HM Sampoerna Cetuskan Empat Pilar ESG untuk Komitmen dalam Pembangunan Indonesia

22 September 2022 17:02 WIB

Penulis: Feby Dwi Andrian

Editor: Fakhri Rezy

HMSP (https://ik.imagekit.io/tk6ir0e7mng/uploads/2020/03/HM_Sampoerna.jpg?tr=w-495.98,h-254.64)

JAKARTA - PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mulai mencetuskan beberapa pilar environment, social, governance (ESG) demi menyokong pembangunan Indonesia.

Direktur HMSP, Elvira Lianita mengatakan, saat ini perusahaan telah memiliki komitmen untuk berperan aktif dalam pembangunan nasional serta perwujudan Indonesia maju.

"Hal ini sejalan dengan Falsafah Tiga Tangan Sampoerna yang mewakili tiga pemangku kepentingan utama yang harus dirangkul, yakni: konsumen dewasa, karyawan dan mitra usaha, serta masyarakat luas," kata Elvira dalam laporan berkelanjutan, Kamis, 22 September 2022.

Ia melanjutkan pendakatan HMSP terhadap keberlanjutan didasarkan pada empat pilar utama yang paling penting bagi bisnis dan pemangku kepentingan yaitu, mendorong keunggulan operasional, mengelola dampak sosial, mengurangi jejak lingkungan, dan melakukan transformasi bisnis melalui sejumlah inovasi.

Di dalam mendorong keunggulan operasional, HMSP selalu mengedepankan integritas bisnis. Integritas bisnis merupakan fondasi penting untuk membangun dan memperkuat kepercayaan pemangku kepentingan untuk tumbuh berkelanjutan.

Bagi Sampoerna, menjalankan bisnis dengan integritas berarti mematuhi hukum, menerapkan buku panduan untuk sukses (kode etik perusahaan), dan komitmen kepada pemangku kepentingan.

Sementara itu perusahaan dalam mengelola dampak sosial adalah dengan fokus pada keberlanjutan dukungan terhadap pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang merupakan tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 60% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan telah menjadi sumber pendapatan bagi 97% penduduk Indonesia.

Melalui payung program bernama "Sampoerna Untuk Indonesia", perseroan mendukung ekonomi kerakyatan melalui pengembangan kemampuan dan daya saing UMKM di Indonesia dengan menerapkan dua pendekatan

Di antaranya dengan mengembangkan ekosistem ritel Sampoerna Retail Community (SRC) dan mengembangkan kapasitas kewirausahaan bagi masyarakat melalui Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC).

"Tak lupa kami juga melakukan penilaian terhadap potensi risiko keberlanjutan yang paling signifikan dalam rantai pasok kami yaitu daun tembakau dan cengkih," tambah Elvira.

Ia melanjutkan, walau perusahaan tidak membeli komoditas langsung dari petani, namun HMSP memperluas lingkup tanggung jawab korporasi sampai ke pertanian. Pemasok bahan baku utama tersebut mencakup 22 ribu petani tembakau dan cengkih.

Dengan luasnya cakupan tersebut, dampak keberlanjutan yang terkait dengan rantai pasokan tidak hanya memastikan pasokan bahan baku yang aman sepanjang waktu tetapi juga pengelolaan dampak lingkungan dan sosial pada komunitas petani dan pemasok yang ada dalam jangkauan kami.

Adapun Sampoerna menerapkan Sistem Produksi Terpadu (SPT) bagi petani tembakau dan telah berjalan sejak tahun 2009, yang meliputi:

- Implementasi praktik pertanian yang baik (good agricultural practices/GAP)

- Integritas produk yang meliputi, antara lain: pengurangan non-tobacco related materials (NTRM) dan residu zat pelindung tanaman.

- Perbaikan rantai suplai tembakau melalui sistem produksi terpadu

- Produksi tembakau yang berkesinambungan untuk mencukupi kebutuhan domestik.

Dalam GAP memuat prinsip dan standar yang berfokus pada 3 area yaitu tanaman, sosial, dan lingkungan yang wajib diterapkan oleh semua pemangku kepentingan.

GAP di Sampoerna dikembangkan dengan program-program untuk mendukung pengelolaan lingkungan, seperti:

- Program pengelolaan limbah wadah agen perlindungan tanaman (crop protection agent/CPA), melalui pelatihan, untuk memastikan kapasitas petani dalam mengelola limbah  wadah CPA.

- Program bank sampah untuk masyarakat dan desa setempat yang relevan dalam rantai pasokan produksi tembakau

- Pada 2021, HMSP memperluas program bank sampah dengan mendirikan sebuah recycle hub plastik di Jember, Jawa Timur. Bank sampah yang telah didirikan oleh Sampoerna sebelumnya sekarang dapat menjual sampah plastik secara langsung kepada recycle hub, yang kemudian akan mendaur ulang sampah plastik tersebut dan menjualnya.

Dalam sektor mengurangi jejak lingkungan, HMSP sudah memiliki rencana jangka panjang. Dimulai pada 2021, dimana induk utama Philip Morris International (PMI) telah menetapkan target ambisius untuk mencapai karbon netral di semua fasilitas produksi pada 2025.

Upaya menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dititikberatkan pada pencegahan emisi pada proses pemakaian energi melalui efisiensi dan penggunaan energi terbarukan sebagai sumber energi.

Efisiensi energi diterapkan pada pembangkit listrik tenaga gas perusahaan yang menggunakan teknologi trigeneration atau 3Gen.

Udara panas yang dihasilkan gas engine dimanfaatkan untuk menghasilkan uap yang dipakai untuk proses produksi, sedangkan panas dari sistem pendinginan mesin dimanfaatkan untuk mendinginkan ruang produksi. Secara keseluruhan 3Gen meningkatkan efisiensi pemakaian gas alam menjadi 73% serta mengurangi biaya dari emisi.

Pada fasilitas produksi, Sampoerna melakukan inisiatif-inisiatif efisiensi energi yang mengurangi pemakaian listrik dan mengurangi emisi GRK, antara lain:

- Sejak tahun 2020, menurunkan dan mengontrol penggunaan energi yang dihasilkan dari cooling system. Hasil yang diperoleh adalah penurunan penggunaan energi sebesar 5.544 GJ atau 13% dibandingkan sebelum inisiatif ini dijalankan. Ini setara dengan pengurangan emisi sebesar 1.179,49 ton CO2e

- Building Management System yang diterapkan perusahaan di fasilitas produksi di Karawang dan Sukorejo yang melakukan fungsi seperti pengukuran energi dan automasi operasional seperti pengaturan peralatan pengatur udara, penerangan, air, dan lain sebagainya.

- HMSP juga mengembangkan dashboard pemantauan energi untuk memantau pemakaian dan kehilangan energi secara cepat dan membantu menentukan langkah perbaikan.

Di samping itu juga Sampoerna berkomitmen untuk menggunakan energi terbarukan sepenuhnya untuk memasok listrik pada fasilitas produksi.

Komitmen ini perusahaan terapkan dengan menggunakan energi terbarukan dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pasokan energi bersih melalui renewable energy certificate (REC).

REC merupakan sertifikat internasional yang menandakan bahwa listrik yang disuplai dari perusahaan utilitas disuplai dari pembangkit energi terbarukan, total energi listrik yang perusahaan pakai pada 2021 adalah 87.996 MWh, sebanyak 86.757 Mwh (99%) dipasok energi terbarukan melalui REC, sisa 1% berasal dari PLTS.

Dengan total kapasitas hingga 1.400 kWp, PLTS HMSP dapat menghasilkan energi terbarukan hingga 1..376 MWh/tahun.

"Lebih jah evaluasi pengelolaan energi dan emisi GRK dilakukan oleh bagian lingkungan, kesehatan dan keselamatan (EHS) berdasarkan pencapaian target penurunan emisi yang telah ditetapkan," lanjut Elvira.

Ia menyampaikan bahwa secara berkesinambungan, Sampoerna sejak 2018 telah mengurangi intensitas energi. Pada 2021, intensitas energi perusahaan mencapai 6,21 GJoule/juta sigaret, berkurang 22% dibandingkan tahun 2018 sebesar 8,01 GJoule/juta sigaret.

Lalu pada 2019, HMSP berhasil menurunkan emisi GRK di fasilitas produksi sebesar 14.649 ton CO2e atau mencapai penurunan sebesar 15%. Di tahun yang sama, perusahaan juga berhasil menurunkan emisi dari kendaraan sebesar 4.163 ton CO2e atau mencapai penurunan sebesar 25%.

"Dalam pilar terakhir yakni transformasi bisnis, perusahaan tentunya ingin meminimalisir dampak negatif dari produk, dengan cara mengembangkan dan memperkenalkan produk alternatif  yang lebih rendah risiko bagi perokok dewasa," kata Elvira.

Ia menambahkan, sejak 2008 silam PMI telah berinvestasi lebih dari USD 9 miliar untuk inovasi berkelanjutan.

PMI melakukan penelitain dan pengembangan produk dengan metode ilmiah berstandar internasional yang terinspirasi oleh industri farmasi.

Setelah melalui penelitian, PMI meluncurkan produk bebas asap. Dikenal dengan reduced-risk produ products (RRPs) atau yang juga dikenal sebagai "produk lebih rendah risiko".

Istilah tersebut merujuk pada produk yang memiliki potensi untuk menghasilkan risiko bahaya yang lebih rendah bagi perokok.

PMI juga telah mengembangkan sejumlah portofolio produk bebas asap tanpa proses pembakaran, seperti produk tembakau yang dipanaskan, produk e-vapor penghantar nikotin dan lainnya.

Lebih lanjut, PMI juga membuat sebuah produk tembakau bebas asap dengan merek IQOS, dengan risiko yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan rokok.

Tentang IQOS, produk ini menggunakan daun tembakau asli yang dipanaskan (heat-not-burn) dengan perangkat elektronik pada suhu maksimum 350 derajat Celcius untuk menghantarkan nikotin (tanpa pembakaran) sampai terbentuk aerosol yang mengandung nikotin, tanpa terjadi pembakaran, bara api, abu, maupun asap.

Lebih lanjut IQOS menghasilkan kadar zat berbahaya dan berpotensi berbahaya yang rata-rata 95% lebih rendah dibandingkan dengan asap rokok. Meskipun tidak bebas risiko, beralih sepenuhnya ke IQOS mengurangi bahaya dibandingkan terus merokok.

Saat ini, PMI telah memasarkan produk bebas asapnya di lebih dari 71 pasar di seluruh dunia. Berdasarkan data, jumlah total pengguna IQOS pada akhir 2021 mencapai 21,2 juta konsumen dewasa, per Desember 2021.

Produk alternatif tersebut dikembangkan melalui lima tahap penilaian ilmiah yang ketat, yang berpuncak pada analisis data kualitatif dan kuantitatif jangka panjang.

Temuan ilmiah PMI juga didukung oleh penelitian independen, yang menyimpulkan bahwa aerosol IQOS mengandung senyawa berbahaya dan berpotensi berbahaya yang jauh lebih rendah daripada asap rokok.

Ambisi PMI adalah melihat setidaknya 30 persen dari konsumen dewasa PMI yang memutuskan untuk tetap merokok agar beralih ke produk bebas asap PMI pada tahun 2025, dan pada akhirnya dapat mewujudkan masa depan bebas asap.

Berita Terkait