Impor Vaksin Bakar Duit, Erick: Vaksin COVID-19 Buatan Bio Farma akan Diproduksi Juli 2022

29 Desember 2021 11:00 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Vega Aulia

Menteri BUMN Erick Thohir mendampingi Presiden Jokowi dalam acara groundbreaking Rumah Sakit (RS) Internasional Bali yang terletak di Kawasan Wisata Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, pada Senin, 27 Desember 2021. (Kementerian BUMN)

JAKARTA – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong agar vaksin COVID-19 bisa diproduksi di dalam negeri.

Hal itu guna menekan impor vaksin yang sepanjang Januari-November 2021 telah mencapai US$3,56 miliar setara Rp51 triliun (asumsi kurs Rp14.337 per dolar AS).

Impor vaksin terus meningkat seiring percepatan vaksinasi sejak awal Januari 2021. Adapun total kebutuhan anggaran untuk program vaksinasi 2021 sekitar Rp58 triliun.

Erick menjelaskan bahwa pada 13 Desember 2021 lalu telah dimulai uji klinis vaksin dalam negeri buatan Holding PT Bio Farma (Persero).

Dengan dimulainya uji klinis tersebut, Erick berharap tahun depan Indonesia mampu memproduksi vaksin secara mandiri. Ditargetkan, vaksin buatan Bio Farma bisa diproduksi pada pertengahan tahun depan.

"Kita harapkan dengan uji klinis ini kesatu lalu kedua dan ketiga, kita juga bisa menekan impor vaksin di tahun depan. Kita siap memproduksi 77 juta (dosis) untuk langkah awal yang bisa mulai insyaallah di bulan Juli (2022)," katanya seperti dikutip dari laman Kementerian BUMN, Rabu 29 Desember 2021.

Erick mengungkapkan hal itu di sela-sela acara groundbreaking Rumah Sakit (RS) Internasional Bali yang terletak di Kawasan Wisata Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali, pada Senin, 27 Desember 2021.

Dia menambahkan, secara bisnis Bio Farma diharapkan mampu membuka peluang baru dalam industri kesehatan seperti industri vaksinasi. Saat ini, produsen vaksin COVID-19 tersebut sedang bekerja sama dengan banyak pihak untuk melakukan uji coba terkait jenis vaksin yang akan digunakan nantinya.

"Kita sekarang bekerja sama dengan berbagai pihak apakah merupakan vaksin mRNA atau protein rekombinan yang hari ini memang masih terus kita jajaki," imbuhnya.

Hingga Juli 2021, produsen obat-obatan yang berbasis di Bandung, Jawa Barat ini telah memproduksi 90,1 juta dosis vaksin. Bio Farma menjadi satu-satunya perusahaan pelat merah andalan pemerintah dalam upaya mengendalikan pandemi COVID-19 dengan menyediakan vaksin Sinovac dari China.

Selain vaksin, Bio Farma juga memproduksi alat tes antigen dan RT-PCR yang telah didistribusikan kepada masyarakat melalui anak usaha dan sejumlah rumah sakit.

Sebagai induk Holding BUMN Farmasi yang membawahi PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), dan sejumlah rumah sakit yang berada di bawah Indonesia Healthcare Corporation (IHC), Bio Farma, kata Erick, terus didorong agar bisa menjadi pemain terdepan dalam industri vaksin.

Dia menambahkan program kemandirian vaksin sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo yang menyampaikan keinginannya agar pemerintah segera menghentikan impor baik alat kesehatan, obat-obatan, maupun bahan baku obat dan diupayakan diproduksi sendiri.

“Alat-alat kesehatan, obat-obatan, bahan baku obat, kita harus berhenti untuk mengimpor barang-barang itu lagi dan kita lakukan, kita produksi sendiri di negara kita," kata Jokowi.

Sebelumnya, Erick menyebut, pembatasan impor vaksin merupakan upaya intervensi pemerintah untuk memaksimalkan bahan baku dalam negeri dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terus bersaing.

"Nggak mungkin juga kita impor terus ke depan. Lagi berusaha dengan yang namanya vaksin BUMN, doain aja. Karena nggak mungkin kita pakai vaksin asing terus," katanya.

Berita Terkait