Holding BUMN Ultra Mikro di Depan Mata, Aset BRI Bakal Melejit Jadi Rp1.515 Triliun

15 Juni 2021 18:39 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Kantor PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Cabang Aceh resmi ditutup / Indoplaces.com

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk akan menjadi pemegang saham mayoritas di PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Hal ini seiring dengan pembentukan Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ultra Mikro.

Dengan penambahan saham ini maka BRI bakal mendapatkan penambahan aset. Pasalnya, laporan keuangan Pegadaian dan PNM akan terkonsolidasikan dengan laporan keuangan BRI. Hal ini akan meningkatkan pendapatan konsolidasian di masa mendatang.

Membandingkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2021 dengan masa setelah pembentukan holding, maka total aset BRI akan meningkat dari Rp1.411 triliun menjadi Rp1.515 triliun.

Peningkatan tersebut berasal dari aset Pegadaian yang telah mencapai Rp72,2 triliun dan PNM Rp35,1 triliun pada posisi 31 Maret 2021.

Tak hanya itu, liabilitas BRI juga naik dari Rp1.216 triliun menjadi Rp1.289 triliun, serta pendapatan dari Rp40 triliun menjadi Rp47 triliun. Selanjutnya beban usaha dari Rp31 triliun menjadi Rp37 triliun dan laba bersih dari Rp7 triliun menjadi Rp8 triliun.

“Pembentukan holding BUMN ultra mikro tidak hanya dapat memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perseroan, Pegadaian maupun PNM, namun juga bagi pengusaha yang termasuk dalam segmen ini,” tulis BRI dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa 15 Juni 2021.

Rights Issue Jelang Holding Ultra Mikro

Sebagaimana diketahui, BRI baru saja mengumumkan rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue dan rencana penyetoran saham dalam bentuk selain uang (Inbreng) oleh negara sebagai pemegang saham pengendali.

Melalui dua aksi tersebutlah BRI akan menjadi pengendali Pegadaian dan PNM. Perseroan berencana untuk menerbitkan sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham Seri B dengan nilai nominal Rp50, atau mewakili sebanyak-banyaknya 23,25% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Pemerintah, selaku pemegang saham pengendali perseroan, dengan kepemilikan saat ini sebesar 56,75% akan mengambil bagian atas seluruh HMETD yang menjadi haknya dengan melakukan Inbreng atas saham milik pemerintah dengan mekanisme:

– Inbreng sebanyak 6.249.999 saham Seri B atau mewakili 99,99% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh dalam Pegadaian

– Inreng 3.799.999 saham Seri B atau mewakili 99,99% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh dalam PNM. Rencana Inbreng ini menggunakan basis laporan keuangan konsolidasian historis auditan tanggal 31 Maret 2021.

Adapun dana hasil rencana PMHMETD setelah dikurangi seluruh biaya emisi akan digunakan untuk pembentukan holding BUMN ultra mikro, yang dilakukan melalui penyertaan saham perseroan dalam Pegadaian sebesar 6.249.999 saham Seri B atau mewakili 99,99% modal ditempatkan dan disetor Pegadaian.

Kemudian di PNM sebesar 3.799.999 saham Seri B atau mewakili 99,99% modal ditempatkan dan disetor PNM, sebagai hasil Inbreng saham pemerintah.

“Selebihnya, dana rights issue digunakan sebagai modal kerja perseroan dalam rangka pengembangan ekosistem ultra mikro, serta bisnis mikro dan kecil,” ujar dia. (LRD)

Berita Terkait