Imbal Hasil Obligasi AS Menggeliat, Rupiah Bakal Melemah

08 September 2021 09:44 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami pelemahan ke level Rp14.210-Rp14.280 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar mulai melihat kembali instrumen obligasi tenor 10 tahun AS (US Treasury Bond) dengan imbal hasil (yield) yang mulai menguat.

“Tingkat imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun terlihat menarik yang bisa jadi menarik sebagian pelaku pasar untuk masuk ke aset dolar AS,” ucap Analis Pasar Uang Ariston Tjendra kepada TrenAsia.com, Rabu, 8 September 2021.

Mengutip Bloomberg, obligasi tenor10 tahun AS tercatat mengalami penguatan yield 7 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir. Pada hari ini, yield obligasi AS ini berada di level 1,36%.

Selain itu, data tenaga kerja atau non farm payrolls (NFP) Agustus 2021 rupanya diklaim tidak dapat menjadi variabel tunggal dalam mempertimbangkan kemungkinan tapering off The Fed. Pelaku pasar pun masih menunggu data-data terbaru sehingga kembali mengangkat ekspektasi terhadap perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam.

“Selain itu, peluang terjadinya tapering di akhir tahun masih belum hilang karena Bank Sentral AS masih akan mempertimbangkan data-data terbaru yang akan masuk,” jelas Ariston.

Seperti diketahui, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan NFP pada Agustus 2021 hanya mencapai 235.000. Angka ini merosot dibandingkan Juli 2021 yang mencapai 1,05 juta.

Meski tingkat pengangguran berkurang ke level 5,2%, namun ekonomi AS dinilai pasar masih perlu disuntik stimulus oleh The Fed. Angka NFP itu berselisih jauh dibandingkan survei Bloomberg yang memprediksi kenaikan NPF mencapai 733.000 pada bulan lalu.

Berita Terkait