Imbas Larangan Jokowi, Ekspor Batu Bara Anjlok 59,12 Persen pada Januari 2022

15 Februari 2022 17:10 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Laila Ramdhini

Kapal tongkang batu bara terlihat mengantre untuk ditarik di sepanjang sungai Mahakam di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, pada 31 Agustus 2019. (Reuters)

JAKARTA - Kebijakan pelarangan ekspor batu bara yang dikeluarkan Presiden Joko Widodo pada awal Januari 2022 langsung berdampak besar terhadap kinerja ekspor komoditas unggulan Indonesia tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor batu bara pada Januari lalu anjlok 59,12% dibandingkan dengan Desember 2021. Secara tahunan, ekspor batu bara pun tergelincir sebesar 61,30% (yoy).

"Untuk penurunan ekspor batu bara dibandingkan Desember 2021 yaitu sebesar US$1,69 miliar," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi pers virtual di Youtube BPS, Selasa, 15 Februari 2022.

Dia menjelaskan penurunan nilai ekspor batu bara pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan pelarangan ekspor akibat kelangkaan suplai batu bara bulan lalu, melainkan juga karena pengaruh harga di pasar internasional.

"Penurunan ekspor batu bara ini tidak semata-mata karena pelarangan mungkin juga ada pengaruh atau indikator lain seperti harga internasional dan sebagainya," terangnya.

Dia mengatakan kontribusi ekspor batu baru terhadap total ekspor nasional sebesar US$1,07 miliar atau 5,59% dari total ekspor yang mencapai US$19,16 milair.

Selain batu bara, komoditas andalan Indonesia yang juga mengalami penurunan nilai ekspor antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, timah dan barang daripadanya, serta mesin dan perlengkapan elektrik, kayu dan barang dari kayu.

Secara sektoral, nilai ekspor nonmigas untuk semua sektor mengalami penurunan secara bulanan. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai US$380 juta (-5,79%), industri pengolahan US$15,71 miliar (-7,91%), dan pertambangan dan lainnya mencapai US$2,17 miliar (-42,88%).

Setianto menuturkan ekspor nonmigas Januari 2022 mencapai US$18,26 miliar, turun 14,12% dibandingkan dengan Desember 2021, dan naik 26,74% dari Januari 2021.

Sementara ekspor migas mencapai US$900 juta, turun 17,59% (mtm) atau naik 1,96% yoy. Sedangkan impor migas meningkat sangat tajam pada Januari yaitu mencapai US$2,23 miliar, naik 43,66% mtm.

Dengan demikian, defisit migas mencapai US$1,33 miliar, turun dari bulan Desember sebesar US$2,28 miliar.

Surplus 21 Bulan Beruntun

Secaara keseluruhan, kinerja perdagangan Indonesia pada Januari 2022 masih positif karena melanjutkan tren surplus perdagangan yang terjadi sejak Mei 2020. Surplus perdagangan Januari 2022 mencapai US$930 juta setara Rp13,33 triliun.

Setianto mengatakan total ekspor pada Januari mencapai US$19,16 miliar sedangkan impor mencapai US$18,23 miliar. Nilai ekspor tumbuh 25,31% yoy sedangkan impor meningkat 36,77% yoy.

"Neraca perdagangan kita mencatat surplus selama 21 bulan beruntun," paparnya.

Dibandingkan bulan Desember 2021, neraca perdagangan Januari 2022 turun 8,82%. Pada Desember, surplus perdagangan mencapai US$1,02 miliar.

Negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat yang mencapai US$1,96 miliar, kemudian diikuti Filipina sebesar SU$537,8 juta dan India US$428,8 juta.

Sementara negara yang mengalami defisit terbesar adalah China yang mencapai US$2,23 miliar, disusul Thailand sebesar US$430,2 juta dan Australia US$233,6 juta.

Berita Terkait