IBM Akan PHK 10.000 Pekerja di Eropa

November 25, 2020, 09:01 PM UTC

Penulis: GND

IBM. Dok: IBM/ Instagram.

JAKARTA – International Business Machines (IBM) Corp. berencana memangkas sekitar 10.000 pekerja di Eropa.

Tujuannya, untuk menurunkan biaya di unit layanan yang tumbuh lambat dan mempersiapkan bisnis untuk spin-off.

Dikutip dari Bloomberg, kerugian yang sangat besar akan mempengaruhi sekitar 20% staf di Eropa. Inggris dan Jerman akan terkena dampak paling besar. Pemotongan juga direncanakan di Polandia, Slovakia, Italia, dan Belgia.

Menurut sumber, pemutusan hubungan kerja (PHK) harus selesai pada akhir paruh pertama 2021.

Petugas serikat pekerja mengatakan IBM mengumumkan pemutusan hubungan kerja di Eropa pada awal November saat pertemuan dengan perwakilan tenaga kerja Eropa.

“Keputusan staf dibuat untuk memberikan dukungan terbaik kepada pelanggan kami dalam mengadopsi platform cloud hybrid terbuka dan kemampuan AI,” kata juru bicara IBM, dikutip Bloomberg, Rabu, 25 November 2020.

Menurutnya, IBM terus melakukan investasi yang signifikan dalam pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi para IBMers untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Yang paling terpukul adalah bisnis layanan TI warisan IBM. Bisnis layanan TI menangani operasi infrastruktur sehari-hari. Misal, mengelola pusat data klien dan dukungan teknologi informasi tradisional untuk memasang, mengoperasikan, dan memperbaiki peralatan.

Pada Oktober lalu, IBM mengatakan pihaknya berencana memulai bisnis dan fokus pada komputasi awan hibrida baru dan unit kecerdasan buatan. Cara itu diharapkan dapat mendorong pertumbuhan pendapatan.

IBM menyatakan pihaknya bertujuan untuk menyelesaikan pemotongan sebagai spin-off bebas pajak bagi pemegang saham IBM pada akhir 2021.

“Kami mengambil tindakan struktural untuk menyederhanakan dan merampingkan bisnis kami,” kata Chief Financial Officer IBM James Kavanaugh.

Pihaknya saat itu memperkirakan biaya operasional pada kuartal IV/2020 sekitar US$2,3 miliar.

Spin-off unit layanan adalah langkah besar pertama yang dilakukan CEO Arvind Krishna. Krishna awal tahun ini memangkas ribuan pekerjaan saat dia mulai membentuk kembali bisnisnya.

Berita Terkait