakan wujud komitmen Indika Energy dalam mendiversifikasi portofolio bisnis, mencapai tujuan keberlanjutan, meningkatkan kinerja ESG (environmental, social, governance), serta mendukung upaya pemerintah dalam mencapai target bauran EBT sebesar 23 persen tahun 2025,” ujarnya melaui keterangan resmi, Jumat 5 Maret 2021.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif berharap dengan adanya EMITS ini dapat meningkatkan investasi di bidang infrastruktur EBT.

Perusahaan patungan ini juga diharapkan mampu menghadirkan inovasi teknologi yang lebih andal, efisien, murah dan ramah lingkungan. Selain itu, perusahaan dapat menyerap tenaga kerja dan mendukung upaya pemulihan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19.

“Pemerintah berkomitmen untuk terus berupaya memberikan instrumen dan kemudahan berinvestasi melalui regulasi dan kebijakan yang mengedepankan transisi energi bersih,” tuturnya.

Merujuk data Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, realisasi bauran EBT hingga akhir 2020 diperkirakan mencapai 10.467 MW atau 11,51% dari total konsumsi energi nasional.

Meski menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,3% dari tahun 2019, realisasi ini masih lebih rendah dari target 13% yang ditetapkan Kementerian ESDM untuk tahun 2020.  

Adapun, untuk mencapai target bauran EBT 23% pada 2025, Kementerian ESDM memproyeksikan total investasi yang dibutuhkan akan mencapai US$36,95 miliar atau setara Rp517,3 triliun.

Perusahaan EBT Asal India

Fourth Partner Energy merupakan penyedia solusi energi tenaga surya terdepan di India yang berfokus pada sektor komersial dan industrial. Perusahaan ini memiliki portofolio PLTS dengan total kapasitas terpasang sebesar 550 MW di 24 negara bagian.

Salah satu proyek terbesar Fourth Partner Energy adalah taman panel surya berkapasitas 100 MW di Uttar Pradesh, yang nantinya akan memasok energi untuk salah satu perusahaan semen terbesar di India.

Co-Founder dan Executive Director Fourth Partner Energy Vivek Subramanian menyebut Indonesia memiliki potensi pengembangan sektor energi terbarukan yang sangat besar. Hal ini sejalan dengan target agresifnya untuk melakukan dekarbonisasi.

Ia bilang, EMITS siap mengambil peran penting dalam transisi energi hijau di Indonesia dengan menghadirkan listrik yang bersumber dari energi yang lebih bersih dan berbiaya lebih rendah.

“Dengan kompetensi yang dimiliki Indika Energy, serta keahlian kami di bidang energi terbarukan, kami yakin EMITS akan menjadi platform solusi energi terbarukan yang terdepan di Indonesia,” imbuhnya.

Saat ini, secara mayoritas Fourth Partner Energy dimiliki oleh The Rise Fund, social impact fund terbesar di dunia dengan total dana kelolaan sebesar US$5 miliar.

The Rise Fund didirikan oleh TPG Global, bekerja sama dengan berbagai tokoh ternama dunia, seperti vokalis grup band U2 asal Irlandia Bono, Ratu Rania dari Yordania, dan presiden pertama eBay Jeff Skoll.

The Rise Fund memfokuskan investasinya pada perusahaan yang memiliki dampak positif dan terukur terhadap aspek sosial dan lingkungan, serta mampu menghasilkan imbal hasil kompetitif secara finansial.

Sementara itu, bagi Indika Energy, pendirian EMITS akan berkontribusi terhadap pencapaian komitmen perusahaan untuk meningkatkan porsi pendapatan dari sektor non-batu bara sebesar 50% pada tahun 2025.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di sektor energi terbarukan. Saat ini kami melihat mulai meningkatnya permintaan atas solusi energi bersih dan ramah lingkungan. Kami berkomitmen untuk berkontribusi secara signifikan dan terus menjalankan bisnis secara berkelanjutan,” tutup Arsjad.