Hawk 209 Jatuh, Ini Sejarah dan Kemampuan Jet Tempur Tersebut

RIAU- Sebuah pesawat tempur Hawk 209 Angkatan Udara Indonesia jatuh di Kampar, Riau Senin 15 Juni 2020.  Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI Fajar Adriyanto mengatakan kecelakaan pesawat itu terjadi di dekat runway 36 Landasan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

“Pada hari ini, Senin (15 Juni 2020) pukul 08.13 WIB telah terjadi kecelakaan pesawat tempur jenis BAE Hawk 209 dengan nomor registrasi TT-0209,” ujar Fajar.

Pesawat diketahui sebagai BAE Hawk 209 dengan nomor registrasi TT-0209 dan dipiloti Lettu Pnb Apriyanto Ismail dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Pilot selamat dengan kursi pelontar dan dibawa ke RSAU dr. Soekirman Lanud Rsn Pekanbaru untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Hawk 209 adalah bagian dari Hawk 200 yang menjadi modifikasi paling radikal pesawat jenis ini. Awalnya ditunjuk Hawker P.1182, Hawk yang dibangun BAE System dikembangkan sebagai pelatih. Tidak ada prototipe yang dibangun dan lima pesawat pertama dari jalur dialokasikan untuk uji coba penerbangan dimulai pada 21 Agustus 1974.

Pengiriman dimulai pada tahun 1976, dan hingga tahun 2001 Hawk T.Mk 1 dan T.Mk 1A tetap sebagai satu-satunya RAF satu-satunya pelatih jet dasar dan tingkat lanjut.

Hawk 209 TNI AU

Pada November 1981, Angkatan Laut Amerika memilih Hawk sebagai pelatih generasi baru, dan akhirnya membeli T-45A Goshawk yang berbasis di Hawk Mk 60.

Varian ekspor Hawk dua kursi meliputi seri Mk 50 yang berdasarkan erat pada Hawk T.Mk 1 dan dijual kepada sejumlah negara termasuk Finlandia, Indonesia dan Kenya. Seri Mk 60 yang ditingkatkan untuk dibeli Abu Dhabi, Dubai, Kuwait, Arab Saudi, Korea Selatan, Swiss, dan Zimbabwe.

Sementara seri Mk 100 merupakan varian yang banyak dimodifikasi  termasuk dengan rel peluncuran rudal ujung sayap, avionik serangan lanjutan, sensor infra merah atau laser. Pesawat Mk 100 diekspor ke Abu Dhabi, Malaysia, dan Oman.

Perkembangan radikal dan mengejutkan dari badan pesawat Hawk diwakili oleh seri Mk 200. Pesawat udara superioritas dan serangan darat satu kursi ini memiliki radar APG-66H dalam radom hidung yang direvisi dan sepasang meriam ADEN 25 mm. Ekspor varian ini telah dilakukan ke Indonesia, Malaysia, dan Oman.

Pesawat memiliki panjang 11,17 m, bentang sayap 9,39 m, berat kosong    3,64 ton dan berat lepas landas maksimum 7,75 ton. Pesawat mengunakan mesin tunggal Rolls-Royce/Turbomeca Adour Mk 151-01 turbofan dan mampu melesat dengan kecepatan 1 .038 km/jam serta radius tempur 556 – 1.039 km (tergantung varian.).

Selain membawa meriam, pesawat juga bisa dipersenjatai rudal               udara ke udara AIM-9L Sidewinder  dan bom 680 kg.

Tags:
jet tempurpesawat militerteknologi militer
%d blogger menyukai ini: