Hebat! Indonesia Mulai Ekspor Beras dan Produk Pertanian ke 61 Negara Rp7,29 Triliun

15 Agustus 2021 07:14 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Indonesia mulai ekspor beras ke Arab Saudi / Dok. Setneg (Setneg.go.id)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo melepas ekspor komoditas pertanian secara serentak dari 17 pintu ekspor atau pelabuhan Indonesia ke 61 negara tujuan ekspor. Total nilai ekspor tersebut mencapai Rp7,29 triliun.

"Hari ini kita akan lakukan ekspor komoditas pertanian secara serentak dari 17 pintu ekspor melalui bandar udara dan pelabuhan laut di berbagai daerah di Indonesia sebagai momentum penguatan ekspor komoditas pertanian Indonesia dan menandai kebangkitan ekonomi nasional di tengah pandemi," ujar Presiden dalam sambutannya secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 14 Agustus 2021.

Jokowi menyampaikan apresiasi kepada para petani dan seluruh insan pertanian yang telah berperan besar memenuhi kebutuhan pangan masyarakat selama pandemi COVID-19. Selain itu, dia juga mengapresiasi peningkatan kinerja ekspor produk-produk pertanian meski terpapar COVID-19.

"Saya ingin menyampaikan penghargaan, apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para petani, peternak, pekebun, pelaku-pelaku usaha agrobisnis, dan pemangku kepentingan pertanian lainnya yang selama masa pandemi telah bekerja keras, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga telah berhasil meningkatkan ekspor produk-produk pertanian," ungkap Jokowi.

Menurut data Kementrian Pertanian, ekspor yang dilepas sebanyak 627,4 juta ton, dengan nilai mencapai Rp7,29 triliun.

Adapun komoditas yang diekspor antara lain produk perkebunan sebanyak 564,6 juta ton, tanaman pangan 4,3 juta ton, hortikultura 7,2 juta ton, peternakan 4 juta ton, dan beberapa komoditas lainnya.

Ekspor pertanian dikirimkan ke sejumlah negara seperti China, Amerika Serikat, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Inggris, Jerman, Rusia, Uni Emirat Arab, Pakistan, dan beberapa negara lain.

Jokowi mengatakan, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mampu bertahan dari hantaman pandemi, antara lain ditunjukkan dengan terus meningkatnya nilai ekspor pertanian pada dua tahun terakhir. 

Ekspor pertanian pada 2020 mencapai Rp451,8 triliun, naik 15,79% dibandingkan dengan 2019 yang angkanya mencapai Rp390,16 triliun.

"Pada semester I-2021 dari Januari sampai dengan Juni 2021, ekspor mencapai Rp282,86 triliun, naik 14,05 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2020, yaitu sebesar Rp202,05 triliun," katanya.

Kepala Negara menegaskan, peningkatan ekspor komoditas pertanian tersebut turut berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani. Hal itu ditunjukkan dengan nilai tukar petani yang terus membaik.

"Pada Juni 2020 nilai tukar petani berada di angka 99,60, secara konsisten meningkat hingga Desember 2020 mencapai 103,25 dan Juni 2021 mencapai 103,59. Menurut saya ini sebuah kabar yang baik yang bisa memacu semangat petani-petani kita untuk tetap produktif di masa pandemi," paparnya.

Ekspor Beras

Terkait dengan ekspor beras yang mulai dilakukan ke Arab Saudi, Presiden meminta jajarannya agar melakukan kalkulasi secara cermat sehingga stok beras untuk kebutuhan dalam negeri bisa tetap diamankan.

"Kalau memang dihitung betul beras kita ini berlebih dan mampu kita ekspor, ya ekspor saja. Tetapi, sekali lagi, dikalkulasi, dihitung bahwa benar-benar stok yang ada itu cukup untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu. Artinya, kebutuhan dalam negeri didahulukan, kalau hitung-hitungan ada sisa, silakan diekspor," ungkapnya.

Jokowi selanjutnya meminta para kepala daerah untuk menggali potensi ekspor di daerahnya masing-masing.

Dia meminta agar komoditas-komoditas pertanian yang potensial untuk dikembangkan segera digarap.

Tak hanya itu, Jokowi juga meminta agar petani diperkuat dengan akses permodalan, inovasi teknologi, dan pendampingan.

"Saya sudah banyak berbicara dengan dirut-dirut perbankan agar pertanian mendapatkan perhatian khusus karena ini ada kesempatan, seperti tadi disampaikan oleh Menteri Pertanian mengenai porang. Ada pasar yang besar yang bisa kita masuki. Tetapi juga ekspornya jangan mentahan, apalagi masih dalam bentuk umbi-umbian. Ya paling tidak sudah dalam bentuk tercacah, atau syukur bisa barang jadi atau beras porang yang sudah jadi. Target kita memang hilirisasi," pungkasnya.

Presiden juga meminta agar para petani disambungkan dengan rantai pasok baik nasional maupun global. Dengan demikian, para petani dan pelaku-pelaku usaha pertanian dapat dengan mudah mengekspor produknya, sehingga bisa berkembang menjadi sentra-sentra produksi pertanian yang berorientasi ekspor.

"Saat ini dari 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, baru 293 kabupaten/kota yang memiliki sentra komoditas pertanian unggulan ekspor, baik itu produk sawit, karet, kopi, dan beberapa komoditas lain yang diminati pasar global. Masih banyak komoditas yang sangat potensial untuk dikembangkan" jelasnya.

Sejumlah komoditas pertanian lainnya yang masih memiliki potensi untuk diekspor antara lain sarang burung walet, porang, minyak atsiri, bunga melati, tanaman hias, edamame, serta produk holtikultura lainnya.

Namun, Jokowi mengingatkan bahwa tidak cukup hanya fokus untuk meningkatkan produksi. Menurutnya, yang penting juga adalah penguasaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

"Melakukan hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan menghitung skala ekonomi dengan klasterisasi, ini penting sekali, serta melakukan mekanisasi pengembangan produk dan juga promosi produk berbasis digital. Ini juga harus kita kembangkan agar produk-produk pertanian kita makin dikenal luas dan makin kompetitif," paparnya.*

Berita Terkait