IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 3,2 Persen pada 2021

14 Oktober 2021 10:03 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 3,2 Persen pada 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (Trenasia.com)

JAKARTA -- International Monetary Fund (IMF) baru saja menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di tingkat 3,2% atau turun 0,7 percentage point (pp) dari proyeksi pada bulan Juli lalu. Proyeksi ini disampaikan dalam Laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2021.

IMF memandang bahwa pemulihan ekonomi masih solid meskipun beberapa aspek memengaruhi perubahan proyeksi, seperti isu gangguan supply di negara maju serta sempat memburuknya kasus COVID-19 di negara berkembang akibat varian Delta.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Febrio Kacaribu mengatakan pemerintah terus mewaspadai berbagai risiko global yang terjadi dengan meningkatkan kapabilitas dalam penanganan pandemi dan menjaga kewaspadaan dengan tetap disiplin pada protokol kesehatan, serta terus menyukseskan program vaksinasi.

Per 12 Oktober 2021, total vaksinasi Indonesia mencapai 157,93 juta dosis atau 28,87% terhadap populasi, di mana dosis pertama mencapai 100,32 juta dosis (36,68%) dan dosis kedua 57,61 juta dosis (21,06%).

Dia mengklaim bahwa momentum pemulihan ekonomi Indonesia terus menguat, khususnya sejak September 2021, seiring membaiknya situasi pandemi COVID-19 Tanah Air.

Hal ini tercermin dari berbagai indikator ekonomi, seperti mobilitas penduduk yang kembali tumbuh positif dan PMI Manufaktur yang kembali ke level ekspansif.

"Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut termasuk perkembangan indikator ekonomi terkini, pemerintah melihat outlook pertumbuhan Indonesia di 2021 di kisaran 3,7 hingga 4,5 persen," kata Febrio dalam keterangan resmi dikutip Kamis,14 Oktober 2021.

Dia menegaskan pemerintah terus memastikan kebijakan ekonomi dan fiskal terus diarahkan untuk mendukung upaya pengendalian pandemi, menjaga keberlanjutan pemulihan ekonomi, serta akselerasi reformasi struktural.

Secara makro, pemerintah dan DPR telah menyepakati kebijakan APBN 2022 yang lebih realistis karen adanya sikap kewaspadaan dan antisipatif terhadap peningkatan risiko global yang telah terjadi selama pandemi.

"Dengan semangat pengendalian pandemi, pemulihan ekonomi dan reformasi yang kuat, pemerintah berupaya untuk menciptakan pertumbuhan dan pembangunan Indonesia yang berkesinambungan dan inklusif di tengah lingkungan global yang menantang," katanya.

IMF secara keseluruhan memangkas proyeksi ekonomi dunia tahun 2021 dari 6,0% menjadi 5,9% dibanding proyeksi sebelumnya Juli setelah melihat dampak pandemi.

Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi ini terjadi secara luas di negara maju maupun negara berkembang. Hal ini menunjukkan adanya risiko global yang meningkat.

Dua perekonomian terbesar dunia, yakni Amerika Serikat dan China, juga mendapatkan revisi ke bawah untuk outlook pertumbuhannya, masing-masing diproyeksikan tumbuh 6,0% dan 8,0% di tahun 2021.

Sementara, penurunan proyeksi juga dialami ASEAN-5 dengan laju pertumbuhan di 2021 diperkirakan hanya mencapai 2,9% (turun 1,4 pp).

IMF memandang berbagai risiko global masih perlu diwaspadai ke depan, antara lain pemulihan yang tidak merata karena ketimpangan vaksin, perkembangan mutasi COVID-19, risiko inflasi, volatilitas pasar keuangan, serta menurunnya stimulus ekonomi.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 yang berada di level 4,9%.*

Berita Terkait