Hepatitis Akut Diduga Masuk ke Indonesia, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya

06 Mei 2022 10:18 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Laila Ramdhini

3 Pasien Anak dengan Hepatitis Akut Meninggal Dunia, Masyarakat Indonesia Diminta Waspada (Freepik.com/Rawpixel.com)

JAKARTA - Hepatitis akut yang sedang melanda dunia diduga sudah masuk ke Indonesia setelah ada tiga anak yang dilaporkan meninggal dunia karena penyakit ini. Untuk mengantisipasi dampak terburuk, sebaiknya masyarakat mengenali gejala-gejala awal dari penyakit ini.

Menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastro Hepatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Hanifah Oswari, hepatitis akut diduga berasal dari Adenovirus, SARS CoV-2, virus ABV, dan sebagainya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga saat ini masih melakukan investigasi melalui pemeriksaan panel virus dan penyelidikan epidemiologi untuk memahami fenomena penyakit ini.

Berhubung penyakit ini lebih berkemungkinan untuk menyerang anak-anak, pemahaman orang tua terhadap gejala awal hepatitis akut menjadi salah satu faktor yang penting untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.

Gejala awal penyakit hepatitis akut di antaranya adalah mual, muntah, sakit perut, diare, dan terkadang disertai pula oleh demam ringan. Apabila air seni berwarna pekat seperti teh dan feses berwarna gelap, artinya gejala penyakit sudah tergolong berat.

Apabila anak mengalami gejala tersebut, sebaiknya orang tua segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan untuk diagnosis awal dan jangan sampai menunggu hingga muncul gejala kuning atau sampai penurunan kesadaran.

Pasalnya, kondisi yang disebutkan di atas merupakan penanda bahwa infeksi hepatitis sudah tergolong berat. Jika pengidap terlambat mendapatkan penanganan medis, momentum dokter untuk menolong pasien pun menjadi sangat kecil.

“Bawalah anak-anak kita ke fasyankes terdekat untuk mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan. Jangan menunggu sampai gejalanya lebih berat  karena kalau berat kita kehilangan momentum untuk bisa menolong lebih cepat. Apalagi kalau sampai sudah terjadi penurunan kesadaran, maka kesempatan untuk menyelamatkannya sangat kecil,” tegas Hanifah.

Hanifah menambahkan, hepatitis akut ini utamanya menyerang lewat saluran pencernaan dan pernafasan. Ia menyarankan agar orang tua lebih meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan tindakan pencegahan, salah satunya dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

“Untuk mencegah dari saluran pencernaan, jagalah kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun, memastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi itu matang, tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain serta menghindari kontak anak-anak kita dari orang yang sakit agar anak-anak kita tetap sehat,” jelas Hanifah melalui keterangan tertulis, Kamis, 5 Mei 2022.

Protokol kesehatan COVID-19 seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas pun dinilai Hanifah dapat mencegah penularan hepatitis akut. 

Tiga Anak Meninggal Dunia

Sebelumnya, di Indonesia ditemukan kasus 3 anak yang dengan dugaan hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya. Ketiganya meninggal dunia dalam kurun waktu berbeda dengan rentang dua pekan terakhir hingga 30 April 2022 saat dirawat di RS Ciptomangunkusumo.

Ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Gejala yang ditemukan pada pasien-pasien ini adalah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran.

Pada ketiga kasus ini, anak berusia 2 tahun sudah mendapatkan vaksinasi hepatitis, usia 8 mendapatkan vaksinasi COVID-19 satu kali dan vaksin hepatitis lengkap, dan usia 11 tahun sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19 dan hepatitis lengkap. Ketiganya negatif COVID-19. Berdasarkan hasil investigasi juga didapati bahwa satu kasus memiliki penyakit penyerta.

“Sampai saat ini ketiga kasus ini belum bisa kita golongkan sebagai penyakit hepatitis akut dengan gejala berat tadi. Tetapi masuk pada kriteria pending klasifikasi karena masih ada pemeriksaan laboratorium yang harus dilakukan terutama pemeriksaan adenovirus dan pemeriksaan Hepatitis E yang membutuhkan waktu antara 10 sampai 14 hari ke depan," ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi.

Berita Terkait