IDXTECHNO Melesat 873 Persen, Ini Deretan Saham Teknologi yang Harganya Mengangkasa

18 Juni 2021 12:44 WIB

Penulis: Gloria Natalia Dolorosa

Ilustrasi teknologi dan manusia. Sumber: Pexels.

Indeks sektor teknologi melaju paling kencang dibandingkan dengan 11 indeks sektoral lain yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sejak awal 2021 hingga 17 Juni 2021 indeks sektor teknologi (IDXTECHNO) sudah melesat 873,28%.

Laju indeks yang memuat 17 saham sektor teknologi ini melampaui penaikan indeks infrastruktur serta indeks transportasi dan logistik yang masih di bawah 10%.

Berdasarkan pemberitaan di media massa, sejumlah analis berpendapat pesatnya peningkatan harga saham emiten teknologi dipicu oleh meningkatnya penggunaan teknologi digital sejak pandemi COVID-19.

Penggunaan teknologi digital yang kian masif serta peluang baru dalam bisnis digital berpotensi menaikkan pendapatan emiten teknolgoi.
Selain itu, rencana IPO GoTo dan Bukalapak turut memacu penaikan harga saham emiten teknologi.

Dari 17 saham dalam IDXTECHNO, delapan di antaranya membukukan penaikan harga saham di atas 100% sepanjang hampir semester I tahun ini. Lima saham lain mencatatkan penaikan bervariasi di atas 10% sampai 84%, dua saham disuspensi, dan dua saham lainnya turun.

PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), perusahaan data center milik Otto Toto Sugiri, memimpin laju penaikan. Saat tercatat kali pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Januari 2021, DCII berada di level Rp525.

Nyaris enam bulan kemudian, DCII meroket 11.138% ke posisi Rp59.000 per 17 Juni 2021, menggeser tingginya harga saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) yang seharga Rp36.025.

Alhasil, DCII menjadi saham paling mahal di BEI. Kapitalisasi pasarnya pun tembus Rp140 triliun, meski belum cukup menandingi kapitalisasi pasar PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang sudah mencapai Rp772 triliun.

Tajamnya kenaikan harga saham DCII diduga akibat aksi borong saham DCII yang dilakukan empunya Grup Indofood, Anthoni Salim, pada 31 Maret 2021. Ia membeli 192,74 juta lembar saham DCII di harga Rp5.277 per lembar. Total nilai pembelian sekitar Rp1,01 triliun.

Lewat transaksi itu, kepemilikan saham Anthoni Salim di DCII meningkat menjadi 11,12% dari sebelumnya 3,03%.

Jauh di bawah DCII, saham PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) juga meningkat tajam, sebesar 643,06%, sepanjang tahun berjalan ini hingga pada 17 Juni 2021 menyentuh Rp5.350.

Tajamnya peningkatan saham perusahaan milik keluarga Riady ini mulai terjadi sejak awal Juni. Hanya dalam dua pekan harga MLPT melonjak 259%.

Selanjutnya, PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. (KIOS) menorehkan penaikan harga hingga 525,89% ke posisi Rp870. KIOS adalah perusahaan penyedia perangkat lunak dan perangkat keras platform untuk UMKM melalui sistem kemitraan yang dinamai Kioson Cash Point (KCP).

Tidak jauh berbeda dari KIOS, harga saham PT Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX) melonjak 454,62% sepanjang tahun berjalan ini ke Rp1.320. DMMX mulai meningkat tajam sejak medio Mei 2021.

Sementara penurunan terdalam terjadi pada PT Sat Nusapersada Tbk. (PTSN). Sejak awal tahun hingga 17 Juni 2021, harga PTSN melorot 6,84% ke Rp218.

Adapun, saham PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk. (SKYB) disuspensi otoritas BEI hingga 17 Februari 2022 dengan pertimbangan berpotensi delisting.

BEI juga memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham PT Envy Technologies Indonesia Tbk. (ENVY) mulai sesi II pada 1 Desember 2020.

Delapan dari 17 saham teknologi berada di rentang harga Rp1.000 hingga Rp5.000 pada perdagangan 17 Juni 2021. DCII memimpin di harga premium Rp59.000 per lembar. Sementara, tujuh saham lain berada di level Rp1.000 ke bawah, tidak termasuk ENVY dan SKYB.

Kinerja Operasional

Dari sisi kinerja operasional, pendapatan delapan dari 17 emiten teknologi naik sepanjang 2020 dibandingkan dengan 2019 (year-on-year/yoy). Penaikan pendapatan paling besar terjadi pada Digital Mediatama Maxima (DMMX), sebesar 145,12% yoy. Sementara laba bersihnya meningkat 92,71%.

DMMX adalah perusahaan jasa pengelolaan iklan berbasis cloud digital dan telekomunikasi. Ia bersama tiga emiten teknologi lain, yakni PT M Cash Integrasi (MCAS), PT NFC Indonesia (NFCX), dan PT Distribusi Voucher Nusantara (DIVA) merupakan entitas sepengendali.

Nama Suryandy Jahya, pendiri PT Kresna Graha Investama Tbk. (KREN), ada di deretan komisaris dan direksi empat perusahaan tersebut.

Di tengah pandemi, DMMX terbukti masih berekspansi dengan cara membangun perusahaan patungan. Ia menggandeng Rans Entertainment yang dimiliki artis Raffi Ahmad. Mereka bersama-sama mendirikan PT DMMX Rans Digital, perusahaan pengelola platform media sosial digital, dengan modal dasar Rp900 juta.

Tidak hanya DMMX, tiga perusahaan dalam entitas sepengendali juga membukukan penaikan pendapatan pada 2020.

Rinciannya, pendapatan MCAS (distributor utama barang dagangan dan jasa konsultasi manajemen bidang teknologi informasi) naik 2,2%, pendapatan NFCX (bidang penjualan produk digital) meningkat 23,46%, dan DIVA (bidang penjualan produk digital, layanan solusi pembayaran dan online-to-offline platform) naik 3,88%.

Namun, hanya DMMX yang membukukan penaikan laba bersih.

Selain DMMX, dua emiten teknologi mampu menaikkan pendapatan dan laba bersih secara bersamaan pada 2020. Mereka adalah PT DCI Indonesia (DCII) dan PT Multipolar Technology (MLPT).

Pendapatan DCII pada 2020 naik 55% yoy menjadi Rp759 miliar dan laba bersihnya meningkat 71,75% menjadi Rp183,14 miliar.

DCII bergerak di bidang industri penyedia jasa aktivitas hosting dan aktivitas lain seperti jasa pengolahan data, web-hosting, streaming, aplikasi hosting, dan penyimpanan cloud computing. Data center miliknya berlokasi di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dalam laporan keuangannya, manajemen DCII berpendapat bahwa pandemi COVID-19 tidak berdampak signifikan terhadap kegiatan operasi perusahaan.

Sementara itu, MLPT, perusahaan jasa telekomunikasi dan industri informatika milik keluarga Riady, meraih penaikan pendapatan pada 2020 sebesar 9,38% yoy menjadi Rp2,69 triliun. Peningkatan laba bersihnya mencapai 25,69%, didorong antara lain oleh keuntungan dari selisih kurs serta keuntungan dari pelepasan aset tetap.

Adapun, penaikan tertinggi laba bersih pada 2020 di antara emiten teknologi dipegang Sat Nusapersada (PTSN). Perusahaan bidang usaha perakitan alat elektronik itu mendulang penaikan laba bersih 436,34% yang disebabkan laba selisih kurs.

Berita Terkait