Ilmuwan Memprediksi Beruang Kutub Bisa Lenyap pada Akhir Abad Ini

15 Oktober 2021 03:17 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Beruang Kutub (LiveScience)

JAKARTA-Es laut Arktik telah terus menurun sejak awal catatan satelit dimulai pada tahun 1979, tetapi sebuah studi baru datang dengan prediksi yang mengerikan. Para ahli memprediksi akhir abad ini, es laut Arktik mungkin hilang selama musim panas  yang bisa mendorong beruang kutub dan spesies lain yang bergantung pada es menuju kepunahan.

"Last Ice Area"  atau "Area Es Terakhir" adalah wilayah yang mengandung es Arktik tertua dan paling tebal. Ini mencakup area seluas lebih dari 1 juta kilometer persegi yang membentang dari pantai barat Kepulauan Arktik Kanada ke pantai utara Greenland. Ketika para ilmuwan menamai wilayah es setebal 4 meter, mereka mengira itu akan bertahan selama beberapa dekade.

Tapi sekarang, di bawah skenario yang paling optimistis dan pesimistis pemanasan terkait dengan perubahan iklim, es laut akan menipis secara dramatis pada tahun 2050. 

Skenario paling optimistis, di mana emisi karbon segera dan dibatasi secara drastis untuk mencegah pemanasan terburuk, dapat mengakibatkan sebagian terbatas dari es yang bertahan di wilayah tersebut.  Sementara dalam skenario paling pesimistis, di mana emisi berlanjut pada tingkat kenaikannya saat ini, es musim panas dan beruang kutub serta anjing laut yang hidup di atasnya  dapat menghilang pada tahun 2100. Prediksi itu disampaikan para peneliti dalam sebuah studi baru.

“Sayangnya, ini adalah eksperimen besar yang sedang kami lakukan,” kata co penulis studi Robert Newton, seorang ilmuwan dan peneliti senior di Lamont-Doherty Earth Observatory Universitas Columbia dalam pernyataan yang dikutip LiveScience Kamis 14 Oktober 2021. 

"Jika es sepanjang tahun hilang, seluruh ekosistem yang bergantung pada es akan runtuh, dan sesuatu yang baru akan dimulai."

Lapisan es laut Arktik tumbuh dan menyusut setiap tahun dengan mencapai batas minimumnya pada akhir musim panas pada bulan September sebelum pulih kembali pada musim gugur dan musim dingin untuk mencapai batas maksimumnya pada bulan Maret. 

Tetapi karena karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya semakin berkontribusi terhadap pemanasan atmosfer, rentang es laut semakin menyusut. 

Lebih buruk lagi,  National Snow and Ice Data Center (NSIDC) melaporkan bahwa jumlah es Arktik yang lebih tua dan lebih tebal yang bertahan setidaknya satu musim pencairan berada pada rekor terendah. Sekitar seperempat dari total yang dicatat oleh survei satelit pertama 40 tahun lalu.

Melumpuhkan Kehidupan Hewan

Penurunan lapisan es yang lebih dramatis dapat memiliki efek melumpuhkan kehidupan hewan yang tinggal di, atau di bawah, jaringan es yang bergeser. Makhluk hidup tersebut termasuk ganggang fotosintesis, krustasea kecil, ikan, anjing laut, narwhal, paus, dan beruang kutub.

" Ringed seals dan beruang kutub, misalnya, mengandalkan sarang mereka di permukaan es laut yang bergerigi dan bergelombang untuk tinggal," tulis para peneliti.

Karena mereka adalah pemangsa khusus, beruang kutub akan sangat rentan terhadap kepunahan jika esnya hilang. Diadaptasi untuk mengintai di atas es laut, beruang Arktik berburu dengan menyambar anjing laut yang muncul ke permukaan untuk bernapas. 

Beruang kutub memiliki rahang yang disesuaikan untuk memakan lemak dan daging lunak. Meskipun beruang terlihat mengalihkan makanan mereka ke telur burung laut dan karibu saat berada di darat, sebuah studi tahun 2015 yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Ecology and the Environment menemukan bahwa kalori yang mereka peroleh dari sumber-sumber ini tidak mengimbangi kalori yang dibakar oleh beruang.

Pergeseran habitat yang cepat ini dapat menyebabkan beruang kutub punah atau menyebabkan kawin silang yang lebih luas dengan beruang grizzly yang jangkauannya meluas ke utara saat iklim menghangat. Proses ini pada akhirnya dapat menggantikan beruang kutub dengan beruang "pizzly" hybrid. 

"Ini bukan untuk mengatakan itu (Artik) akan menjadi lingkungan yang tandus dan tak bernyawa," kata Newton. "Hal-hal baru akan muncul, tetapi mungkin perlu beberapa waktu bagi makhluk baru untuk datang."

Pada 9 Agustus, sebuah laporan penting dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB mengeluarkan peringatan keras bahwa Bumi diperkirakan akan mencapai ambang kritis peningkatan suhu global 1,5 derajat Celcius karena perubahan iklim dalam 20 tahun ke depan. Draf bagian ketiga dari laporan IPCC yang bocor ke publikasi Spanyol CTXT memperingatkan bahwa emisi gas rumah kaca global harus mencapai puncaknya dalam empat tahun ke depan jika pemanasan global ingin tetap berada dalam 1,5 C.

Berita Terkait