Ibuprofen Tidak Boleh Obati Gejala COVID-19? Ini Penjelasan Para Ahli

Paris– Badan Kesehatan Dunia atau WHO meminta agar masyarakat menghindari mengkonsumsi Ibuprofen, obat yang biasa digunakan untuk meredakan nyeri dan peradangan bagi orang yang merasa mengalami gejala corona. Obat tersebut memiliki efek samping yang kurang cocok bagi penderita gejala COVID-19.

Christian Lindmeier, Juru bicara dari WHO kemudian menjelaskan untuk saat ini pihaknya lebih merekomendasikan penggunaan paracetamol dibandingkan ibuprofen, apalagi tanpa resep dokter.

Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran menjelaskan bahwa jenis obat tersebut justru dapat memperburuk keadaan penyakit. Veran mengatakan hal itu berdasarkan hasil studi dari jurnal medis The Lancet. ⁣

Menurut Dr Veran beberapa pasien telah mengalami efek samping yang serius saat menggunakan Nsaids,  hingga obat tersebut tidak boleh digunakan pada pasien.

Ia kemudian menganjurkan penderita yang sudah terlanjur mengkonsumsi Ibuprofen untuk segera memeriksakan diri ke dokter.⁣

Menanggapi hal tersebut, Reckitt Benckiser,  juru bicara dari perusahaan farmasi produsen ibuprofen mengatakan Ibuprofen ialah obat yang telah digunakan dengan aman selama 30 tahun lebih. “Dan kami belum melihat bukti ilmiah bahwa ibuprofen dapat memberikan dampak negatif pada penderita virus corona.”⁣

“Kami akan terus bekerjasama dengan WHO, European Medicines Agency (EMA), dan otoritas kesehatan, dan kami akan segera menyediakan informasi dan panduan yang diperlukan terkait penggunaan produk kami.” Jelas Benckiser, seperti dilansir StraightTimes.

Pro dan kontra

Saran Menteri Kesehatan Perancis itu mendapat tanggapan pro dan kontra dari sejumlah ahli. Coronavirus adalah patogen baru, dan sedikit yang diketahui tentang penyakit tersebut.

Sejauh ini tidak ada penelitian tentang anggapan tersebut. “Tidak ada data,” kata Dr. Michele Barry, Direktur Pusat Inovasi Kesehatan Global di Universitas Stanford sebagaimana dikutip New Yorks Times Rabu (18/03). Tidak ada alasan untuk berpikir bahwa pasien yang terinfeksi harus menghindari penggunaan ibuprofen sementara, tambahnya.

“Itu semua anekdot, dan berita palsu yang lucu,” kata Dr. Garret FitzGerald, Ketua Departemen Farmakologi di Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania. “Inilah dunia tempat kita hidup.”

“Sampai ada bukti, tidak ada alasan sama sekali untuk mengeluarkan pedoman kesehatan masyarakat” tentang Nsaids dan coronavirus, tambahnya.

Tetapi bagi para spesialis penyakit menular, kekhawatiran tersebut memang ada. Nsaids dan acetaminophen memang mengurangi demam dan membuat pasien mungkin lebih nyaman,  tetapi suhu yang lebih rendah justru dapat merusak pertahanan utama tubuh terhadap infeksi.

Studi telah menemukan bahwa jika orang yang terinfeksi berbagai virus dan mikroorganisme lainnya menurunkan demam , dengan Nsaids atau dengan acetaminophen, maka akan membuat gejala dapat bertahan lebih lama dan mereka terus membawa virus untuk waktu yang lebih lama – yang berarti mereka mungkin menular untuk periode yang lebih lama.

“Segala sesuatu yang berjalan, terbang, merangkak atau berenang di muka bumi ini membuat demam,” kata Dr. Paul Offit, seorang ahli penyakit menular di University of Pennsylvania dan Children’s Hospital of Philadelphia. Bahkan kadal merangkak ke atas batu dan berjemur ketika mereka sakit untuk menaikkan suhu mereka.

Sistem kekebalan bekerja lebih baik ketika suhu tubuh lebih tinggi, memungkinkannya untuk lebih efisien membunuh virus dan bakteri. Lusinan penelitian – pada hewan, reptil dan manusia – telah menemukan bahwa demam bermanfaat dalam memerangi infeksi.

Tapi ada kompromi. Untuk setiap kenaikan suhu 1 derajat celcius, laju metabolisme meningkat sebesar 12 persen. “Kami tidak ingin membayar harga metabolisme ketika kami tidak perlu, jadi kami hanya membuat suhu yang lebih tinggi ketika kami membutuhkannya,” kata Dr. Offit.

Suhu yang sangat tinggi, merambat ke 104 derajat Fahrenheit, tidak baik untuk bayi, wanita hamil atau orang dengan penyakit kardiovaskular. Dan setiap orang yang demam tinggi akan merasa sengsara.

“Tetapi mengonsumsi obat untuk mengurangi demam dapat menyebabkan periode yang lebih lama ketika orang berhadapan dengan penularan virus, seperti flu dan atau infeksi dengan mikroorganisme lainnya,” kata Dr. Myron M. Levine, rekan dekan untuk kesehatan global, vaksinologi dan penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland.

Setidaknya ada bahaya teoretis bahwa penurun demam – termasuk acetaminophen – mungkin memiliki efek serupa pada pasien coronavirus. Meskipun belum ada penelitian, “Itu anggapan pribadi saya,” kata Dr. Levin. Dia mengatakan masuk akal bagi seseorang yang terinfeksi virus corona untuk menghindari kedua jenis obat penghilang rasa sakit.

“Obat seperti acetaminophen atau ibuprofen dapat menurunkan demam, tetapi Anda tidak ingin terus meminumnya, kata Dr. Marguerite Neill, pakar penyakit menular di Brown University. Biarkan fe

Dr. Marguerite Neill, pakar penyakit menular di Brown University mengatakan obat seperti acetaminophen atau ibuprofen dapat menurunkan demam, tetapi lebih baik jangan diminum terus-terusan. Biarkan demam melakukan tugasnya untuk melawan virus.

“Dosis tunggal Nsaid ketika suhu 103 atau 104 [derajat Fahrenheit] pada orang dewasa yang menderita flu – saya tidak mengatakan itu salah,” kata Dr. Neill. “Tapi jangan terus memompa jika demamnya lebih rendah.”

Dia mengutip seorang dokter Inggris abad ke-18, Dr. Thomas Sydenham: “Demam adalah mesin alam yang dia bawa ke medan perang untuk menaklukkan musuh-musuhnya.”

mengkonsumsi Ibuprofen, obat yang biasa digunakan untuk meredakan nyeri dan peradangan bagi orang yang merasa mengalami gejala corona. Obat tersebut memiliki efek samping yang kurang cocok bagi penderita gejala COVID-19.

Christian Lindmeier, Juru bicara dari WHO kemudian menjelaskan untuk saat ini pihaknya lebih merekomendasikan penggunaan paracetamol dibandingkan ibuprofen, apalagi tanpa resep dokter.

Sementara Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran menjelaskan bahwa jenis obat tersebut justru dapat memperburuk keadaan penyakit. Veran mengatakan hal itu berdasarkan hasil studi dari jurnal medis The Lancet. ⁣

Ia kemudian menganjurkan penderita yang sudah terlanjur mengkonsumsi Ibuprofen untuk segera memeriksakan diri ke dokter.⁣

Tags:
HeadlineVirus Corona
%d blogger menyukai ini: