Hingga September 2021, Kontrak Baru BUMN Adhi Karya Meroket 83,2 Persen Tembus Rp11,3 Triliun

14 Oktober 2021 08:42 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Sukirno

Kontrak Baru BUMN Adhi Karya Meroket 83,2 Persen Tembus Rp11,3 Triliun / Dok. Adhi Karya (Adhi Karya)

JAKARTA - Emiten konstruksi pelat merah PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp11,3 triliun hingga September 2021.

Jumlah kontrak baru ini naik sebesar 82,3% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp6,2 triliun.

Corporate Secretary ADHI Farid Budiyanto menjelaskan, kontrak baru ini didominasi oleh sektor konstruksi, yakni mencapai 91%, kemudian diikuti properti sebesar 8%, dan sisanya lini bisnis lainnya.

“Selain lini bisnis, kontrak ini juga meliputi berbagai tipe pekerjaan yang terdiri dari proyek gedung sebesar 27 persen, jalan dan jembatan sebesar 32 persen, proyek infrastruktur lainnya seperti pembuatan bendungan, bandara, jalur kereta api, dan proyek energi, serta proyek lainnya sebesar 41% persen,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 14 Oktober 2021.

Berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru yang bersumber dari pemerintah sebesar 34%, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebesar 10%, serta proyek kepemilikian swasta/lainnya sebesar 56%.

Untuk kuartal IV tahun ini, kata Farid, ADHI tengah mengikuti proses tender di beberapa proyek perkeretaapian, infrastruktur, gedung, dan lainnya.

Melalui proses tender tersebut, perseroan optimistis dapat memperoleh tambahan kontrak baru sebesar 20%-25%.

Sebagai informasi, pada periode Sembilan bulan pertama tahun ini, ADHI mencatat laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp8,28 miliar. Laba tersebut naik 20% yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp6,9 miliar.

Namun sebaliknya, pendapatan perseroan periode ini turun 19,5% dari Rp5,52 triliun per semester I-2020, menjadi Rp4,44 triliun. Pendapatan tersebut berasal dari jasa konstruksi sebesar Rp3,58 triliun, EPC sebesar Rp106,3 miliar, properti atau real estat sebesar Rp377,7 miliar, dan investasi infrastruktur Rp371,4 miliar.

Di sisi lain, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan, dari Rp4,7 triliun per enam bulan pertama 2020, menjadi Rp3,7 triliun per semester I-2021.

Adapun total liabilitas ADHI mencapai Rp33,35 triliun, naik dari Rp32,52 triliun per akhir tahun lalu.  Untuk total ekuitas, jumlahnya naik meski tipis, yakni Rp5,57 triliun menjadi Rp5,58 triliun per semester I-2021.

Hingga semester I tahun ini, total aset perseroan mencapai Rp38,93 triliun, tumbuh dari dari total aset Rp38,09 triliun per akhir Desember tahun lalu.

Berita Terkait