IHSG Diproyeksikan Berada di Fase Uptrend Hingga Akhir 2021

04 Oktober 2021 06:06 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi pergerakan IHSG di pasar modal. Infografis: Deva Satria/TrenAsia (TrenAsia.com)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berada di fase uptrend hingga akhir tahun ini, walaupun berpotensi mengalami sedikit koreksi pada perdagangan pekan ini.

Vice President Senior Technical Portfolio Advisor PT Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Alfatih mengatakan bahwa sejatinya tren penaikan IHSG sudah terlihat sejak Juli 2021, namun selalu terkoreksi.

Ia menyebut, secara historis, dalam 10-20 tahun terakhir, umumnya IHSG mengalami tekanan pada periode Agustus-September. Namun, ia memperkirakan hingga Januari-Maret pada 2022 cenderung berada di posisi kenaikan dibandingkan dengan Agustus-September 2021.

“Jadi IHSG kalau saya lihat trennya sudah mulai naik terutama dari Juli 2021. Karena selalu ada puncak-puncak yang lebih tinggi dan sedikit terkoreksi. Tapi trennya sudah naik,” kata dia dalam webinar yang digelar D Origins Advisory dan IGICO Advisory, Minggu, 3 Oktober 2021.

Dalam kesempatan yang sama, Elliot Wave Expert dari B Trade Elliottician, Wijen Pontus mengemukakan hal serupa. Bahkan, ia telah memprediksi fase uptrend IHSG melalui dua skenario.

“IHSG untuk skenario pertama resistance 6.350 sepakat dengan Pak Alfatih bahkan bisa sampai 6.380. Seharusnya kita masih uptrend sampai akhir tahun. Ini adalah the best scenario kita. Skenario terbaik untuk IHSG adalah seperti ini,” ujarnya optimistis.

Skenario kedua, lanjut dia, Indeks domestik terkoreksi ke level 6.150-an, namun masih dalam fase uptrend terus sampai akhir tahun ini. Dalam skenario tersebut, masih dengan catatan IHSG tidak turun ke level 6.086.

“Kalau tidak turun ke level itu, kita akan masih melihat IHSG pada rentang 6.350-6.380 untuk satu dua minggu ke depan,” paparnya.

Wijen juga menyatakan bahwa dalam satu bulan ke depan IHSG tak mustahil menembus level 6.480 sampai 6.500. Lebih rinci, ia menjabarkan ada empat faktor utama yang mendorong IHSG untuk bullish pada akhir 2021.

Pertama, sentimen terkait kasus pandemi COVID-19 yang terus melandai. Di mana pemerintah diakui prestasinya oleh dunia internasional, sehingga denyut ekonomi diperkirakan sudah mulai kembali pulih.

“Melihat hal ini, harusnya kuartal IV-2021 ini pertumbuhan ekonomi kita juga akan membaik,” tutur Wijen.

Kedua, harga komoditas yang naik akibat commodity supercycle dan krisis energi, baik di China maupun Eropa. Bagi dia, kondisi ini mendorong hal positif untuk ekspor Indonesia yang memang masih didominasi oleh komoditas.

Ketiga, kebijakan tapering oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Wijen menyebut dampaknya terhadap pergerakan IHSG akan cenderung negatif, tetapi sifatnya jangka pendek. Sebabnya, indikator ekonomi Indonesia tahun ini masih cukup baik.

Terakhir adalah arus dana asing (foreign flow) terhadap ekuitas di indonesia yang menurut pantauannya sejak awal Juli 2021 hingga saat ini sudah melebihi Rp14 triliun di pasar reguler. “Ini indikasi bagus bahwa asing sudah comeback ke equity Indonesia,” tambahnya.

Investor Ritel

Dalam acara tersebut, keduanya juga memberikan masukannya bagi investor ritel, terutama yang masih pemula. Memahami analisis tren dinilai penting bagi investor saham agar dapat menetapkan strategi yang tepat ketika bertransaksi di pasar modal.

Menurut Alfatih, misalnya, kelemahan banyak investor adalah masalah psikologis. Untuk mengatasinya, kata dia, investor ritel harus memiliki rencana di awal investasi atau trading.

“Jadi jangan impulsif. Lihat running trade wah ini (langsung beli), tau-taunya pas di pucuk (memasuki downtrend). Itu sering terjadi. Atau sudah panik sudah lah cut loss padahal pas di harga support. Jadi kita harus punya trading plan. Memang yang trading jangka pendek trading plan-nya harus di kepala,” ungkapnya.

Sementara itu, Wijen memberi saran untuk belajar analisis teknikal harus dilakukan selangkah demi selangkah. Dia pun mengamini pernyataan Alfatih yang mengatakan investor ritel harus bersikap dingin dan tak terburu-buru. 

“Jangan langsung panik harga turun terus dan banyak berita jelek langsung cut loss, tapi lihat dulu jangan-jangan ini sudah di fase akhir downtrend biasanya orang banyak panik. Kita harus lebih tenang," pungkasnya.

Berita Terkait