IMF: Perselisihan Tekonologi Antar AS-China Berpotensi Potong PDB Global

April 17, 2021, 04:41 PM UTC

Penulis: Mochammad Ade Pamungkas

Sumber: Aseanop.com

JAKARTA- Asisten Direktur Departemen Asia Pasifik International Monetary Fund (IMF), Helge Berger memperkirakan perselisihan di sektor teknologi antara Amerika Serikat dan China akan menyebabkan kerugian PDB Global.

“Dunia adalah tempat yang terintegrasi, jika anda berhenti bertukar pengetahuan antar negara, anda akhirnya harus menerima konsekuensi, dan ini bisa cukup tinggi.” Ujar Helge Berger dikuti dari Bloomberg pada Jumat 16 April 2021.

Peringatan Berger itu merespon upaya Pemerintah AS yang sedang meninjau kebijakan pengadaan bea cukai US$300 miliar atau sekitar Rp4,3 kuadriliun pada impor tahunan China (asumsi kurs Rp14.565 per dolar Amerika Serikat).

“Ketegangan terkait hubungan AS dan China merupakan salah satu faktor risiko yang kita lihat, ini adalah kekhawatiran konstan,” lanjut Helge Berger.

Mengutip dari Argus Media, Menteri Perdagangan Amerika Serikat Gina Raimondo sempat mengatakan adanya kemungkinan jika AS akan menetapkan kebijakan warisan dari Donald Trump tersebut.

Karena menurutnya tindakan China selama ini bersifat koersif, licik, dan tidak kompetitif.

“Maka saya berencana untuk seagresif mungkin menggunakan apa yang saya punya untuk melindungi para pekerja dan bisnis Amerika dari praktik China yang tidak adil,” Ujar Gina Raimondo pada 7 April 2021.

Melansir dari hasil penelitian IMF, perpecahan teknologi antara AS dengan China akan berdampak pada kerugian sekitar 5% PDB ke berbagai negara.

Helge Berger juga memperdiksi dampak secara global yang diaikbatkan oleh hal tersebut akan mencapai 0,4% dari PDB dunia.

“Ketegangan terkait hubungan AS dan China merupakan salah satu faktor risiko yang kita lihat, ini adalah kekhawatiran konstan,” lanjut Helge Berger.

Oleh karena itu, Berger menekankan urgensi kedua negara besar tersebut dapat berkompetisi secara sehat penetapan bea cukai yang berlebihan, khususnya pada sektor teknologi.

“Jadi penting jika kedua ekonomi besar dan sangat penting ini yang merupakan bagian besar dari ekonomi global mencari cara untuk bekerja sama,” tutup Helge Berger.(RCS)