Imbas PPKM Darurat, Tingkat Hunian Perkantoran Jakarta Turun Jadi 72,99 Persen

05 Agustus 2021 22:01 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Laila Ramdhini

Lanskape gedung perkantoran dan hunian vertikal diambil dari kawasan Mega Kuningan, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA - Lembaga independen Knight Frank dalam Jakarta Property Highlight menyatakan sektor properti mendapatkan imbas dari situasi pandemi. Terutama dampak dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sehingga sistem Work For Home (WFH) diperpanjang.

“Ini berimplikasi terhadap transaksi di sektor perkantoran,” ungkap Country Head  Knight Frank Indonesia Willson Kalip, Kamis, 5 Agustus 2021.

Willson menuturkan pertumbuhan tingkat hunian mengalami koreksi 2% sehingga presentasenya menjadi 72,99%.

Menurutnya, penurunan ini disebabkan oleh beberapa hal, seperti habis masa sewa, tidak ada perpanjangan sewa, adanya relokasi, dan pengurangan ukuran ruang yang diperlukan. Di samping itu, beberapa rencana ekspansi juga harus tertunda pada semester ini. 

Di sisi lain, RDTX Place atau Chitaland Tower dikatakan menjadi satu-satunya gedung perkantoran yang tetap komitmen memasuki pasar. Dengan luas 94.000 m2, koridor Kuningan mendapat tambahan pasokan baru ruang kantor. 

Adapun bidang e-commerce, financial technology, information technology, dan trading masih menjadi sektor prospektif yang menyerap ruang perkantoran di CBD Jakarta. 

Dalam jangka pendek, kata Willson, redesain ruang kantor akan menjadi salah satu alternatif dalam upaya beradaptasi. Hal ini diperlukan guna menunjang operasional kantor agar sehat, produktif dan tetap optimistis di tengah pandemi.

Sementara, rerata indeks harga sewa ruang kantor di Asia Pasifik dilaporkan melemah pada kuartal II-2021. Nilainya minus 2,9%, padahal kuartal sebelumnya masih minus sebesar 0,3%.

Adapun beberapa kota, seperti Bengaluru, Tokyo, dan Singapura tengah menghadapi tantangan yang cukup tinggi pada semester. Begitu pula dengan Kuala Lumpur dan Jakarta.

Berita Terkait