Pertamina Masuk Fortune 500 Tapi Defisit Migas Kian Bengkak

06 Agustus 2021 04:02 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Sukirno

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). / Instagram @basukibtp

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) kembali masuk daftar Fortune 500 tahun ini. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut jadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar top perusahaan dunia dan bertengger di posisi 287.

Sayangnya prestasi moncer Pertamina itu tidak tercermin dari kinerja perusahaan. Sebagai holding BUMN minyak dan gas (migas) yang menguasai hulu dan hilir migas Indonesia, Pertamina justru menuai sejumlah kegagalan. Contohnya adalah ketergantungan terhadap impor migas nasional yang kian membesar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama periode Januari-Juni 2021, defisit migas Indonesia terus membengkak. Total defisit migas mencapai US$5,7 miliar atau lebih dari Rp82 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS). Sepanjang semester I-2021 ini, realisasi nilai impor migas nasional meningkat 28,36% menjadi US$20,1 miliar.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan defisit migas yang terus membengkak wajar terjadi. Selain konsumsi di dalam negeri mulai meningkat, harga minyak selama tahun 2021 juga terus merangkak naik.

“Defisit migas terjadi karena impor yang makin besar dan harga minyak yang terus naik selama 2021. Biaya impor minyak Pertamina semakin tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2020,” ujar Mamit kepada TrenAsia.com, Kamis, 5 Agustus 2021.

Tak hanya impor migas yang besar, Pertamina juga lamban dalam menyelesaikan sejumlah proyek strategis nasional. Salah satunya adalah proyek proyek Refinery Development Master Plant (RDMP) kilang minyak Balikpapan dan RDMP Kilang Minyak di Cilacap. Bahkan, di dua proyek bernilai jumbo itu para calon investornya justru kabur.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan bahwa salah satu dari dua investor yang berencana menyuntik dana di kilang Balikapapan tersebut memutuskan untuk membatalkan investasinya. Nicke menyebut kedua calon investor tersebut adalah Mubadala dan GIC Limited dari Singapura.

“Kita berharap dampak secara informal mundurnya salah satu tidak menghambat progress proyek. Karena sebetulnya equity partner ini porsinya tidak terlalu besar dan porsi loan berjalan terus,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi VII DPR beberapa waktu lalu.

Santer beredar kabar kaburnya calon investor dari RDMP Kilang Balikpapan akibat biaya proyek yang membengkak. Semula biaya proyek yang akan meningkatkan kapasitas produksi Kilang RU V Balikpapan dari 260 kpbd menjadi 360 kpbd ini sebesar US$4,5 miliar. Belakangan terjadi pembengkakan biaya hingga sekitar US$2 miliar menjadi US$6,5 miliar.

"Di tengah situasi pandemi seperti ini biaya membengkak US$2 miliar itu sudah tidak masuk akal. Investornya kabur karena akan sulit bagi mereka untuk mengembalikan biaya investasi dengan nilai proyek yang membengkak US$2 miliar," ungkap sumber TrenAsia.com yang enggan disebutkan namanya.

Tak hanya RDMP Kilang Balikpapan, RDMP Cilacap juga ditinggalkan calon investor besarnya yaitu Saudi Aramco. Nilai investasi juga disebut menjadi biang mundurnya Saudi Aramco dari Cilacap.

Sebagai penerima manfaat pemerintah melalui subsidi bahan bakar minyak (BBM), kinerja Pertamina sesungguhnya jauh dari membanggakan. Laba bersih konsolidasian tahun 2020 hanya US$1,05 miliar atau sekitar Rp15,3 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS). Jumlah itu anjlok 58,44% dibandingkan dengan 2019 sebesar US$2,53 miliar atau sekitar Rp35,8 triliun.

Berita Terkait