IHSG Bakal Tertekan Akibat Cadev Susut, Rekomendasi Saham CTRA, TBIG, BSDE, dan PWON

09 Juni 2021 05:03 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 22 Maret 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Gelombang tekanan pada pasar modal Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berada dalam fase konsolidasi wajar hingga terancam koreksi pada perdagangan Rabu, 9 Juni 2021.  

CEO PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan bahwa IHSG berpeluang untuk kembali pada jalur uptrend jangka pendeknya selama support level terdekat dapat tahan uji. Secara teknikal, indeks akan bergerak pada rentang 5.932 – 6.123.

“Kuatnya fundamental perekonomian Indonesia yang terlihat dari data yang telah terlansir juga akan turut menopang pergerakan IHSG hingga beberapa waktu mendatang,” ujar melalui riset harian yang diterima TrenAsia.com, Rabu 9 Juni 2021.

Pada kesempatan yang sama, William juga membagikan rekomendasi saham yang dapat menjadi pertimbangan para investor. Di antaranya ITMG, ASII, CTRA, BBNI, ROTI, MYOR, dan TBIG.

Secara terpisah, Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menyebut IHSG berpotensi tertekan mencoba menutup gap yang terbentuk dengan support resistance 5.946 – 6.049. Ia bilang, IHSG berpola pulled back upper bollinger bands dan resistance level dengan break out support MA5 hari sebagai konfirmasi.

“Indikator stochastic dan RSI menukik dengan dead-cross pada area overbought. Indikator MACD memberikan pergerakan bearish setelah dikonfirmasi adanya potensi cross over negatif pada MACD line,” papar dia.

Dengan analisis tersebut, Lanjar turut merekomendasikan sejumlah saham yang menurutnya dapat dicermati. Antara lain ACES, BSDE, LSIP, PWON, RALS, serta SMRA.

Sebelumnya, IHSG terkoreksi 1,16% menuju level 5.999,37 pada akhir sesi perdagangan, Selasa, 8 Juni 2021. Pelemahan terjadi pascarilis data cadangan devisa yang mengalami penurunan, sehingga berlawan dengan ekspektasi.

Para investor merespons data cadangan devisa Indonesia pada periode Mei 2021 ini dengan melakukan aksi jual saham emiten-emiten berkapitalisasi jumbo, seperti BBCA, HMSP, BBRI, BMRI, hingga UNVR. Adapun penyebab turunnya cadangan devisa dikarenakan pembayaran utang luar negeri pemerintah. (SKO)

Berita Terkait