Hebat! Harita Nickel Produksi Baterai Mobil Listrik di Maluku Utara

19 Juni 2020 08:32 WIB

Penulis: Sukirno

Harita Nickel merogoh kocek Rp14 triliun untuk investasi pabrik baterai mobil listrik ini. / Harita Nickel

TERNATE – Perusahaan tambang Harita Nickel akan memproduksi baterai mobil listrik dengan membangun industri di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara. Harita Nickel merogoh kocek Rp14 triliun untuk investasi pabrik baterai mobil listrik ini.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Maluku Utara, Nirwan MT Ali mengatakan saat ini pembangunan sedang memasuki tahap konstruksi akhir.

“Maluku Utara tidak lama lagi akan memiliki industri bahan baku untuk baterai mobil listrik. Saat ini, pabrik bahan baku baterai mobil listrik tersebut sedang dibangun oleh Harita Nickel,” kata dia dilansir Antara, Kamis, 18 Juni 2020.

Nirwan mengungkapkan industri yang akan berdiri di Maluku Utara itu merupakan yang pertama kali di Indonesia. Industri ini tergolong baru dengan teknologi mutakhir.

Industri ini memiliki nilai investasi yang cukup besar dan membutuhkan tenaga kerja profesional yang tidak sedikit. Nilai investasinya mencapai Rp14 triliun dengan mayoritas pemegang saham berasal dari dalam negeri.

“Di Indonesia pertama kali ada di Maluku Utara, nantinya kita harapkan industri ini bisa berproduksi pada akhir 2020. Industri ini akan mengolah nikel kadar rendah menjadi bahan baku baterai mobil listrik, yakni nikel sulfat dan kobalt sulfat. Mobil listrik sendiri lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan transportasi dengan BBM (bahan bakar minyak),” katanya.

Harita Nickle telah memiliki pabrik pengolahan dan pemurnian tambang alias smelter yang telah beroperasi sejak 2016. Industri pengolahan dan pemurnian dengan teknologi yang mutakhir pun sedang dibangun saat ini.

“Salah satunya membangun pabrik pengolahan dan pemurnian nikel dengan proses hidrometalurgi yang ramah lingkungan karena pemakaian energi listriknya rendah. Hasilnya, bahan baku utama dari katoda baterai mobil listrik,” katanya.

Pemprov Maluku Utara berharap proses konstruksi industri maju ini dapat berjalan dengan lancar dan harus di dukung oleh semua pihak. Industri baru ini akan membutuhkan 1.920 orang tenaga kerja profesional, belum termasuk kontraktor dan industri pendukung lainnya.

“Secara bertahap, kita akan mengelola industri tersebut dan dukungan TKA (tenaga kerja asing) semakin lama akan semakin sedikit seiring kemajuan dan profesionalitas anak-anak kita. Apalagi investasi ini mayoritas sahamnya adalah investor dalam negeri, negeri kita sendiri,” katanya. (SKO)

Berita Terkait